
Revin terdiam dan mengikuti arah pandang sang kakak.
"Aku bisa jelaskan," ucap Revin pada kakaknya itu.
Kini Revin tengah duduk di tepi tempat tidur dengan Revan yang duduk di sofa di kamar itu.
Revan menghembuskan nafasnya kala Revin selesai bercerita tentang bekas gigitan di bahunya yang adalah ulah dari Vivian.
"Siapa juga yang memintamu untuk melajukan motormu dengan sangat cepat, kamu memang yang mencari masalah," ucap Revan membuat Revin hanya mampu menunduk.
"Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Revin yang sudah jera dan tidak ingin di gigit lagi oleh kelinci ganas itu.
Revan berdiri dari duduknya dan beranjak keluar dari kamar Revin setelah mengacak rambut adiknya itu.
Revan masuk ke dalam kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya lalu mendekati tempat tidurnya dan duduk di atas tempat tidurnya itu.
Revan mengambil laptopnya kemudian menelfon Reon.
"Halo," ucap Revan saat telfonnya di angkat oleh Reon.
"Halo, Revan. ada apa?" tanya Reon di seberang telfon.
"Siapa yang melakukan hal itu pada Rania?" tanya Revan to the point.
"Kamu tau ketiga siswi di kelas kita itu, yang bernama Risa, Kely dan Fany. mereka bertiga yang sudah melakukannya, dan bahkan menarik rambut Rania dengan keras," ucap Reon membuat Revan mengepalkan tangannya.
"Oh iya, Van. apa kamu melihat helmku, aku mencarinya kemana-mana di sekolah tadi, tapi sama sekali tidak bisa menemukannya," ucap Reon resah karna helmnya hilang dan tadi hampir saja ia masuk ke kantor polisi karna tidak mengunakan helm ketika berkendara.
Revan terdiam mendengar ucapan Reon dan kemudian mengingat jika hel yang tadi di gunakan Rania yaitu helm Reon, Entah tertinggal dimana, Revan lupa.
"Beli saja yang baru," ucap Revan membuat Reon mendengus kesal di seberang telfon.
"Sangat mudah mengatakan hal itu, tapi helm itu adalah hadiah papiku saat aku berulang tahun ke 16 tahun bersama dengan motor," ucap Reon pada Revan di seberang telfon.
Revan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal dan juga ia mulai merasa bersalah pada Reon.
"Ya sudah, aku ingin melakukan sesuatu," ucap Revan lalu mematikan telfon sepihak tanpa menunggu jawaban Reon.
__ADS_1
Revan meletakkan ponselnya di sampingnya kemudian Mengetik sesuatu di laptopnya.
Tiga puluh menit kemudian.
Revan selesai dengan apa yang ia kerjakan dan tersenyum senang melihat hasil kerjaannya.
"Kalian bertiga, tidak akan ku maafkan." ucap Revan dengan senyum devil di bibirnya.
Revan turun dari tempat tidurnya kemudian mengambil jaketnya di lemari lalu segera membuka pintu kamarnya dan kemudian keluar.
Revan menuruni tangga dan tiba di ruang tamu, Revan terkejut saat melihat ayahnya sudah pulang dan kini berjalan mendekatinya.
"Revan, masuk ke ruangan kerja, Daddy!" ucap Arian tiba-tiba kemudian berjalan menuju ke ruang kerjanya.
Revan terdiam kemudian mengikuti ayahnya, ke ruang kerja pribadi milik daddynya itu.
Revan masuk dan kemudian mengunci pintu dan menatap sang ayah yang menatapnya datar.
"Ada apa?" tanya Arian tiba-tiba dengan raut wajah penuh khawatir.
"Maksud Daddy apa?" ucap Revan seolah-olah tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Daddynya.
"Jangan pura-pura tidak tau, Revan. kamu lupa jika daddy tau semua apa yang kalian lakukan di luar rumah ini, dan juga daddy mengenal kalian luar dan dalam," ucap Arian kemudian menaruh jari telunjuknya di dada putranya itu.
Revan tau jika dia pasti tidak akan bisa menyembunyikan hal itu terlalu lama, Revan menghembuskan nafasnya kemudian menceritakan semuanya pada Arian.
Revan menceritakan jika ia mengunakan H&G Group untuk menjatuhkan 3 perusahaan yang cukup berpengaruh dengan meretas sistem mereka lalu membeberkan semua rahasia perusahaan itu ke publik.
Arian menghembuskan nafasnya lalu menatap Revan.
"Kamu baru melakukannya beberapa saat yang lalu, Daddy tidak melarangmu untuk melakukan hal itu, tapi apa yang membuatmu marah dan membuat tiga perusahaan itu anjlok," ucap Arian pada putranya dengan menyilang tangannya di depan dada.
"Mereka membuatku kesal, mereka juga ...," ucap Revan menghentikan ucapannya membuat Arian mengernyit heran.
"Apa ini ada hubungannya dengan Rania," tebak Arian dan berhasil membuat Revan menatapnya.
"Daddy rasa tebakan daddy benar, apa yang terjadi pada Rania?" tanya Arian masih menatap putranya itu lekat.
__ADS_1
Revan menghembuskan nafasnya kemudian menceritakan pada Arian apa yang menimpa Rania di sekolah tadi, Arian mengepalka tangannya saat Revan selesai menceritakan hal yang menimpa Rania.
Arian menepuk pelan bahu kanan Revan membuat Revan menoleh pada ayahnya yang berdiri di sampingnya.
"Daddy tidak akan melarangmu untuk menghancurkan mereka, lakukanlah apa yan ingin kamu lakukan, jika perlu bereskan mereka sampai di akarnya," ucap Arian kemudian meninggalkan Revan yang terdiam.
Tiba-tiba Revan tersenyum kecil dengan mata yang menatap punggung ayahnya yang perlahan-lahan menghilang di balik pintu.
"Terima kasih, Daddy," ucap Revan segera keluar dari ruangan itu dan memakai jaketnya dan segera keluar dari ruangan ayahnya.
Revan segera menaiki motornya dengan hati yang senang karna mendapat restu dari sang ayah.
Revan menyalakan mesin motornya dan segera melajukannya meninggakan kediamannya.
* * *
Sementara itu, Revin tengah bermain game di ponselnya hingga tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
Revin mengernyit heran kemudian segera membuka notifikasi itu dan terkejut saat melihat isinya.
'Kenapa kakak mau melakukan hal seperti ini, sejak kapan dia ingin repot seperti ini?' ucap Revin dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.
Notifikasi yang masuk ke ponsel Revin adalah pengunaan akunnya untuk meretas sistem perusahaan lain, atau bisa ku bilang akun fake miliknya yang selalu ia gunakan untuk mereyas sistem perusahaan lain dan yang mengetahui sandinya adalah dirinya dan Revan.
Jadi jika bukan ia yang mengunakan akunnya sudah pasti jika Revan yang mengunakannya tapi pertanyaannya adalah, tumben kakaknya itu ingin melakukan hal yang merepotkan seperti meretas sistem perusahaan lain padalkan kakaknya itu orang yang hanya ingin menerima beres saja.
'Sungguh aneh,' ucap Revin dalam hati merasa aneh dengan kakaknya itu.
* * *
Pukul 6:30 malam.
Revan tiba di rumahnya dan segera memasukkan motornya ke garasi.
Revan segera turun dari motornya dan segera masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang, karna perkerjaannya sudah selesai.
Revan terhenti saat tiba di ruang tamu dan terkejut ketika melihat sang ibu yang begitu serius menonton tv sampai tidak menyadari jika dirinya sudah pulang.
__ADS_1
"Mommy, aku pulang," ucap Revan membuat Ana menoleh dan kemudian tersenyum.
"Mommy sedang nonton ...," ucap Revan yang terhenti saat melihat apa yang di tonton oleh sang ibu.