
Rania terdiam mendengar ucapan Revan yang memintanya untuk membangunkan Revin dengan air.
"Lakukan saja! dia tidak akan marah padamu," ucap Revan dan dengan ragu Rania mengambil gelas yang berisi air putih diatas meja.
Rania kembali menatap Revan yang hanya menganggukkan kepalanya, Rania menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menyiramkan air digelas itu kewajah Revin.
BYUUR
Revin terbangun dari tidurnya dan terduduk seketika membuat Rania terkejut dan reflek memengang dadanya dengan gelas kosong ditangan kirinya.
Revin memgusap wajahnya dengan nafas yang tidak beraturan kemudian melirik kearah Rania yang menatapnya dengan tatapan terkejut.
Revin terdiam saat melihat gelas kosong yang dipengang oleh Rania, Revin menoleh pada Revan yang hanya berwajah datar membuat Revin mengumpat dalam hati.
'Dasar Brother sia**n, pasti dia yang meminta Rania untuk menyiramku dengan air, sungguh kejam,' ucap Revin dalam hati dengan sesekali mengusap wajahnya.
'Belum sah aja udah minta siram adik sendiri pake air, wah bahaya nih Brother, bakalan ajarin istrinya yang tidak-tidak,' ucap Revin dalam hati dengan sesekali menenguk salivanya dengan susah payah.
"Cepatlah! Rania harus pergi sekolah, dan kamu juga harus pergi sekolah, antar Rania pulang dengan selamat," ucap Revan dengan sesekali menghembuskan nafasnya.
Revin mendengus kesal kemudian beranjak dari sofa dan masuk kedalam kamar mandi membasuh wajahnya untuk yang kedua kalinya setelah siraman air Rania.
Satu menit kemudian.
Revin segera memakai jaketnya untuk segera mengantar Rania ke apartemen Kimso lalu kemudian pulang kerumah untuk mandi dan pergi kesekolah.
"Aku pergi dulu, Brother," ucap Revin kemudian keluar dari ruangan Revan.
"Aku pulang dulu, Kak Revan. aku akan datang lagi nanti saat pulang sekolah," ucap Rania berpamitan pada Revan yang hanya terdiam tanpa menjawab.
Setelah Revin dan Rania keluar, Revan terus menghembuskan nafasnya bosan, Revan sangat tidak suka dengan rumah sakit apalagi harus berdiam diri seperti ini, sungguh membosankan.
"Membosankan, apa yang harus kulakukan agar rasa bosan ini hilang, sepertinya aku harus membujuk Mommy nanti, agar aku bisa segera pulang kerumah," ucap Revan dengan menghembuskan nafasnya kasar.
* * *
Di kediaman Carlson.
__ADS_1
"Mama, dasiku mana?" ucap Carlos sedikit berteriak dengan terus melangkahkan kakinya menuruni anak tangga mencari ibunda tercinta.
"Bukannya ada dikamarmu ya," teriak Fania yang berada didapur tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Tidak ada, Ma. aku sudah cari kemana-mana tapi tidak ada," ucap Carlos pusing harus mencari dasinya kemana lagi.
"Coba cari aja dulu diatas, kamu 'kan punya kebiasaan buruk, taruhnya dimana dan carinya dimana," ucap Fania tidak berniat membantu anaknya itu yang memang kadang pelupa.
Carlos mengaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian segera menaiki tangga untuk kembali kekamarnya untuk mencari keberadaan dasinya yang menghilang entah kemana.
Carlos berjalan mendekati pintunya untuk segera mencari dasinya itu, Carlos menghentikan langkahnya didepan kamar Felisia yang memang berdekatan dengan kamarnya.
Carlos menatap pintu kamar Felisia dan kemudian berjalan mendekat lalu membuka pintu itu perlahan.
Carlos mengintip kedalam kamar dimana sama sekali tidak ada orang, Carlos pun masuk kedalam untuk mencari keberadaan dasinya.
Carlos segera mencari keberadaan dasinya dengan memeriksa setiap sudut kamar itu tapi sama sekali tidak menemukannya.
Carlos mulai pusing dan kemudian mengacak rambutnya dengan kepala yang serasa ingin pecah, Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, membuat Carlos menoleh dan membelalakkan matanya saat melihat Felisia yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
Felisia terkejut melihat Carlos berada dikamarnya dan melihat kearahnya, Felisia menyilang tangannya didepan dada dan kemudian berteriak keras.
Carlson dan Vivian yang berada dimeja makan terkejut, ketika mendengar suara teriakan Felisia, Fania yang baru saja keluar dari dapur, segera meletakkan kopi Carlson dan berlari kelantai atas diikuti oleh Carlson dan Vivian.
Carlson, Fania dan Vivian terkejut saat melihat Carlos yang berada didepan pintu kamar Felisia dengan keadaan nafas yang memburu.
Carlos terkejut ketika melihat kedua orang tuanya beserta adiknya mendekat kearahnya dengan tatapan terkejut bukan main.
'Mati aku,' ucap Carlos dalam hati dengan menelan salivanya dengan susah payah.
"Carlos, kamu baik-baik saja?" tanya Fania pada putranya itu yang hanya bisa menganggukan kepalanya.
Carlos segera menyingkir dari depan pintu kamar Felisia membiarkan ibunya untuk mengetuk pintu kamar itu.
"Felisia, kamu baik-baik sana didalam, sayang?" tanya Fania setelah mengetuk pintu kamar Felisia.
Fania mengernyit heran saat mendapat tidak ada jawaban sama sekali dari Felisia didalam kamar.
__ADS_1
Fania pun membuka pintu dan terkejut melihat Felisia yang menutupi didirinya dengan selimut diatas tempat tidur dengan posisi duduk dan hanya wajahnya saja yang terlihat.
Carlson dan Vivian saling bertukar pandang satu sama lain kemudian menatap Carlos yang hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.
Fania mendekat pada Felisia yang berada diatas tempat tidur, Fania mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur kemudian mengelus kepala Felisia yang tertutup selimut.
"Ada apa, Felisia? cerita sama bibi," ucap Fania dengan raut wajah khawatirnya.
"Carlos, bibi. dia masuk kedalam kamar Feli," ucap Felisia membuat Fania terkejut.
Carlson dan Vivian menatap Carlos yang mulai berkeringat dingin dan segera mengelengkan kepalanya.
"Aku tadi mencari dasiku, dan kufikir itu ada didalam kamar Felisia, jadi aku masuk, aku tidak berniat buruk, Ma. sumpah," ucap Carlos dengan mengangkat tangannya denga jari yang membentuk huruf V.
Felisia yang mendengar hal itu menatap horor pada Carlos sedang Carlson dan Vivian hanya bisa mengelengkan kepala mereka.
Fania menghembuskan nafasnya berulang-ulang kemudian menatap Felisia.
"Maaf ya, Feli. Carlos suka lupa menaruh dasinya dimana, dia tidak berniat untuk masuk kedalam kamarmu tanpa ijin, maaf ya," ucap Fania dan Felisia segera menganggukkan kepalanya.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Carlos merasa bersalah dengan kepala yang menunduk.
"Iya, tidak apa-apa," ucap Felisia dengan menatap Carlos yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ya udah, kamu siap-siap gih, kami tunggu dibawa," ucap Fania kemudian berjalan keluar dari kamar Felisia setelah tadi Felisia menganggukkan kepalanya.
Fania menutup pintu kamar Felisia kemudian menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan prihatin.
"Coba cari lagi dikamarmu, mungkin ada disana," ucap Fania pada Carlos.
Carlos mendongak dan menatap ibunya yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, Carlos hanya cengegesan menangapi tatapan ibunya itu.
Fania kembali kelantai dasar untuk segera melanjutkan kegiatannya yang belum selesai memasak sarapan.
Vivian segera mengikuti sang ibu kelantai dasar, sedang Carlson menatap putranya itu dengan tatapan khawatir, khawatir jika putranya sudah melihat hal yang tidak seharusnya dilihat.
"Sepertinya kamu berjodoh dengannya," ucap Carlson kemudian pergi meninggalkan Carlos yang terdiam mencoba mencerna ucapan sang ayah.
__ADS_1
"Maksudnya apa?" tanya Carlos pada dirinya sendiri dengan mengaruk tengkukknya yang tidak gatal