SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
BERANGKAT


__ADS_3

Sepuluh menit kemudian.


Revan dan Reana tiba dirumah, Revan segera mematikan motornya lalu segera turun menyusul sang adik yang wajahnya begitu kusut seperti pakaian yang tidak pernah di setrika.


"Aku pulang," ucap Reana kemudian berjalan mendekat kearah sofa tempat sang ibu duduk.


Reana mendudukkan dirinya disamping sang ibu, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu.


"Kamu kenapa, Re?" tanya Ana yang penasaran pada sang putri.


"Tidak apa-apa, Mom. Cuma capek aja dari sekolah," ucap Reana dengan wajah cemberut.


"Aku pulang," ucap Revan yang baru saja masuk dan kemudian berjalan mendekati sang ibu.


Belum sempat Revan duduk sempurna diatas sofa, Reana sudah berbicara dengan nada kesalnya.


"Kalau mau pergi sekolah pagi banget kayak tadi, bangunin Reana! biar berangkat bareng," kesal Reana pada kakaknya itu.


Ana dan Revan terdiam mendengar ucapan Reana yang seperti anak berusia 5 tahun, yang kesal pada kakaknya karena ditinggal pergi kepasar malam.


"Iya, lain kali tidak lagi," ucap Revan dengan tersenyum kecil pada adiknya itu.


"Gimana sekolahnya hari ini?" tanya Ana pada kedua anaknya itu.


"Ba ...," ucapan Revan terhenti saat Reana tiba-tiba berbicara dengan nada kesalnya.


"Buruk, sangat buruk," ucap Reana malas.


Revan dan Ana mengernyit bingung saat mendengar ucapan Reana yang tidak seperti biasanya.


"Ada apa? apa ada masalah disekolah kamu? apa ada orang yang ngangu kamu?" tanya Revan berturut-turut pada adik perempuannya itu.


"Tidak ada kok, Kak. Rere naik ke kamar dulu, Mom, kak Revan," ucap Reana kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Revan dan Ana lagi-lagi terdiam melihat hal itu, benar-benar aneh menurut mereka.


"Aku juga ke kamarku dulu, Mom," ucap Revan dan Ana pun menganggukkan kepalanya.


Belum 5 langkah Revan melangkahkan kakinya, terdengar suara seseorang yang berjalan masuk dengan langkah gontay, terlihat begitu lelah.


"Aku ... pulang," ucap Revin dengan langkah kaki yang terlihat lelah.


Revin melewati Revan kemudian segera mendudukkan dirinya disofa panjang tempat sang ibu, kemudian dia pun membaringkan kepalanya diatas paha sang ibu.


"Kamu kenapa, Vin?" tanya Ana pada putranya yang kini bertingkah seperti ayahnya yang setiap pulang kerja, pasti selalu bermanja padanya.


"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Revan dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


Revin mendudukkan diri kemudian menatap sang kakak, lalu sang ibu yang juga menatapnya.


"Tidak apa-apa, Brother. Hanya sedang PMS saja," ucap Revin kemudian mencium pipi sang ibu lalu beranjak dari duduknya dan naik ketangga menuju kamarnya.


Revan dan Ana terkejut mendengar hal itu, mereka kemudian saling bertukar pandang satu sama lain.


"Aku juga naik kekamar dulu, Mom," pamit Revan segera menaiki tangga untuk segera masuk kekamarnya.


Ana semakin terdiam ditempatnya, lalu segera mengelengkan kepalanya dan beranjak dari duduknya untuk segera masuk kedapur dan menyiapkan makan malam, dan juga minum air dingin, untuk menyegarkan fikirannya.


Pukul 8 malam.


Mereka kini makan malam bersama, dengan sesekali Arian bercanda dengan kedua putranya, kadang mereka menjawab, kadnag juga hanya terdiam.


'Sepertinya, mood mereka bertiga sedang buruk,' ucap Arian dalam hati menatap ketiga anaknya.


"Daddy ingin berbicara, ini hal penting," ucap Arian membuat ketiga anaknya, menoleh padanya.


"Daddy akan pergi ke negara S untuk urusan bisnis beberapa hari, jadi mungkin ...," ucapan Arian terhenti kala Revan membuka suara membuat Arian harus menjeda ucapannya.


"Urusan perusahaan ya, Dad. jika hal yang bisa diselesaikan 2 hari, aku bisa mengantikan Daddy untuk pergi kesana, jadi Daddy masih bisa mengurus perusahaan disini, jadi Daddy tidak perlu keluar dari kota atau pun Negara," ucap Revan dengan tersenyum kecil pada sang ayah.


"Baiklah, sepertinya itu ide yang bagus, lagi pula hanya mengecek perusahaan disana, perkembangan dan lain-lainnya, mungkin hanya butuh 2 atau 3 haru saja, tapi kalau Daddy yang pergi ... mungkin akan lama," ucap Arian kemudian memakan makanannya dan menatap putranya itu.


"Jadi kamu bisa berangkat hari minggu ini, maaf Daddy jadi harus merepotkanmu lagi," ucap Arian dengan raut wajah sedikit bersalah, bersalah karena harus merepotkan putra sulungnya itu.


Makan malam pun berlangsung, kini dengan keadaan yang cukup berisik, tidak seperti tadi yang sunyi senyap.


* * *


Pukul 6 pagi.


Hari ini adalah hari minggu, hari dimana Revan akan berangkat ke negara S untuk menecek perkembangan perusahaan sang ayah disana.


Revan sudah bersiap dengan setelan jasnya yang begitu cocok pada tubuhnya.


Revan menuruni anak tangga untuk segera berpamitan pada ayah dan ibunya.


"Pagi, Mom, Dad," ucap Revan pada Ana yang baru saja keluar dari dapur, sedang Arian sudah duduk dimeja makan.


"Wah, kamu tampan sekali sayang," puji Ana pada Revan yang terlihat begitu dewasa dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja putih sebagai dalemannya.


Revan hanya tersenyum mendengar pujian dari sang ibu.


"Bukankah itu wajar sayang, daddynya saja ganteng begini," puji Arian pada dirinya sendiri.


Ana hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan suaminya itu, ya meski memang benar adanya.

__ADS_1


Meski sudah berumur 40 lebih, Arian tetap menawan dan juga tampan, yang membuat sang istri semakin menyukainya, dan juga para wanita diluar sana.


"Iya-iya, suamiku ini memang sangat tampan, membuatku tidak bisa move on," ucap Ana dengan mencubit pipi suaminya gemas.


Revan yang melihat hal itu, hanya diam tidak berniat berbicara, dengan pandangan lurus, datar kedepan.


Ketika sedang kasmaran begini, mereka bahkan lupa jika sudah memiliki anak, dan masih bertingkah seperti pengantin baru, bahkan selalu menganggap dunia milik berdua.


"Ehem," dehem Revan menyadarkan ayah dan ibunya, bahwa dirinya masih ada disana.


Ana hanya tersenyum kecil kemudian kembali masuk kedapur, untuk menyiapkan sarapan pagi yang sempat tertunda, karena menyiapkan kopi Arian.


"Padahal tadi sudah siap, tapi kamu malah mengangu," ucap Arian pada putranya itu yang hanya terkikik.


"Daddy, aku 'kan akan pergi ke negara S sebentar lagi, jadi daddy bisa bermanja bersama dengan mommy sepuasnya, untuk sekarang jangan dulu, Revan belum berangkat," ucap Revan dengan tersenyum kecil.


Arian hanya tersenyum mendengar ucapan putranya itu.


"Kalau kamu tidak ada, masih ada Revin yang suka menganggu, kalau Reana selalu mengerti, tapi Revin ..." ucap Arian dengan mengelengkan kepalanya saat mengingat setiap kali ia dan Ana akan bermesraan pasti selalu ada Revin yang menganggu kecuali jika itu didalam kamar.


Sepuluh menit kemudian.


Revan selesai dengan sarapannya, ia pun berpamitan pada ayah dan ibunya. Arian dan Ana mengantar Revan sampai didepan pintu rumah, karena Revan mengatakan tidak perlu mengantarnya ke bandara cukup sopir saja.


"Hati-hati dijalan, jika ada masalah, segera telfon daddy," ucap Arian dan Revan menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Hati-hati dijalan ya,sayang," ucap Ana dan Revan lagi-lagi menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, aku berangkat dulu, Mom, Dad. Beritahu Revin dan Reana nanti, Bye." Ucap Revan kemudian berjalan dan masuk kedalam mobil dan dengan sigap sang sopir menutup pintu dan segera masuk kekursi kemudi.


Arian dan Ana kembali masuk kedalam rumah dan terkejut dengan Revin dan Reana yang berlari menuruni anak tangga.


"Mom, Dad, Kak Revan udah berangkat?" tanya Reana dengan nafas yang memburu karena terkejut ketika melihat jam diatas nakas disamping tempat tidurnya dan segera turun dari tempat tidur untuk mengantar sang kakak kebandara.


"Brother mana, mom, dad?" tanya Revin yang berdiri disamping Reana dengan memakai jaketnya berniat mengantar sang kakak kebandara.


Ana dan Arian saling bertukar pandang satu sama lain, kemudian menatap kedua anaknya itu.


"Dia baru saja pergi," ucap Ana yang di angguki oleh Arian.


Revin dan Reana yang mendengar hal itu, lemas seketika dan berjalan malas kearah sofa dan menidurkan tubuh mereka masing-masing diatas sofa panjang.


'Dasar, tidak tahu menunggu sebentar lagi apa,' kesal Revin dalam hati dengan raut wajah cemberut.


Disisi lain, Revan terus menatap keluar jendela mobil dengan perasaan yang senang sekaligus bimbang.


'Tidak lama lagi, aku akan bertemu dengannya saat sudah sampai dinegara S, dan juga, mencoba mencari tahu, siapa orang itu,' ucap Revan dalam hati dengan ekspresi wajah datarnya.

__ADS_1


__ADS_2