
Carlos mengerjapkan matanya berkali-kali dibalik kacamata bulatnya, ia tidak mengalihkan pandangannya dari gadis yang kini duduk dihadapannya, tidak lupa dengan senyum diwajah gadis itu, yang membuatnya benar-benar terkejut.
'Ya tuhan, apa dosaku sampai harus seperti ini, kenapa wanita yang membuat hari-hariku berwarna adalah gadis gila ini, apa aku memiliki dosa besar! Dan juga senyum gadis ini, apa aku tidak salah, dia tersenyum manis,' ucap Carlos dalam hati menelan salivanya dengan susah payah.
Gadis itu mendongak dan tersenyum manis pada Carlos, yang semakin membuat Carlos menelan salivanya dengan susah payah.
"Em ... anu ... i ... itu a ... aku," Carlos tidak bisa berbicara dengan benar, ia gugup, sangat gugup. Ia takut jika gadis dihadapannya itu mengenalinya.
Gadis itu terkekeh mendengar pria dihadapannya yang sangat gugup.
Carlos tersentak saat tangan gadis itu menyentuh tangannya diatas meja, yang semakin membuat Carlos keringat dingin.
"Kak Car tidak perlu gugup, santay saja." Ucap gadis itu yang tidak lain adalah Felisia.
Tangan Carlos gemetar dan Felisia dapat merasakan hal itu, ia hanya terkekeh kecil.
"A ... aku malu," kata itu yang keluar dari bibir Carlos, membuatnya mengumpat dalam hati.
'Dasar bodoh! Apa tidak ada kata-kata lain yang bisa kau keluarkan, dasar mulut bodoh,' umpatnya pada dirinya sendiri.
Felisia yang mendengar hal itu terkikik geli, lalu menatap Carlos dengan tatapan penuh kasih sayang, yang membuat Carlos terdiam.
'Nih cewek gila kenapa?' tanya Carlos dalam hati heran pada Felisia yang biasanya menatapnya tajam.
"Kak Car tidak perlu malu, nama kakak cuma Car aja?" tanya Felisia, ia benar-benar tidak tau jika pria dihadapannya itu adalah Carlos.
"Ca ... Ca ... Carlie, ya Carlie," ucap Carlos memalsukan namanya pada Felisia, kini jantung Carlos tidak bisa diajak kompromi, jantungnya sudah seperti lari marathon didalam sana, dan wajah yang sesekali dialiri keringat dingin.
Felisia tersenyum mendengar itu kemudian menyeka keringat diwajah Carlos dengan tangannya itu, membuat Carlos dapat merasakan telapak tangan lembut Felisia yang menenangkan.
Kini jarak antara Carlos dan Felisia hanya 10 centi saja, hingga Carlos dapat melihat wajah gadis itu dari dekat.
'Ternyata kalau dilihat-lihat lagi, dia cantik juga,' ucap Carlos dalam hati dengan tersenyum kecil yang tidak disadari oleh Felisia.
"Em, gimana kalau kita, jalan-jalan dimall ini, un ... un.," Carlos tergagap ingin mengatakan hal yang tidak pernah ia katakan.
Felisia memiringkan kepalanya, menanti Carlos melanjutkan ucapannya.
"Un ... untuk .. P .. PD ... PDKT," ucap Carlos dengan susah payah keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Felisia yang mendengar hal itu, tersenyum geli kemudian segera menganggukkan kepalanya.
Mereka pun keluar dari cafe itu, untuk berkeliling mall, dengan sesekali Felisia tertawa lepas dengan tingkah lucu Carlos.
"I .. itu, aku ... mau mengatakan ....." ucap Carlos dengan mengatus nafasnya agar sedikit beraturan, sedang Felisia menanti Carlos melanjutkan ucapannya.
"Apa kau ... tidak malu berjalan ... dengan pria cupu ... sepertiku?" tanya Carlos menatap Felisia yang duduk dihadapannya, karena saat ini mereka tengah berada depan toko es cream, menikmati es cream pesanan mereka.
Felisia terdiam kemudian tersenyum, lalu berbicara yang membuat Carlos mematung ditempatnya.
"Karena aku nyaman dengan kak Car, aku tidak peduli dengan penampilan kak Car. Karena bagiku, jika hati seseorang tulus, seperti apapun penampilannya tidak akan masalah, karena cinta tidak pernah memandang fisik. Ya, bagi sebagian orang fisik dan wajahlah yang paling penting, tapi bagiku, apa adanya saja, asal dia setia," ucap Felisia panjang lebar, membuat Carlos terdiam seketika dan sedetik kemudian tersenyum.
'Kau milikku, Felisia Di.' Ucap Carlos dalam hati mengklaim Felisia sebagai miliknya.
"Apa kamu ingin menjadi pacarku secara resmi?" ucap Carlos yang kini sudah tidak gugup lagi.
Felisia segera menganggukkan kepalanya dengan cepat, membuat Carlos semakin tersenyum lebar.
* * *
Di parkiran mall.
Revin menghentikan motornya diparkiran mall itu, ia ingin menikmati akhir pekan dimall, kini tanpa pacar.
"Aduh maaf, saya tidak sengaja," ucap gadis itu merasa bersalah karena menabrak Revin.
"Tidak a ...." Revin mengantung ucapannya saat tatapannya dan tatapan gadis itu bertemu.
"Vivian,"
"Kak Revin,"
Vivian membelalakkan matanya melihat pria yang akhir-akhir ini menganggu mimpi indahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Revin dengan tatapan intimidasi.
Vivian yang ditatap seperti itu, mendadak gugup sendiri.
"Apa urusannya denganmu. Mau aku kemana kau tidak perlu tau!" ucap Vivian mencoba memberanikan diri menatap iris mata Revin.
__ADS_1
Raut wajah Revin terlihat tidak suka mendengar ucapan Vivian barusan.
"Aku perlu tahu, kau adalah adik Carlos, dan sudah seharusnya aku menjagamu ketika kakakmu tidak ada, atau ketika kita bertemu seperti ini!" ucap Revin menatap lekat wajah gadis kecil itu, yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat.
Revin menarik pergelangan tangan Vivian memasuki Mall itu, tidak peduli dengan gadia itu yang terus berusaha melepaskan cekalan tangannya.
"Lepasin! kamu apa-apaan sih? lepasin ngga!" ucap Vivian dengan terus berjalan dan berusaha melepaskan cekalan tangan Revin dari pergelangan tangannya.
Revin menghentikan langkahnya, membuat Vivian menubruk punggungnya dan sedikit meringis.
"Ish, apa-apaan sih, kalau mau berhenti itu bilang-bilang dong," ucap Vivian dengan memijit pelan hidungnya dengan tangannya yang bebas.
Vivian mengernyit saat melihat pandangan Revin yang lurus kedepan, tanpa berkedip.
"Liat apaan sih?" tanya Vivian yang mulai kepo.
Revin yang mendengar pertanyaan Vivian menunjuk kearah meja didepan toko es cream dimall itu dengan tangannya.
Vivian melihat kearah yang ditunjukkan oleh Revin dan terdiam, saat dari kejauhan melihat Felisia duduk bersama dengan seorang pria.
"Kak Feli kok duduk sama cowok culun?" ucap Vivian yang membuat Revin menoleh pada gadis disampingnya.
"Kamu tidak mengenal pria itu?" tanya Revin mencoba memastikan apa yang Vivian ucapkan tadi.
"Iya, kenapa? kamu kenal?" tanya Vivian berturut-turut dengan raut wajah keponya, melupakan jika ia tadi berusaha untuk melepaskan pengangan tangan Revin dipergelangan tangannya, yang kini sudah bertautan tanpa Vivian sadari.
Revin terdiam mendengar Vivian yang sama sekali tidak mengenali Carlos.
'Wah, adikku sepertinya berbakat, sampai-sampai Vivian tidak mengenali kakaknya sendiri,' ucap Revin dalam hati, salut pada adiknya.
Vivian kemudian berjalan mendekat kearah Felisia dengan tangan yang masih bertaut dengan tangan Revin.
Kini Revin yang mengikuti langkah Vivian, ia menatap tangannya dan tangan Vivian, hingga suutas senyum kecil terbit dibibirnya.
"Halo kak Feli, lagi ngapain?" tanya Vivian tiba-tiba saat sudah tiba dimeja tempat Carlos dan Felisia duduk.
Carlos terdiam dengan membelalakkan matanya dibalik kacamata bulatnya itu, kemudian perlahan-lahan menoleh kearah Vivian dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Carlos mengernyit melihat tangan kedua orang yang berdiri disampingnya, ia mendongak dan menatap Revin dan Vivian secara bergantian.
__ADS_1
"Eh, Vivi. Aku lagi kencan sama pacar aku, kenapa?" ucap Felisia yang berhasil membuat kedua insan itu terkejut.
"Hah!!" Revin dan Vivian memekik kaget, membuat Carlos dan Felisia terkejut.