SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
CARLOS DAN REON


__ADS_3

Revin menoleh pada Revan yang wajahnya tiba-tiba berubah sedikit merah padam, menahan emosi.


Karena penasaran, Revin mengambil ponsel Revan dan melihat pesan yang tertera disana, membuat ia mengepalkan tangannya.


"Sialan!" umpatnya kesal, lalu mereka segera berlari untuk segera menaiki motor dan tiba ditempat tujuan.


* * *


Reon dan Carlos perlahan-lahan mengerjapkan mata mereka dan sedikit terkejut melihat pemandangan yang tersaji saat mereka membuka kelopak mata.


"Reon," panggil Carlos dengan berusaha untuk mengerakkan tangannya yang ternyata terikat kebelakang dan posisi mereka saling. membelakangi.


"Sepertinya kita berada di gudang," ucap Reon dengan menatap kotak kayu yang tersusun dihadapannya, lebih tepatnya menempel di dinding.


"Iya, kita harus segera membuka tali yang mengikat tangan kita," ucap Carlos yang diangguki oleh Reon, seolah Carlos melihatnya.


Mereka mulai berusaha membuka tali yang mengikat pergelangan tangan mereka,Reon membuka tali dipergelangan tangan Carlos dan begitupun sebaliknya.


"Cepat, sedikit lagi," ucap Carlos yang hampir membuka tali yang mengikat pergelangan tangan Reon.


"Berhasil," ucap mereka bersamaan saat berhasil membuka tali itu.


Mereka terdiam saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearah pintu masuk gudang itu.


Mereka segera memejamkan mata mereka, seolah belum sadarkan diri dengan tangan yang masih berada dibelakang, seolah ikatannya belum terbuka.


Pintu terbuka, menampilkan lima orang pria berbadan kekar dengan memakai setelan jas berwarna hitam, dengan satu pria yang berdiri ditengah yang memiliki bekas luka diwajahnya.


"Apa kalian benar-benar tidak memukul kepala mereka dengan keras, aku tidak ingin membunuh seseorang yang sudah sekarat."


Carlos dan Reon terkejut mendengar suara itu, suara yang sudah begitu familiar ditelinga mereka. Meski sudah berlalu selama 2 tahun lamanya, tapi masih bisa mereka ingat dengan begitu jelas.


Tangan keduanya terkepal kuat dengan mata yang terpejam, sangat kuat hingga membuat urat tangan mereka terlihat.


"Kami memang memukul mereka dengan kuat, tapi tidak mungkin langsung membuat mereka mati, Tuan." ucap salah satu bawahannya yang berdiri disamping kanan.


Tiba-tiba sebuah kursi melayang hingga mengenai salah satu dari mereka, hingga tumbang dengab darah yang mengalir dari kepala akibat hantaman kuat kursi itu.


Mereka menoleh dan mendapati Carlos yang menatap mereka dengan wajah merah padam dan nafas yang tidak beraturan.


"Hoho, lama tidak bertemu pria kecil."


Pria yang memiliki luka diwajahnya berucap dengan senyum mengejek membuat kedua remaja itu terbakar emosi.


"SIALAN!" umpat Carlos lalu berlari mendekat untuk memukul pria itu.


BUK!

__ADS_1


Satu pukulan yang ingin dilayangkan Carlos pada pria itu dihadang oleh anak buahnya, membuat Carlos geram dan kembali melayangkan pukulannya pada pria yang berani menghadang jalannya.


BUK!


Carlos menendang perut pria itu hingga mundur beberapa langkah, dan tiba-tiba sebuah kursi mengenai pria itu yang dilemparkan oleh Reon.


Carlos berlari mendekat dan melayangkan kakinya untuk menendang kepala pria itu. Namun serangannya ditahan dengan tangan pria itu, yang melayangkan pukulannya diwajah Carlos.


Carlos mundur beberapa langkah dan maju kembali untuk memukul pria itu, meski darah segar mengalir disudut bibirnya yang robek akibat pukulan pria itu.


Reon tidak tinggal diam, dia memukul tiga bawahan yang tersisa, setelah membunuh salah satunya. Membiarkan Carlos untuk melawan orang itu terlebih dahulu, agar dia bisa menyelesaikan tiga orang yang cukup merepotkan baginya.


'Bukan lawan yang mudah,' ucap Reon dalam hati dan menatap satu persatu orang yang kini berdiri dihadapannya yang tengah berjongkok dengan menyeka darah disudut bibirnya.


Reon menatap kearah Carlos yang melayangkan pukulan bertubi-tubi pada pria itu, tapi dengan mudahnya ditangkis oleh pria itu.


'Aku harus segera membunuh tiga orang ini untuk membantunya,' ucap Reon dalam hati lalu menatap satu orang yang sudah mengarahkan pistol padanya, sedang kedua orang itu memengang belati yang sempat menhores perutnya.


Reon tersenyum sinis, lalu tiba-tiba menyeruduk pria yang menodong pistol padanya, lalu segera merebut paksa pistol dari tangan pria itu dan mengarahkannya pada dua orang yang bersiap untuk menusukkan belati padanya.


DOR!


DOR!


Dua tembakan tepat mengenai kepala dua orang itu hingga tumbang seketika, sedang pria yang kini berada dibawahnya berusaha untuk melepaskan diri, tapi dengan sigap Reon melepaskan satu tembakan lagi dikepala pria itu.


DOR!


Pria itu menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dan menatap Carlos yang berdiri tidak jauh darinya. Tanpa diduga, pria itu mengambil pistol dibelakangnya dan segera menarik pelatuknya hingga membuat suara tembakan kembali mengema digudang itu.


DOR!


Carlos menghindar disaat yang tepat, hingga peluru itu hanya mengores wajahnya.


"CARLOS!" teriak Reon dan melemparkan pistol pada Carlos dan pria itu dengan sigap menerimanya.


Kini ia dan pria itu saling menodongkan pistol dan bersiap untuk menembak, Reon yang melihat hal itu bangkit dan berlari kearah pria itu, membuat pria itu menoleh dan mengarahkan pistolnya ke arah Reon.


DOR!


Satu tembakan mengenai lengan pria itu, membuat ia berdecak dan tiba-tiba pukulan Reon pun mendarat dipipinya membuatnya oleng dan mundur beberapa langkah.


Carlos bangkit dan menendang pria itu hingga tubuhnya terpental dan mengenai kotak-kotak kayu yang tersusun dan menjadi berantakan seketika.


Reon berjalan dengan perlahan dan sedikit menunduk untuk mengambil pistol milik pria itu yang terjatuh saat Carlos menembak tangannya.


Pria itu bangkit dan perlahan-lahan berdiri dengan memegang lengannya yang terus menerus mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Ia menatap Reon dan Carlos yang berdiri tidak jauh darinya dengan pistol yang mengarah padanya.


Pria itu tersenyum sinis, membuat Reon dan Carlos semakin marah dan kesal.


DOR!


Satu tembakan mengenai lengan kiri pria itu yang dilepaskan oleh Carlos.


DOR!


Satu lagi tembakan mengenai kaki pria itu, membuat ia terduduk seketika dengan raut wajah marah menatap dua orang dihadapannya.


DOR!


DOR!


DOR!


DOR!


DOR!


DOR!


Enam tembakan keluar secara bersamaan dan mengenai perut, dada dan kepala pria itu, hingga tumbang dengan dara segar mengalir tanpa henti.


Reon dan Carlos terduduk seketika dengan nafas yang tidak beraturan dan wajah yang memiliki banyak luka pukulan.


"Perasaanku sedikit lega," ucap Carlos dengan menatap mayat pria itu, pria yang membangkitkan sisi iblisnya.


"Iya, aku juga sedikit lega," ucap Reon yang kini menaruh tangannya diatas lututnya.


"Kau parah sekali," ucap Reon dengan menatap wajah Carlos yang begitu mengkhawatirkan.


Carlos menoleh dan hanya mengedikkan bahunya acuh, hingga teringat akan sesuatu.


"Sebaiknya kita pulang, aku merasa bahwa Revan dan Revin dalam bahaya," ucap Carlos yang diangguki oleh Reon, lalu mereka pun bangkit dan berjalan dengan saling menopang satu sama lain.


BRUK!


Mereka berdua ambruk dengan kesadaran yang perlahan-lahan menghilang, dan tidak mengingat apa yang terjadi selanjutnya.


***


Lagi² deg-degan nulisnya, udah senam dua kali jantungku ini🤭Hati² jantungnya ikut senam🤭🤣


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2