
Seorang gadis duduk sendiri di bangku ditaman kota dengan hanya disinari lampu taman. Perlahan bulir-bulir air bening jatuh membasahi pipinya, ia terisak mengingat hal yang ia lihat tadi.
"Mama, kenapa rasanya harus sesakit ini," isaknya dengan terus berusaha menghentikan air mata yang membasahi pipinya, tapi malah semakin deras membasahi pipi chubynya.
"Dia jahat ... hiks .... brengsek ... hiks," ucapnya lirih dengan meremas dadanya yang masih terasa seperti dihantam oleh pisau tajam.
* * *
Revin melajukan motornya ke suatu tempat yang ia yakini bahwa gadis itu berada disana. Setelah Revan menelfonnya dan memberitahu bahwa ia melihat Vivian di depan resetoran didalam mall tadi, dan tiba-tiba lari entah kemana.
Mendengar hal itu membuat Revin takut dan bergegas pergi untuk mencari Vivian, setelah tadi menerima telfon dari bawahan kakeknya, yang mengatakan jika Vivian berada ditaman kota, tapi mereka tidak bisa menghampiri gadis itu yang terlihat termenung dan hanyut dalam lamunannya sendiri.
Revin menghentikan motornya tidak jauh dari seorang gadis yang tengah duduk di bangku taman seorang diri. Revin segera berjalan menghampiri Vivian, ia mengernyit ketika melihat gadis itu yang tengah terisak.
"Vivian!" panggil Revin dan segera menghampiri Vivian yang terlihat terkejut melihat kedatangannya.
Revin duduk disamping gadis itu lalu menangkup wajah Vivian agar menatapnya, karena gadis itu seolah tidak ingin melihat wajahnya.
"Kenapa menangis? Siapa yang membuatmu menangis? Apa Carlos?" tanya Revin berturut-turut dengan raut wajah khawatirnya.
Revin mengusap air mata Vivian, dan gadis itu dengan kasar menghempaskan kedua tangan Revin yang menyentuh wajahnya.
Revin terdiam melihat hal itu, ia menatap gadis dihadapannya dengan tatapan sulit diartikan.
"Pergi kau! Aku tidak ingin melihatmu!" bentak Vivian dengan air mata yang semakin mengalir membasahi pipinya.
Revin terdiam, ia bingung dengan apa yang terjadi sekarang.
"Pergi! Aku benci denganmu! Kau pria jahat! Pergi!" bentak Vivian dan ingin bangkit dari duduknya. Tapi Revin menariknya dan membekap tubuh mungil itu diperlukannya.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku benci padamu!" ucap Vivian terus berontak dan memukul dada bidang pria yang memeluknya erat, enggan untuk melepaskan pelukan itu.
"Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan!" ucap Revin dengan memeluk erat Vivian.
__ADS_1
PLAK!
Satu tamparan mengenai wajah Revin, ia menatap gadis yang kini terlepas dari pelukannya dan juga yang sudah memberinya cap lima dipipi mulusnya.
"Sudah puas? Jika masih belum puas, tampar lagi," ucap Revin lalu mengambil tangan Vivian dan melayangkannya untuk segera menamparnya lagi.
"Tampar aku, Vivian! Jika dengan menamparku kau bisa tenang, maka tampar!" ucap Revin menatap Vivian yang kini terdiam dan menatapnya dengan linangan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Apa yang membuatmu marah padaku? Jelaskan lebih dulu, agar aku bisa mengerti letak kesalahanku, agar aku bisa menjelaskannya," ucap Revin lembut dan menatap Vivian yang juga menatapnya.
Lama hening, akhirnya Vivian berbicara dengan linangan air mata.
"Kamu jahat! Kamu memang tidak bisa berubah sedikitpun, kau masih berhubungan dengan wanita lain," ucap Vivian dengan menyeka air matanya seperti anak kecil.
Revin mengernyit mendengar apa yang dikatakan gadis itu, sejak kapan ia berhubungan dengan wanita? Berdekatan sajadia tidak mau.
"Kamu melihat aku melakukan apa? dan kapan?" tanya Revin lembut.
Revin lagi-lagi terdiam, apa maksudnya dengan gadis cantik dan dewasa? Apa hubungannya?
"Aku tau aku masih kecil, aku masih bocil di matamu, aku masih anak berumur 15 tahun. Tapi tahun depan aku akan berumur 16, aku tidak tahu kapan aku menaruh perasaan padamu, kapan aku menyukaimu? Aku tidak tahu itu," ucap Vivian semakin menangis, sedang Revin membeku mendengar ucapan gadis dihadapannya itu.
"Vivian ....," ucap Revin mencoba menyentuh wajah gadis itu.
Vivian menepis tangan Revin dengan kasar, lalu menatap pria itu dengan tangis yang semakin pecah.
"Aku tau, kalau kau pasti akan menolak ku kan! Jangan bersikap lembut padaku, kau hanya akan membuatmu semakin sakit, jangan mengeluarkan jawaban apapun dari bibirmu, itu akan sakit untukku," ucap Vivian dengan rasa sakit yang mendalam.
"Vi ...,"
"Sudah aku bilang, jangan berbicara!" bentak Vivian dengan berusaha menepis tangan Revin yang mencoba menyentuh pundaknya.
"Vivian dengarkan aku, aku ....,"
__ADS_1
"Sudah aku bilang, jangan bicara!" bentak Vivian menutupi wajahnya kedua telinganya dengan tangan.
"Vivi ....,"
"Sudah aku bilang ... jangan bi .....,"
"AKU MENYUKAIMU," teriak Revin yang sudah bosan, karena sedari tadi ucapannya terus saja dihentikan oleh Vivian.
Vivian terdiam, lalu mendogak dan menatap pria dihadapannya itu. Revin menangkup wajah gadis itu agar menatap matanya.
"Aku menyukaimu, my little girl," ucap Revin dengan menatap lembut Vivian yang masih terdiam mendengar pengakuan pria dihadapannya itu.
Revin mencium kening Vivian, beralih ke mata gadis itu yang terpejam dan merasakan bibir Revin menyentuh kedua kelopak matanya, lalu turun ke pipinya yang dibasahi air mata, dan berakhir dibibir mungilnya.
Hanya kecupan singkat yang Revin berikan dibibir Vivian, ia menatap gadis itu yang masih sesugukan akibat menangis.
"Yang tadi kau lihat disana itu bukan aku," ucap Revin memuat Vivian tersentak, "Itu Brother, dia mengantikanku untuk pergi menemani cucu kakek, anak uncle Anson. Lagipula gadis itu sudah memiliki kekasih. Aku tidak peduli, mau kamu belum dewasa ataupun dewasa. Cinta tidak pernah memandang usia, Vivian. Cinta datang tanpa diduga, tidak akan ada yang menyadarinya kecuali jika seseorang itu pergi atau meninggalkan orang yang ia cintai, baru ia akan merasakan cinta yang sebenarnya,"Jelas Revin membuat Vivian terdiam.
"Aku menyukaimu apa adanya, tidak pernah memandang usiamu yang hanya terpaut 3 tahun lebih muda dariku. Aku hanya ingin kamu, tidak yang lain," ucap Revin lagi memjuat Vivian berhambur kepelukannya dan memeluk erat pria yang ia cintai itu.
Revin membalas pelukan Vivian dengan begitu erat, hingga satu tetes air yang jatuh dari langit mengenai mereka.
Revin melepaskan pelukannya dan segera manarik Vivian untuk berdiri agar mereka bisa segera pergi dari taman itu, karena hujan yang turun semakin deras.
Saat tiba didepan motornya, Revin membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Vivian, dan segera naik ke motor.
Vivian memakai jaket Revin, lalu segera naik ke motor dan memeluk erat pinggang Revin, dan hujan yang turun ke bumi semakin deras membuat Revin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk segera ke apartemennya.
Untung saja kondisi jalan saat itu tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, membuat Revin bisa dengan cepat tiba di apartemen.
***Ketika kapal sudah berlabu membela samudra, ia hanya akan tiba di pelabuhan tujuannya.
Sama seperti hati, yang hanya akan tertuju pada satu orang yang sudah menjadi takdirnya***.
__ADS_1