SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
KHAWATIR


__ADS_3

Tiga orang pria tengah berdiri diluar ruang operasi, dengan terus menatap pintu ruang operasi dengan tidak sabaran.


Satu jam kemudian.


Sudah satu jam berlangsungnya operasi. Namun belum juga ada tanda-tanda selesainya operasi itu.


Arian mendudukkan diri dikursi setelah mondar-mandir tanpa henti satu jam, ia menunduk dengan tangan yang menumpuh kepalanya. Ia mangacak rambutnya frustasi, ia berharap agar kedua putranya baik-baik saja.


Rafael dan Carlson bertukar pandang satu sama lain, lalu menghembuskan nafas. Mereka tahu seperti apa rasa takut yang dirasakan Arian saat ini. Lebih takut dari kehilangan nyawanya sendiri.


Mereka berdua duduk disamping kiri dan kanan Arian lalu mengusap punggung sahabat mereka itu. Arian menghembuskan nafasnya, lalu memejamkan matanya.


Jika harus memilih, lebih baik jika ia yang ada didalam ruang operasi sekarang, daripada dua putranya. Ia akan membunuh orang itu tanpa ampun, jika terjadi sesuatu pada kedua putranya.


Seorang pria berjas hitam mendekat kearah mereka, lalu membungkukkan setengah badannya.


"Maaf, tuan. Orang itu kabur sebelum kami tiba dikediamannya, bahkan dia juga telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari yang lalu," ucap pria itu, yang tidak lain adalah Virgan.


Arian mengerakkan giginya, rahangnya mengeras tanda marah. Rafael terus-menerus mengusap punggung Arian, berharap agar pria itu tenang.


"Cari terus. Aku ingin dia secepatnya, hidup ataupun tidak, utuh ataupun tidak. Aku ingin dia," ucap Arian dengan suara yang meninggi membuat beberapa orang menoleh pada mereka.


Virgan tersentak mendengar hal itu, setelah sekian lama, akhirnya ia dapat mendengar suara tuannya yang murka.


"Baik, tuan," ucap Virgan lalu segera berbalik untuk melakukan hal yang diperintahkan oleh tuannya.


Arian mengacak rambutnya frustasi, nafasnya memburu karena menahan emosi. Ingin sekali ia melampiaskannya pada tembok rumah sakit, tapi mengingat jika ia tidak boleh membuat keributan disana karena akan menganggu pasien yang tengah beristirahat.


Satu jam kemudian.


Pintu ruang operasi terbuka, membuat Arian bangkit dari duduknya dan segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan putra-putranya saya, dokter," ucap Arian, penuh dengan ke khawatiran.


"Kami berhasil mengeluarkan peluru dari perut dan juga lengannya, mereka sudah melewati masa kritis. Tapi kami tidak bisa memprediksi kapan mereka akan siuman," ucap dokter itu membuat Arian terdiam dengan tangan yang terkepal siap untik memukul pria berjas putih itu.


Rafael dan Carlson segera mendekati Arian lalu berterima kasih pada dokter itu.


"AKH!" semua orang berlalu lalang menoleh kearah Arian yang baru saja memukul dinding rumah sakit, ia menoleh pada pintu operasi yang terbuka dan kedua putranya yang terbaring dibrangkar yang tengah didorong oleh para perawat untuk ke ruang rawat.

__ADS_1


Tubuh Arian terduduk dilantai, ia mangacak rambutnya dengan wajah sendunya, membuat Rafael dan Carlson ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu.


"Sudahlah, jangan seperti ini. Lihat penampilanmu yang acak-acakan ini, sebaiknya kau pergi untuk membersihkan diri dahulu," ucap Rafael, tapi Arian seolah tidak mendengarkan sama sekali.


Rafael menatap Carlson yang juga menatapnya.


"Ran, jangan seperti ini, kita pasti akan menemukan orang sialan itu, percayalah. Sebaiknya kamu membersihkan diri terlebih dahulu dihotel, atau kau ingin mandi dirumah sakit ini?" tanya Carlson hati-hati, takut membuat Arian bertambah marah.


Arian mengangguk pelan lalu segera bangkit menuju kamar rawat kedua putranya, meninggalkan Rafael dan Carlson yang terdiam seribu bahasa.


"Tolong ya, Rafael," ucap Carlson lalu segera menyusul Arian meninggalkan Rafael yang semakin terdiam, mencoba mencerna ucapan sahabatnya itu.


"Sialan!" umpatnya kesal, saat mengetahui maksud Carlson.


* * *


Empat jam kemudian.


Arian menatap kedua putranya yang tertidur diatas brangkar dengan begitu pulas. Ia menghela nafas, saat kedua putranya tak kunjung membuka mata mereka.


Ia sudah mengganti pakaiannya, setelah tadi mandi dikamar mandi diruangan rawat putranya itu, yang memang sudah tersedia.


"Dia pasti khawatir sekarang," ucapnya lalu menelfon balik nomor istrinya itu.


"Halo, kau baik-baik saja kan?" ucap Ana saat mengangkat panggilan dari suaminya itu.


Arian terdiam, rasa khawatir istrinya bisa ia dengar dari nada suaranya yang bergetar.


"Iya, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," ucap Arian mencoba menenangkan istrinya.


"Syukurlah, bagaimana keadaan Revan dan Revin, dan juga Carlos dan Reon?" tanya Ana berturut-turut, karena saat ini Sarah dan Fania ada dirumahnya. Perasaan mereka mendadak tidak enak, lalu segera kerumah Ana untuk meminta Ana menelfon Arian, karena Carlson dan Rafael tidak mengangkat telfon dari mereka.


Lidah Arian terasa keluh untuk berbicara, inilah yang dia khawatirkan. Insting seorang ibu tidak pernah salah pada anak-anaknya.


"Em, mereka baik-baik saja. Hanya tertidur sebentar," ucap Arian berbohong.


"Benarkah? Mereka benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Ana yang merasa jika suaminya berbohong, karena hatinya mengatakan jika putra-putranya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Iya, aku janji akan meminta mereka menelfon ketika bangun nanti, percayalah padaku," ucap Arian mencoba menyakinkan istrinya. Ia tidak ingin istrinya itu khawatir.

__ADS_1


"Baiklah, nanti minta pada mereka untuk segera menelfon ya. Aku benar-benar khawatir," ucap Ana dan Arian hanya mampu mengiyakan.


"Iya, sudah dulu ya. Nanti aku telfon lagi," ucap Arian dan kemudian memutuskan panggilan setelah mendapat jawaban dari istrinya.


Arian membuang ponselnya disofa, lalu kembali menatap Revan dan Revin bergantian.


"Cepatlah sadar, son. Kalian membuat mommymu khawatir, begitupun dengan Daddy," ucap Arian seakan Revan dan Revin mendengar ucapannya.


* * *


Pukul 12 malam.


Revan perlahan-lahan mengerakkan jari-jarinya dan perlahan-lahan kelopak matanya terbuka.


Ia mengerjap beberapa kali, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Ia menatap sekeliling dan sedikit terkejut melihat sang ayah yang tengah duduk disofa dengan kepala menunduk kelantai.


Revan menoleh kesamping dan terkejut melihat adiknya yang menatanya dengan tatapan sayu.


Revin mengerakkan bibirnya, seolah berkata jika daddynya belum tidur dan hanya menundukkan kepalanya menatap lantai dengan tangan yang sesekali mengacak rambutnya.


Revan terdiam melihat hal itu, ia juga mengerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


"Kapan kau bangun."


"Baru saja."


"Kau sudah melihat Daddy seperti itu sedari tadi."


"Iya."


Mereka terus berkomunikasi dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara, hingga terdengar suara seseorang yang memanggil nama mereka.


"Revan, Revin!" ucap Arian yang mendogak dan terkejut melihat Revan dan Revin yang tengah berbicara tanpa mengeluarkan suara.


Revan dan Revin menoleh dan hanya tersenyum canggung pada sang ayah, yang perlahan-lahan berjalan mendekat kearah mereka.


"Kalian ingin makan apa?" tanya Arian saat tiba ditengah-tengah brangkar Revan dan Revin.


"Makan buah saja, dad," ucap mereka bersamaan yang segera diangguki oleh Arian.

__ADS_1


__ADS_2