
Revan dan Reon tengah berada dikantin sekolah mereka untuk makan siang dengan keadaan hening.
Revan memakan makanannya dengan lahap tidak berniat berbicara.
"Kau terlihat pucat Revan, sebaiknya kita ke UKS!" ucap Reon khawatir pada sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja, kau tenanglah," ucap Revan singkat padat dan jelas.
Reon hanya bisa menghembuskan nafasnya, ia tidak bisa memaksa orang dihadapannya itu untuk ke UKS, karena sudah pasti akan terus menerus menolak.
"Hey, Rania anak pindahan itu benar-benar sudah keluar dari sekolah ini?"
"Aku dengar sih iya, katanya ia pindah lagi ke negara S,"
Bisik-bisik para siswi teman sekelas Rania dan duduk tidak jauh dari meja Revan dan Reon.
Reon hanya mengelengkan kepalanya mendengar hal itu dan memilih untuk melanjutkan makannya, Reon melihat Revan dihadapannya yang hanya terdiam dengan raut wajah yang sulit ia baca.
'Dia kembali ke negara S? padahalkan dia belum sebulan disini, kenapa pindah lagi,' ucap Revan dalam hati, entah mengapa mendadak ia merasa sesuatu hilang dari dirinya.
"Revan, kau kenapa?" tanya Reon membuat Revan tersadar dari lamunannya, kemudian menatap Reon dengan tatapan datar.
"Aku tidak apa-apa," ucap Revan beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kantin.
Reon hanya terdiam melihat Revan yang berjalan keluar dari kantin.
'Ada apa dengannya?' tanya Reon dalam hati pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Revan mrmbasuh wajahnya beberapa kali didalam toilet didepan westafel. Revan menatap pantulan dirinya dicermin yang terlihat kacau.
"Bukankah bagus jika dia pergi, dia akan aman dinegara S, dan juga akan jauh dari bahaya ... tapi kenapa tiba-tiba aku merasa kesepian," ucap Revan pada dirinya sendiri.
"Ada apa denganku? tidak mungkin 'kan aku menyukainya?" tanya Revan pada dirinya sendiri dengan menatap sayu pantulan dirinya dicermin.
"Sadar Revan, jika kau mendekati orang luar, mereka akan berakhir teragis, lupakan semuanya, prioritasmu hanyalah menjaga semua orang yang kau sayangi tetap aman, jangan sampai kejadian masa lalu terulang kembali," ucap Revan membulatkan tekatnya lalu membasuh wajahnya kemudian keluar dari toilet untuk segera kembali ke kantin.
Revan terkejut saat membuka pintu dan mendapati Reon berdiri didepan pintu dengan menatapnya aneh, karena khawatir Reon segera bergegas menyusul Revan meninggalkan makanannya dimeja.
"Kau sudah selesai? aku ingin masuk," ucap Reon dengan tersenyum kikuk pada Revan.
__ADS_1
Revan menyingkir dari ambang pintu dan berjalan meninggalkan Reon didepan pintu toilet.
Reon masuk kedalam toilet lalu segera mencuci tangannya diwestafel dengan menatap pantulan dirinya dicermin.
"Kau menyukainya, Van. kau hanya belum menyadarinya, aku yakin, setelah ini, kau akan merasa dirinya berarti lebih dari sekedar orang yang ingin kau lindungi karena tanggung jawab, aku berharap agar lulus nanti, kita akan ke negara S," ucap Reon dan segera keluar dari toilet dan menuju ke kantin.
* * *
Sementara itu dibelakang sekolah Revin dan Carlos, Carlos menatap Revin dari kejauhan, dengan tatapan aneh.
"Sejak kapan Revin doyan kerja, apakah ada jin nyasar masuk kedalam tubuhnya," ucap Carlos pada dirinya sendiri saat melihat Revin dari kejauhan yang tengah berbicara dengan pengacara pribadinya.
Tiba-tiba ponsel Carlos berdering, Carlos merogoh ponselnya yang berada disaku celananya dan mengernyit saat melihat orang yang menelfonnya yang tidak lain adalah Vivian.
"Halo, ada apa?" tanya Carlos saat mengangkat telfon dari adik kesayangannya itu.
"Kak ... kakak tidak melalukan sesuatu 'kan?" tanya Vivian tiba-tiba diseberang telfon.
"Melakukan apa? aku tidak melakukan apapun! memangnya apa yang terjadi, kau baik-baik saja 'kan? apa orang yang membuatmu takut masih menganggu, atau ada hal lain?" tanya Carlos berturut-turut dengan raut wajah yang mulai khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kak. hanya saja, tiba-tiba disekolah aku, kepala sekolahnya diganti dan juga 4 orang itu mendadak bangkrut dan bahkan mantan kepala sekolah masuk rumah sakit, kakak tidak melakukan hal yang buruk 'kan?" ucap Vivian panjang lebar dengan bertanya pada sang kakak diseberang telfon.
Carlos menoleh kearah Revin yang kini berjalan kearahnya dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
"Ada apa?" tanya Revin dengan menghentikan langkahnya dihadapan Carlos.
"Aku rasa itu kerjaan seseorang, kamu tidak perlu memikirkannya, kakak sedang sibuk, Bye," ucap Carlos mematikan panggilan sepihak lalu menatap Revin dari atas hingga bawah.
Revin mengernyit bingung sekaligus aneh.
"Ada apa? jangan menatapku seperti itu," ucap Revin dengan tangan yang ia masukkan ke saku celananya.
"Kau tidak melakukan ha yang berbahaya 'kan?" ucap Carlos dengan tatapan intimidasi.
Plak
"Aduh, sakit, Vin." ringis Carlos saat Revin memukul kepalanya.
"Berarti kau masih sadar, aku fikir jiwa gilamu aktif lagi," ucap Revin kemudian berjalan melewati Carlos dengan bersenandung ria.
__ADS_1
"Sia**n," umpat Carlos kemudian mengikuti langkah Revin menuju kelas melupakan pertanyaan dan kecurigaannya pada sahabatnya itu.
* * *
Pukul 4 sore.
Revan keluar dari kelas bergegas untuk segera menjemput Reana disekolahnya.
"Revan ...," teriak Reon yang berlari mendekati Revan yang sudah berada disamping motor besarnya.
Revan menoleh kebelakang dan menatap datar Reon yang berlari kearahnya.
"Ada apa?" tanya Revan dengan wajah datar saat Reon tiba dihadapannya dengan wajah yang sedikit berkeringat akibat berlari.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu menungguku," ucap Reon dengan tersenyum dan memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapi.
Revan mengerang kesal dalam hati, ingin rasanya ia memukul pria dihadapannya itu.
Revan menghembuskan nafasnya lalu segera naik kemotornya dan memakai helmnya.
"Revan!" panggil Reon yang kini berada di atas motornya dengan manatap kearah Revan yang terlihat kesal.
Revan menoleh dengan raut wajah kesal bukan main. Reon hanya cengegesan melihat hal itu, ia tahu jika Revan pasti akan kesal jika terus menerus disapa seperti itu tanpa berniat berbicara serius.
"Sebaiknya cepatlah sadar, jangan sampai dia sudah ada yang memiliki, baru kau menyesal," ucap Reon kemudian memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya lalu pergi meninggalkan Revan yang terdiam.
"Maksud Reon apa?" tanya Revan pada dirinya sendiri.
Revan mengelengkan kepalanya agar hal-hal yang tidak penting, tidak singgah ke otaknya.
Sepuluh menit kemudian.
Revan menghentikan motornya didepan gerbang sekolah Reana, Dari kejauhan Revan melihat sang adik tengah berjalan kearahnya dengan sesekali tersenyum kecil pada temannya, tentu saja perempuan, jika laki-laki pasti Revan akan menatapnya dengan tajam.
Revan membelalakkan matanya kemudian mengelengkan kepalanya, lalu kembali menatap Reana yang semakin mendekat kearahnya.
'Kenapa aku seperti melihat Rania tadi? apa yang kufikirkan, dia sudah kembali ke negara S, tidak mungkin dia ada disini,' ucap Revan dalam hati dengan sesekali menghembuskan nafasnya dibalik helmnya.
Reana segera naik ke atas motor setelah memakai helmnya, Reana memeluk pinggang Revan lalu menyandarkan kepalanya dipunggung kakaknya itu.
__ADS_1
Revan menyalakan mesin motornya lalu segera menancap gas meninggalkan sekolah Reana untuk segera pulang kerumah dan beristirahat agar segala pemikiran lain yang tidak penting menghilang dari fikirannya.