
Seorang pria tengah duduk di bangku taman, menunggu seseorang dengan sesekali melihat jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.
"Kenapa dia belum datang?" ucap pria itu sedikit kesal, menanti seseorang yang tak kunjung datang, padahal jam tangannya sudah menunjukkan pukul 04:30 sore.
"Ini sudah lewat dari jam biasanya, kemana dia pergi?" ucap pria itu yang sudah benar-benar kesal.
Tiba-tiba ponsel disaku celananya berdering dan dengan cepat ia mengangkat telfon itu, yang tidak lain dari sang kakak.
"Halo, Brother. Ada apa?" ucapnya saat mengangkat telfon dari kakaknya itu.
"Kau di mana?" tanya sang kakak diseberang telfon yang tidak lain adalah Revan.
"Aku ditaman, menunggu Viona. Ada apa? apa ada hal penting?" tanya Revin berturut-turut membuat Revan diseberang telfon berwajah datar.
"Tadi orang tuanya menelfonku dan mengatakan jika Viona masuk kerumah sakit," ucap Revan membuat Revin mematung ditempatnya.
"Apa?! Bagaimana mungkin, apa yang terjadi padanya?" ucap Revin yang mulai khawatir pada sahabatnya itu.
"Tidak tau, katanya dia ditemukan penuh dengan luka digang kecil, tidak jauh dari taman dipusat kota, dan kini dia dirawat dirumah sakit xxx," ucap Revan panjang lebar, menjelaskan pada adiknya itu.
"Kapan orang tuanya menelfon kakak?" tanya Revin yang mulai mengepalkan tangannya.
"Dua puluh menit yang lalu," ucap Revan santai.
Revin mematikan panggilan sepihak dan segera berlari kearah motornya yang terparkir tidak jauh dari tempat ia duduk, sedang Revan mengernyitkan alisnya sedikit bingung.
"Hm, aku merasakan firasat buruk," ucap Revan menghembuskan nafasnya dan berjalan kearah kamarnya.
* * *
Sepuluh menit kemudian.
Revin menghentikan motornya diparkiran rumah sakit dan segera turun berlari memasuki lobi rumah sakit.
Revin terus berlari mencari kamar yang dikatakan perawat tadi padanya, ia segera membuka pintu ruangan itu dan terkejut melihat seorang gadis terbaring diatas brangkar dengan perban yang menutupi separuh wajahnya.
Pasangan parubaya itu menoleh pada Revin yang berjalan mendekat kearah brangkar.
"Apa yang terjadi, Bibi?" tanya Revin pada wanita parubaya itu.
"Kata polisi, Viona ditemukan digang kecil sudah penuh dengan luka, soal pelaku masih dicari hingga saat ini," ucap wanita parubaya itu meneteskan air matanya dan kemudian memeluk tubuh suaminya.
Revin menatap sayu sahabatnya itu, kemudian berjalan keluar ruangan untuk melakukan sesuatu.
"Akan kutemukan pelaku sia**n itu," ucap Revin penuh penekanan dan segera berlari keluar dari rumah sakit.
Dua puluh menit kemudian.
__ADS_1
Revin menghentikan motornya saat sudah tiba didepan rumahnya dan dengan cepat masuk kedalam, untuk melakukan sesuatu yang penting.
Revin berjalan melewati Revan dan Reana yang tengah duduk diruang keluarga dengan menonton tv.
Revan mengernyit bingung saat melihat sang adik yang melewatinya tanpa menyapa.
'Ada apa dengannya? apa tengah dalam masalah kah?' tanya Revan dalam hati pada dirinya sendiri.
Setelah tiba didepan kamarnya, Revin segera memutar knock pintu dan segera masuk.
Revin mengunci kamarnya dan mendekat kearah meja disamping tempat tidur, lalu mengambil laptopnya.
Cukup lama jari tangannya mengetik, akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut bukan main.
Revin mengepalkan tangannya melihat video itu, video dari cctv yang tidak jauh dari gang kecil tempat Viona ditemukan penuh luka.
"Wanita sia**n," umpat kesal Revin dan segera menutup laptopnya dan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang.
"Bawa keluarga Zang digudang tua di alamat xxx, segera!"
Setelah mengirim pesan itu, Revin segera keluar dari kamarnya.
"Mau kemana kau?" tanya Revan saat melihat Revin yang berniat pergi lagi.
Revin menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada sang kakak dan juga adiknya, yang menatapnya penuh tanda tanya.
* * *
Pukul 7 malam.
Revin berjalan mendekat kearah gudang tua yang cukup jauh dari jalan raya, yang begitu sepi dan terlihat menyeramkan.
Revin melangkahkan kakinya memasuki gudang tua itu dan terlihat beberapa pria dengan tato ditubuhnya, dan juga empat orang yang terikat dikursi dengan mulut yang disumpal dengan kain.
Seorang pria dengan tato ditubuhnya mendekat pada Revin dan tersenyum.
"Sesuai dengan perintahmu," ucap pria itu dengan senyum penuh arti diwajahnya.
Revin mengeluarkan amplok berwarna coklat dan memberikannya pada pria itu.
"Senang bekerja sama denganmu," ucapnya kemudian memberi perintah pada beberapa orang bawahannya untuk keluar dari gudang tua itu.
"Ini untukmu, mungkin saja kau membutuhkannya," ucap pria bertato itu dengan meletakkan belati ditelapak tangan Revin.
Kini tinggal Revin dan empat orang itu didalam, Revin berjalan mendekat kearah gadis yang terikat itu.
Revin membuka kain yang menutup mulut gadis itu kemudian membuka ikatan tangannya tapi tidak dengan kakinya.
__ADS_1
Saat Revin ingin membuka suara, sebuah tamparan keras mendarat dipipinya, diikuti dengan makian yang keluar dari bibir gadis itu.
PLAK!
"Dasar pria sia**n! mau apa kau! Beraninya kau melakukan hal ini pada keluarga Zang! Pria brengs*k! Tidak tau malu!" teriak gadis itu diikuti oleh makian.
Revin mengepalkan tangannya, emosinya sudah tidak bisa ia tahan lagi, hingga sesuatu didalam dirinya seperti menginginkan sesuatu.
Revin memgertakkam giginya darahnya berdesir dan tangan yang memegang belati itu terangkat dan bergerak menusuk perut gadis itu hingga mengeluarkan cairan merah.
* * *
Beberapa saat kemudian.
Revin terdiam dengan apa yang ia lihat, ia tidak percaya melakukan hal itu. Empat orang terkapar tak bernyawa dilantai dengan darah yang keluar dari luka disekujur tubuh.
Tubuh Revin lemas, belati yang ia pegang terjatuh dengan suara pintu yang terbuka. Revin membelalakkan matanya melihat seseorang yang mematung didepan pintu gudang dan menatap tidak percaya padanya.
"Vi ... Vivian," ucap Revin lirih dan gadis itu segera berlari menjauh, Revin segera mengejar Vivian yang terus berlari mendekat kearah jalan raya, di mana kendaraan berlalu lalang tanpa henti.
"AWASS!" teriak Revin namun terlambat, sebuah mobil telah menghantam tubuh gadis mungil itu hingga terlempar beberapa meter.
Revin segera berlari mendekat kearah Vivian dan berteriak meminta tolong, sedang pengemudi mobil yang menabrak telah pergi entah kemana.
* * *
Saat ini Revin beserta Arian dan keluarga Sia tengah berada diluar ruang operasi, menanti seorang dokter keluar.
Tidak lama kemudian, Revan dan Reon tiba dan segera menghampiri Revin yang duduk dengan kepala tertunduk menatap lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Reon pada Revin yang tersentak mendengar suaranya.
"Kau baik-baik saja, Vin?" tanya Revan dengan raut wajah khawatir pada adiknya itu.
"A ... aku baik-baik saja, maaf karena Vi ... Vivian mengalami kecelakaan karena a ... aku," ucap Revin dengan gemetar.
Carlos yang mendengar hal itu mendekat pada Revin dan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, jangan salahkan dirimu, Ini bukan salahmu," ucap Carlos tersenyum kecil, meski hatinya sangat khawatir pada adiknya itu.
"Aku berjanji, hal ini tidak akan terulang lagi, aku juga akan menjaganya, tanpa harus memiliki hubungan dengannya," ucap Revin berjanji membuat ketiga orang itu mengernyit bingung.
"Terserah kau saja, Vin," ucap Carlos dan segera bangkit saat melihat dokter keluar dari ruang operasi.
Samar-samar Revin mendengar perkataan dokter itu, yang mengatakan jika terjadi benturan keras dibagian kepala Vivian, dan mungkin akan mengakibatkan amnesia.
'Aku berharap agar ia benar-benar lupa dengan kejadian itu, maaf Vivian, aku orang jahat sangat jahat, aku minta maaf,' ucap Revin dalam hati dengan memengang kepala yang tertunduk.
__ADS_1