SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
RAWAT


__ADS_3

Revan menatap tajam kedua orang itu, bisa-bisanya meminta Rania untuk mengupaskan buah untuk mereka. Sama sekali tidak bisa Revan terima.


"Tidak boleh! Kalian kupas sendiri dong," ucap Revan dengan wajah datarnya dan menatap tajam dua sahabatnya itu.


Carlos dan Reon berdecak kesal, sedang Revin menatap aneh kakaknya itu.


'Mulai lagi sifat posesifnya,' ucap mereka bertiga dalam hati, sedang Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Kamikan juga sakit, Van. Lagipula Rania tidak masalah jika mengupas buah untuk kami, kan Rania?" ucap Reon membuat Rania tersadar dan menganggukkan kepalanya.


"Tetap saja tidak boleh!" ucap Revan tidak ingin dibantah.


'Dasat bucin akut,' ucap Reon dan Carlos dalam hati.


"Ngga sadar diri!" ucap Revan tau apa yang difikirkan oleh dua sahabatnya.


Rania mengerjapkan matanya, bingung dengan apa yang harus dilakukan sekarang. Tetap mengupaskan buah untuk Reon dan Carlos atau tidak?


"Sayang," panggil Revan membuat wajah Rania merona merah, sedang Revin, Reon dan Carlos mendadak mual dan segera berlari kecil kekamar mandi dengan membawa infus masing-masing.


Rania memiringkan kepalanya bingung dengan tiga pria yang mendadak masuk ke kamar mandi, entah karena apa.


"Tidak perlu mengupaskan mereka buah. Cukup aku saja," ucap Revan membuat Rania mengangguk kecil.


Rania segera mengambil pisau dan buah, lalu berjalan mendekat kearah Revan. Rania duduk dikursi disamping Revan lalu sedikit melirik kearah piring diatas meja ditengah-tengah brangkar Revan dan Revin.


"Itu buah yang dipotong-potong oleh Daddy," ucap Revan yang menyadari jika Rania menatap kearah piring itu.


Rania mengangguk mengerti kemudian mulai mengupas jeruk yang ia ambil dimeja tadi, sedang buah apel dan pisau ia taruh dimeja. Karena sepertinya Revan ingin memakan jeruk terlebih dahulu.


"Maaf membuatmu khawatir," ucap Revan membuat Rania mendogak dan menatapnya.


Revan tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Rania yang kini merona merah.


"Aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik dan kuat dari sekarang, agar dimasa depan tidak ada yang bisa menganggu kehidupan kita," ucap Revan dengan senyum diwajahnya.


Rania tersenyum dan mengangguk meski tidak terlalu mengerti arah pembicaraan Revan. Tapi ia tahu, jika hal itu pasti akan berujung pada kebahagian mereka.

__ADS_1


Selesai mengupas jeruk, ia berdiri dari duduknya, lalu memberikan Revan jeruk itu dan bersiap untuk memotong buah. Tapi dihentikan oleh Revan.


Rania menoleh dan menatap Revan yang juga menatapnya dengan tangan yang memengang tangan Rania.


"Mendekat!" ucap Revan yang terdengar seperti perintah ditelinga Rania.


Rania kemudian mendekatkan kepalanya kewajah Revan hingga pria itu menarik tengkuknya dan mendaratkan ciuman dibibir gadisnya.


Sementara itu, pintu kamar mandi sedikit terbuka, tapi seseorang didalam enggan untuk keluar.


'Dasat brother sialan! Giliran dia main tarik aja, gilirna aku malah dingangguin, sialan!' umpat kesal Revin dengan menatap sang kakak yang tengah berciuman dengan Rania dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


Revin menutup pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu menoleh pada dua orang yang sudah menatapnya.


"Sepertinya kita harus menunggu selama dua puluh menit, dia sedang asyik diluar," ucap Revin dengan wajah datarnya.


Reon dan Carlos menghembuskan nafas mereka, lalu mulai menyandarkan diri didinding kamar mandi.


"Kakakmu itu benar-benar sialan! Masa melakukan itu saat kita ada sih, sekalinya kita yang melakukannya malah dia yang menganggu," ucap kesal Carlos dengan mendegus kesal.


'Ngga nyadar diri, Car!' ucap Revin dalam hati dan menatap malas Carlos maupun Reon, lalu mengingat saat dirinya ingin berduan dengan Vivian. Namun terganggu karena kehadiran tiga orang nyamuk penganggu.


Sudah dua puluh menit berada didalam kamar mandi, ingin keluar dari sana. Tapi ada pemandangan tidak enak diliat diluar kamar mandi itu.


"SAMPAI KAPAN KALIAN MAU DIDALAM!" terdengar suara teriakan Revan dari luar kamar mandi, membuat ketiga pria itu tersentak dna menoleh dengan malas pada pintu kamar mandi yang tertutup.


"Ini juga karena kamu!" lirih mereka bertiga lalu berjalan perlahan ke pintu dan membukanya lebar-lebar.


Mereka melangkah perlahan keluar kamar mandi, digantikan oleh Revan yang masuk. Mereka menahan tawa melihat hal itu, karena tau apa yang akan dilakukan oleh pria itu.


'Mam**s! Ganjaran membuat iri para pejuang LDR,' ucap mereka bertiga dalam hati dengan sesekali cekikian tidak jelas, membuat Rania yang menatap mereka menjadi bingung sendiri.


Saat Revin ingin naik ke brangkarnya, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, menampilkan tiga orang pria berjalan masuk kedalam.


Rafael dan Carlson mengernyit melihat keberadaan Rania didalam kamar itu, sedang Arian tersenyum kecil melihat gadis yang sudah meluluhkan hati putranya.


"Rania!" panggil Arian membuat gadis itu mendogak dan menatapnya, "Sudah lama datangnya?" tanya Arian dengan tersenyum, sedang Carlson dan Rafael berjalan menghampiri putra mereka yang duduk disofa.

__ADS_1


"Iya, paman," jawab Rania dengan tersenyum.


Pintu kamar mandi terbuka, membuat mereka semua menoleh kearah Revan yang berjalan keluar dari kamar mandi.


Arian, Calrson dan Rafael menatap aneh pada Revan, yang keluar dengan berkeringat keningnya, membuat mereka bertanya-tanya lalu menatap pada Rania.


Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, saat Arian, Carlson dan Rafael menatapnya.


'Ada apa ini? Kok tiba-tiba menatapku?' ucap Rania dalam hati, terus bertanya pada dirinya sendiri.


"Daddy," lirih Revan dengan berjalan pelan mendekat ke brangkarnya.


"Kalian sudah makan?" tanya Arian membuat empat remaja itu menatapnya.


"Belum," ucap mereka serempak.


Revan terus berjalan mendekat ke brangkarnya, dan perlahan-lahan naik ke brangkarnya.


Revin melirik sekilas kakaknya itu, lalu kembali fokus kedepan, sedang Rania mendadak gugup sendiri karena Arian yang terus menatapnya dengan tersenyum.


"Kalau begitu, aku akan pergi untuk membeli bubur untuk kalian," ucap Arian membuat Rafael dan Carlson mengernyit.


'Tumben tidak memerintah orang lain,' ucap Rafael dan Carlson dalam hati dan menatap aneh pada Arian.


"Ayo, Rania. Temani paman pergi beli bubur," ajak Arian dengan tersenyum membuat Revan terdiam.


"Baik, paman," ucap Rania dan kemudian berjalan mendekat pada Arian.


Arian dan Rania pun keluar dari kamar rawat itu, meninggalkan Revan yang terdiam.


"Daddy tidak akan macam-macam dengan menantunya," ucap Revin tiba-tiba membuat semua orang menoleh padanya.


'Menantu? maksudnya?' ucap Carlson dan Rafael dalam hati, penuh dengan tanda tanya.


* * *


Hanya ada keheningan antara Arian dan Rania, gadis itu terus saja mere**s jari-jarinya karena gugup. Arian yang melihat hal iti tersenyum kecil.

__ADS_1


"Tidak perlu gugup, Rania. Santai saja, anggap saja seperti berjalan dengan ayahmu," ucap Arian membuat gadis itu menoleh padanya.


"Apapun yang terjadi, jangan pergi dari kehidupan Revan ya," ucap Arian lagi dengan menatap Rania yang bingung dengan ucapannya.


__ADS_2