
Revin menghembuskan nafasnya sedang Vivian memaksakan senyum dibibirnya.
Revin menoleh pada Vivian dan merasa ibah melihat gadis itu. Revin lagi-lagi menghembuskan nafasnya lalu menarik pinggang Vivian agar semakin merapat padanya, lalu tersenyum.
Semua orang terkejut melihat hal itu begitu pun dengan wanita yang berada disamping Vino yang tidak lain adalah pacar Vino.
Vivian menoleh pada Revin yang tersenyum mengejek pada Vino, lalu berbicara.
"Aku ucapkan selamat ya, maaf aku tidak membawa hadiah karena lupa," ucap Revin dengan tangan yang merangkul pinggang Vivian erat.
"Tidak apa-apa, santay saja," ucap Vino dengan tersenyum pada Revin.
"Aku heran padamu, bisa-bisanya kau memilih wanita yang sama sekali tidak peduli denganmu dan menyia-yiakan yang setia, sungguh bodoh!" ucap Revin membuat Vino mengernyit bingung.
"Baiklah, aku rasa sudah saatnya kami pulang, ini sudah larut dan Vivian hatus istirahat agar besok bisa belajar dengan baik disekolah, kalau begitu kami permisi," ucap Revin tersenyum meremehkan kemudian berbalik dan menarik tangan Vivian lembut untuk segera keluar dari rumah itu.
Revin menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan ayah Vino yang baru saja masuk keruang tamu.
Ayah Vino terkejut melihat siapa yang tengah berdiri dihadapannya.
Revin menatap dingin pada pria parubaya itu lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dengan melewati pria parubaya itu tanpa menyapa.
Ayah Vino terdiam melihat hal itu kemudian menoleh pada putranya yang juga terdiam melihat seseorang dengan lancangnya melewati sang ayah tanpa menyapa.
Vivian hanya terdiam tidak berniat untuk berbicara karna pasti pria dihadapannya itu sedang kesal setengah mati.
Saat Revin tiba didepan motornya, Revin melepaskan tangan Vivian yang ia pengang kemudian segera mengambil helm yang digunakan oleh Vivian tadi.
Revin memakaikan Vivian helm kemudian memakai helmnya dan segera naik ke motornya.
"Cepat!" titah Revin membuat Vivian tersentak dan segera naik ke motor dan memeluk pinggang Revin.
Revin segera melajukan motornya untuk meninggalkan pekarangan rumah itu untuk segera mengantar Vivian pulang.
Di dalam perjalanan, Vivian hanya terdiam dan semakin memeluk erat pinggang Revin kala mengingat semua hal tentang pria yang ia cintai tapo sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian.
Revin menghentikan motornya didepan gerbang kediaman Carlson, Vivian segera turun dari motor lalu mengucapkan terima kasih pada Revin.
"Terima kasih," ucap Vivian dengan tersenyum kecil pada Revin dengan kepala yang menunduk.
"Jangan pernah berharap pada pria seperti itu, ingatlah, masih banyak pria diluar sana yang akan mencintaimu dengan tulus, percuma jika hanya berjuang sendirian seperti itu, jadilah gadis yang kuat, lupakan pria itu mulailah membuka hati untuk orang lain," ucap Revin kemudin mengeluk puncuk kepala Vivian.
Vivian terdiam mendengar Revin mengatakan ha seperti itu, ia tau jika Revin sangat peka dengan hal seperti itu hanya dengan melihat raut wajah orang lain.
Revin kemudian melajukan motornya meninggalkan Vivian yang masih terdiam ditempatnya untuk segera pergi kesuatu tempat.
'Apa yang dia katakan ada benarnya, aku tidak percaya akan diceramahi olehnya,' ucap Vivian dalam hati dengan tersenyum kecil.
Vivian kemudian masuk kedalam rumahnya untuk segera beristirahat, meski pun tadinya ia ingin sekali menikmati pesta ulang tahun Vino, tapi ya, Revin sudah menariknya untuk segera pulang, jadi menurut saja.
Vivian membuka pintu rumah dan berjalan memasuki rumah dimana sudah ada ayah dan ibunya yang duduk disofa ruang tamu.
"Vivi, sudah pulang?" tanya Fania pada putrinya itu.
"Tadi pergi sama siapa?" tanya Fania dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Vivian hanya menundukkan kepalanya ingin menjawab tapi takut jika ibunya itu akan marah nanti, karna dia tidak pergi dengan sang kakak.
"Eh Vivi, dari mana? eh, itu 'kan helmku, pantesan aku cari diparkiran rumah sakit dan sama sekali tidak menemukannya, ternyata kamu yang bawa!" ucap Carlos yang baru saja turun dari tangga dan segera menghampiri Vivian lalu mengambil helmnya.
"Vivian ... tadi pergi sama siapa?" tanya Fania lagi pada putri semata wayangnya itu.
Carlson hanya terdiam melihat hal itu tidak berniat untuk berbicara karna bisa-bisa ia akan kena imbasnya.
"Tadi Vivi pergi dengan Revin, Ma. cuma pergi buat anterin kado aja kok," ucap Vivian kemudian kembali menundukkan kepalanya.
Carlson dan Carlos terdiam mendengar hal itu.
Fania bernafas lega mendengar jika Vivian pergi bersama dengan Revin, karna Fania sangat tidak suka jika anak gadisnya pergi dengan pria lain yang tidak dikenal, karna bisa saja mereka melakukan hal yang tidak-tidak, sedang Revin sudah seperti pria yang cukup dewasa dan tahu apa yang baik dna benar, terlebih lagi anak dari Ana dan Arian, sudah pasti di didik dengan baik.
__ADS_1
"Hah! Revin yang anterin kamu, tumben tuh orang baik, apa jangan-jangan kerasukan kali ya," ucap Carlos tidak percaya jika Revin yanh membonceng Vivian tanpa ia minta, benar-benar tidak seperti biasanya.
"Sudah, naiklah ke kamarmu, lalu tidur karena besok kamu sekolah," ucap Fania dan Vivian pun mengangguk kemudian berjalan menaiki tangga untuk segera pergi ke kamarnya.
"Carlos, bukankah kamu juga harus pergi sekolah besok, cepat kembali tidur sana!" titah Fania dan Carlos pun memberi hormat layaknya seorang tentara yang memberi hormat pada komandannya.
"Siap, Komandan," ucap Carlos kemudian berlari menaiki tangga untuk segera kekamarnya.
Fania terdiam melihat hal itu, begitu pun dengan Carlson.
* * *
Dua puluh menit kemudian
Revin menghentikan motornya saat tiba dimarkas Dragon night, Revin segera turun dari motor dan membuka helmnya lalu berjalan masuk kedalam markas.
Semua anggota Dragon night yang melihat Revin, segera membungkukkan badannya pada bos mudanya itu.
Revin mendekat pada sebuah pintu bercorak hitam polos, Revin membuka pintu itu dan terlihat 8 orang yang terikat pada kursi dengan mulut yang disumpal dengan kain.
"Selamat datang, Tuan Revin," ucap Desta dengan membungkukkan badannya pada Revin yang kini sudah berada didepannya.
"Hem, apa hanya ini uncle," ucap Revin dengan menatap sinis pada 8 orang yang terikat dikursi.
"Iya, tuan. soal perusahaannya tinggal menunggu perintah dari anda saja, dan setelah itu akan kami hancurkan," ucap Desta membuat Revin mengangguk mengerti.
Revin mendekat kearah pria parubaya yang diikat dikursi yang tidak lain adalah ayah dari pria pelaku penculikan Rania.
"Apa kau tau dimana letak kesalahan kalian?" tanya Revin pada pria parubaya itu dengan nada suara dingin.
Revin mengambil kain yang menyumpal mulut pria parubaya itu kemudian membuangnya kesegala arah.
"Cih ... anak kecil sepertimu berani berkata seperti itu!" sarkas pria parubaya itu pada Revin.
Revin hanya berwajah datar dan sedetik kemudian terdengar suara tembakan mengema diruanga itu yang kedap suara.
__ADS_1
Ke 7 orang itu terkejut dan kemudian berteriak dengan suara yang tertahan melihat kejadian dihadapan mereka.