SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
ALARM


__ADS_3

DUK.


Revin terjatuh dari tempat tidur, karena terkejut mendengar suara teriakan disamping kamarnya, jelas bukan dari kamar kakaknya.


"Aduh, pinggangku," rintih Revin dengan menyentuh pinggangnya, "Siapa sih yang teriak pagi-pagi, bikin kaget aja," ucap Revin kemudian bangkit lalu berjalan kepintu untuk mengintip, siapakah yang berteriak pagi ini, hingga meganggu tidur nyenyaknya.


Revin membuka sedikit pintu kamarnya dan terkejut mendengar suara teriakan Carlos yang mengumpat.


"SIA**N, KAU FIKIR ITU TIDAK DINGIN APA!" teriak Carlos dari dalam kamar membuat ketiga sahabatnya itu terkejut, bahkan sudah mengeluarkan kepala keuar pintu kamar masing-masing untuk melihat apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi pada Carlos?" tanya Revan pada kedua orang yang kini berdiri dihadapannya, lebih tepatnya didepan pintu kamar Carlos.


"Tidak tau," ucap Reon dengan mengedikkan bahunya, "Kau belum mandi, Vin?" tanyanya yang melihat Revin masih dengan penampilan bangun tidurnya, sangat acak-acakan.


Revin hanya menganggukkan kepalanya, membuat Revan hanya mampu mengeleng.


Mereka bertiga saling bertukar pandang, kemudian mengangguk dan membuka sedikit pintu kamar Carlos, untuk melihat apa yang terjadi pada sahabat mereka itu.


Mereka bertiga terkejut melihat Franco didalam kamar Carlos dengan wadah berukuran sedang ditangannya. Mereka menelan saliva saat melihat Carlos yang dalam keadaan basah kuyub diatas tempat tidur.


"Maaf tuan muda Carlos, ini adalah perintah dari tuan besar, untuk segera membangunkan kalian," ucap Franco sopan dengan sedikit membungkukkan badannya.


Carlos terdiam dengan mulut yang terbuka, sedang tiga orang yang mengintip dipintu tidak jauh berbeda.


'Astaga, apakah ini yang dinamakan penyiksaan sesungguhnya,' ucap Revin dalam hati dan segera beranjak dari sana untuk masuk kekamar dan mandi.


Revan dan Reon menatap heran pada Revin yang berlari dengan terburu-buru seperti itu.


Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Reon yang memengang knock pintu menjadi tidak seimbang dan terjatuh dengan Revan yang menindih tubuhnya.


"Aduh! Revan berdiri cepat! kau mematahkan pinggangku tau!" ucap Reon kesal membuat Revan segera bangkit dan menatap seseorang yang juga menatapnya tidak percaya.


"Tuan muda? anda baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah datar.


Reon yang mendengar hal itu segera bangkit dan berjalan kekamarnya, sedang Revan berdiri dan menatap Franco dingin.


"Saya permisi, Tuan muda. Saya akan membangunkan adik anda juga," pamit Franco dan melangkah melewati Revan.

__ADS_1


"Dia sudah bangun," ucap Revan membuat Franco menghentikan langkahnya.


"Terima kasih atas infonya, tuan muda Revan," ucap Franco dan berbalik untuk menuruni anak tangga.


Revan menatap Carlos yang berjalan kekamar mandi dengan keadaan basah kuyub.


* * *


Lima belas menit kemudian.


Kini mereka semua telah duduk dimeja makan, hanya ada keheningan disana tanpa ada yang berbicara sedikit pun.


"Bagaimana tidur kalian?" tanya Daenji memecah keheningan pada keempat remaja itu.


Mereka berempat terdiam dan menelan saliva mereka dengan susah payah.


"Maaf, Grandpa ....," cicit Carlos yang sedikit takut mengatakan hal itu.


"Ada apa, Carlos?" tanya Daenji dengan raut wajah tanpa masalahnya itu, yang semakin membuat keempat remaja itu merinding.


"Oh iya, aku hampir lupa memberi tahu kalian," ucap Daenji membuat keempat remaja itu mendongak dan menelan saliva mereka dengan susah payah.


"Ada peraturan lain yang harus kalian patuhi, yang pertama, kalian harus bangun pagi sebelum jam 6 pagi, setelah itu mandi lalu lari pagi dipekarangan rumah sebanyak 20 putaran," ucap Daenji penuh penekanan membuat mereka berempat terdiam dengan mata yang melotot dan mulut yang sedikit terbuka.


"Tapi Grandpa ....," ucap Revan yang ingin protes, tapi terhenti karena Daenji yang sudah berbicara.


"Tidak ada bantahan, titik tidak pake koma!" ucap Daenji membuat keempat remaja itu terdiam.


"Yang kedua, kalian harus mencuci pakaian sendiri, karena para pelayan hanya membersihkan rumah ini, dan juga pekerjaan lainnya, jadi tidak ada waktu untuk mencuci pakaian kalian," ucap Daenji semakin membuat mereka berempat terdiam dan sedetik kemudian.


"TIDAAAKK!" teriak Revin dengan keras.


* * *


Pukul 7:30 pagi.


"Sudah ... berapa ... putaran?" tanya Carlos dengan nafas yang tidak beraturan.

__ADS_1


Revan, Revin dan Reon hanya terdiam dengan terus berlari memutari pekarangan rumah keluarga Su yang sangat luas itu, bahkan seperti lari dilapangan bola menurut mereka.


"Tiga ... belas ... putaran," ucap Revan saat mereka tiba digaris permulaan mereka berlari tadi.


Mereka sudah berlari 20 menit tanpa jeda dengan hanya memakai celana panjang berwarna hitam yang biasa dipakai oleh para anggota militer saat berlatih dan tidak lupa dengan kaos hitam lengan pendek.


"Kenapa ... kakek ... kalian ... begitu ... kejam," bisik Reon dengan nafas yang tidak beraturan pada Revan dan Revin yang tidak jauh berbeda dengan kondisinya sekarang.


"Aku ... berharap ... ini ... mimpi," ucap Revin dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


"CEPAT LAKUKAN, JIKA KALIAN BERLARI BEGITU PELAN, KAPAN KALIAN SELESAI!" ucap Daenji dengan mengunakan pengeras suara dan duduk santai dibawah pohon, yang berada ditengah pekarangan tempat keempat remaja itu berlari.


"Sia**n," umpat mereka berempat bersamaan dan segera berlari dengan cepat untuk menyelesaikan lari pagi menjelang siang ini.


Lima belas menit kemudian.


"Akhirnya ....," ucap Revin dengan menidurkan tubuhnya diatas rumput dibawah pohon tempat Daenji duduk dengan santainya.


"Kau ... akan ... membunuh ... cucumu ... Grandpa," ucap Revin dengan nafas yang tidak beraturan dan menerima air mineral botol yang diberikan Franco padanya.


"Lemah sekali kalian ini, ayah kalian saja sanggup untuk 30 putaran, bahkan lebih," ucap Daenji meremehkan keempat remaja itu, yang meminum air mineral botol dan menatap malas padanya.


"Kalian hanya menduplikat wajah mereka saja, tapi kekuatan tidak," ucap Daenji semakin membuat telinga keempat remaja itu panas.


"Payah sekali," ucap Daenji dengan mengelengkan kepalanya dan tiba-tiba Revin berdiri dari duduknya lalu kembali berlari.


Revan, Reon dan Carlos terdiam melihat hal itu, sedang Daenji tersenyum kecil. Kini ia tau, kalau sifat Arian yang tidak suka diremehkan menurun pada anaknya.


"Revin, tunggu!" ucap Revan lalu berlari menyusul Revin yang sudah mengambil satu putaran tambahan.


Reon dan Carlos bertukar pandang satu sama lain dengan masih meminum air mineral botol yang hampir tandas itu.


"Kau ingin berlari lagi?" tanya Carlos pada Reon yang menyimpan botol air yang tinggal setengah didekat botol air kedua saudara itu.


"Aku tidak suka dipanaskan seperti itu," ucap Reon dan berlari menyusul kedua sahabatnya, diikuti oleh Carlos yang hanya bisa mengelengkan kepalanya.


Daenji yang melihat hal itu tertawa kecil, sungguh sangat menyenangkan membuat keempat remaja itu panas seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2