SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PERASAAN


__ADS_3

Revan terdiam mendengar pertanyaan sang ayah yang benar-benar membuatnya heran.


"Maksud daddy apa?" tanya Revan dengan raut wajah bingung.


Arian menghembuskan nafasnya mendengar ucapan sang anak yang memang sama sekali tidak peka dengan hal yang disebut dengan perasaan manusia.


"Kamu fikirkan semuanya baik-baik, daddy dan mommy akan merestui apapun pilihanmu, jalanmu dan Revin masih panjang dan berliku, jadilah kakak yang baik untuk adik-adikmu," ucap Arian dengan senyum diwajahnya.


"Dan ingat hal ini baik-baik, Revan. jangan biarkan penyesalan membuatmu terpuruk, dan lagi, jangan membohongi perasaanmu sendiri, Rania adalah anak yang baik," ucap Arian kemudian berbalik dan berjalan mendekati sang istri yang tertidur disofa.


Arian duduk diatas sofa dan membenarkan posisi Ana kemudian menidurkan kepala Ana dipahanya.


Revan hanya terdiam mencoba mencerna ucapan sang ayah.


'Apa maksud daddy, dan juga menyukai Rania? aku tidak pernah menyukainya, aku hanya ingin menjaganya saja, iya! hanya menjaganya, tidak lebih dari itu,' ucap Revan dalam hati menyangkal perasaannya pada Rania.


Revan mengacak rambutnya, entah mengapa dia jadi merasa sedikit bingung dengan dirinya sendiri.


Arian menatap Revan dengan sesekali tersenyum kecil.


'Kamu akan merasakannya perlahan-lahan, daddy berharap agar kamu tidak keliru lagi suatu saat nanti,' ucap Arian dalam hati dengan menghembuskan nafasnya lalu mengelus rambut istrinya yang masih terlihat polos padahal sudah berumur 37 tahun, tapi masih saja terlihat polos.


* * *


Pukul 4 sore.


Revan tengah bersiap-siap untuk segera pulang kerumah, setelah tadi membujuk sang ibu agar mengizinkannya kembali kerumah, karena dia benar-benar tidak bisa tinggal lebih lama lagi dirumah sakit.


"Kalau sudah sampai dirumah, kamu harus istitahat dikamar, tidak boleh berkeliaran dan membuat tangan kananmu mengangkat sesuatu," ucap Ana membuat Revan hanya mampu menganggukkan kepalanya.


Mereka bertiga pun keluar dari ruangan itu menuju ke lift untuk segera turun kelantai dasar dan pulang kerumah.


Di sisi lain, Rania berlari keluar dari gerbang sekolah untuk segera pergi kerumah sakit menjenguk Revan.


Rania menghentikan langkahnya ditepi jalan dengan nafas yang tidak beraturan karena berlari.


Rania melihat sekeliling dimana sama sekali tidak ada taksi yang lewat.

__ADS_1


'Bagaimana ini, aku harus segera kerumah sakit untuk segera melihat kak Revan dan menjaganya, kenapa taksi sama sekali tidak lewat sih,' ucap Rania yang mulai sedikit resah karna sama sekali tidak ada taksi yang melintas disana.


Tiba-tiba motor besar berwarna putih berhenti dihadapan Rania.


Reon membuka kaca helmnya kemudian menatap Rania yang juga menatapnya dengan tatapan terkejut.


"Kamu kok masih ada disini?" tanya Reon masih dengan memakai helmnya.


Biasanya setiap pulang sekolah Rania sudah tidak ada ditepi jalan seperti sekarang.


"Lagi nunggu taksi, kak Reon," ucap Rania dengan tersenyum kecil.


Reon hanya menangapi dengan ber oh ria tanpa suara.


"Ya udah, sini aku antar kamu pulang, dari pada nungguin taksi yang belum tentu lewat," ucap Reon menawarkan diri untuk mengantar Rania.


"Aku mau kerumah sakit, kak Reon." ucap Rania membuat Reon terdiam.


Reon terdiam mendengar ucapan gadis dihadapannya itu, Reon tersenyum kecil dibalik helmnya.


'Revan, sepertinya kamu sudah menemukan wanita yang cocok untuk masa depanmu, meski aku tau, kamu pasti belum menyadarinya sekarang, aku berharap agar gadis dihadapanku ini akan menjadi masa depanmu,' ucap Reon dalam hati dengan tersenyum kecil.


"Dia mengirim pesan padaku, katanya dia sudah bisa keluar hari ini, dan sepertinya sekarang dia sudah sampai dirumah," ucap Reon panjang lebar menjelaskan pada Rania.


'Kak Revan sudah keluar dari rumah sakit? kenapa dia tidak memberi tahukanku, aku ini mikir apa sih, aku bukan siapa-siapa, aku bukan pacar dia, jadi buat apa dia memberi tahukan hal seperti itu padaku,' ucap Rania dalam hati dengan mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba ia raskan dihatinya.


Reon yang melihat hal itu hanya terdiam, dia tahu jika wanita dihadapannya ini tengah menahan sesak dihatinya.


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Reon menyadarkan Rania dari lamunannya.


Rania tersenyum kecil kemudian naik ke jok motor Reon lalu berpengangan pada kedua bahu Reon.


Reon menyalakan mesin motornya kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


* * *


Sementara itu disisi lain, diwaktu yang bersamaan, Revin tengah menunggu didepan gerbang sekolah Vivian.

__ADS_1


Revin sudah menunggu hampir 15 menit diatas motornya, tapi Vivian belum juga keluar dari gerbang.


"Mana nih Bocil, belum keluar juga, padahal sekolah udah sepi gini," ucap Revin dengan sesekali mendengus kesal karena Vivian belum juga keluar.


Lima menit kemudian.


Vivian belum juga keluar dari gerbang sekolah, padahal kondisi sekolah saat ini sudah benar-benar sepi.


Revin menelan salivanya dengan susah payah, entah mengapa mendadak dia menjadi gelisah.


"Dia kemana sih, belum keluar juga dari tadi, tuh bocil udah pulang kali ya? atau jangan-jangan ...." ucap Revin segera turun dari motornya dan membuka helmnya kemudian berlari mendekati security yang ingin menutup gerbang sekolah.


"Pak, tunggu dulu!" ucap Revin sedikit berteriak pada security itu.


"Ada apa?" tanya security itu pada Revin yang kini berdiri dihadapannya.


"Saya mau cek kedalam dulu, pak. saya mau cari seseorang," ucap Revin dengan keadaan khawatir.


"Maaf, bukan aku tidak bisa mengizinkanmu masuk, hanya saja gerbang ini harus segera ditutup, dan lagi, semua siswa dan siswi sudah pulang dari tadi, tidak ada orang lagi," ucap security itu dengan menatap Revin.


"Tapi, pak ... dari tadi saya menunggu tapi orang yang saya tunggu belum juga keluar!" ucap Revin yang mulai sedikit meninggikan suaranya.


"Mungkin saja dia sudah keluar, tapi kamu tidak melihatnya, karena tadi siswa dan siswi kelas 3 pulang lebih dulu," ucap security itu membuat Revin hanya mampu menghembuskan nafasnya kemudian berbalik.


Baru 2 langkah Revin melangkahkan kakinya, tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya segera merongoh saku jaketnya.


Revin mengernyit saat melihat siapa yang menelfonnya, yang tidak lain adalah Carlos.


Revin segera mengangkat telfon dari Carlos.


"Halo, ada a ...," belum selesai Revin berucap, Carlos sudah berbicara.


"Halo, Vin. kamu dimana sih, kok kamu belum antar adikku pulang sih," ucap Carlos disebeeang telfon yang membuat Revin terdiam.


Revin mematika panggilan sepihak dan berbalik, kemudian segera berlari dan mendorong gerbang yang hampir saja tertutup.


Security itu terkejut melihat hal itu dan segera mengikuti Revin yang berlari memasuki sekolah.

__ADS_1


Sementara itu, Carlos mengernyit heran saat Revin mematikan panggilan sepihak.


"Nih orang kenapa?" ucap Carlos bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_2