SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
RESTU


__ADS_3

Revan tersenyum kikuk dan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan mulut yang menguyah sarapannya.


"Aku tidak mengerti maksud Daddy," ucap Revan dengan suara sedikit gugup.


"Jangan begitu, Revan. Daddy tau kalau kau mengawasi Rania, bahkan selalu mendapat kiriman foto dari orang yang kau minta untuk mengawasinya 'kan ..," ucap Arian membuat Revan menelan salivanya dengan susah payah.


"I ... iya, Dad," jawab Revan dengan gugup, karena Arian mengetahui hal yang ia lakukan secara rahasia.


"Daddy tidak masalah dengan hal itu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" ucap Arian dengan tersenyum kecil pada putranya itu.


Revan mendongak dan menatap sang ayah, yang juga menatapnya dengan tersenyum kecil, mendapat lampu hijau dari sang ayah, membuat Revan tersenyum senang, dan bahkan dengan senang hati menceritakan rencananya.


"Aku akan menikahinya saat selesai kuliah, Dad. soal pendidikannya aku tidak masalah jika ia tetap melanjutkannya, aku hanya ingin dia memengang status sebagai istriku, soal siap untuk melayani, aku akan memberikannya waktu," ucap Revan dengan senyum diwajahnya membuat Arian ikut tersenyum.


Perbincangan singkat itu pun berakhir, saat Reana berjalan mendekat kearah mereka.


Tidak lama setelah Reana duduk dikursi disamping Revan, Ana keluar dari dapur dengan senyum diwajahnya, dan juga dengan nampan yang berisi kopi untuk Arian.


"Eh, Revin mana? bukankah tadi dia sudah bangun?" tanya Ana pada ketiga orang itu, saat sudah berdiri disamping sang suami dan menaruh kopi Arian dimeja makan.


"Dia naik lagi ke kamarnya, mom. untuk mandi," ucap Revan singkat dengan senyum diwajahnya.


Ana yang mendengar hal itu hanya ber oh ria tanpa suara, kemudian duduk disamping sang suami.


Tiga menit kemudian.


Revin menuruni anak tangga dan bergegas kemeja makan dengan wajah masamnya.


Revin menarik kursi disamping sang ibu, lalu duduk dan menatap kesal sang kakak.


Revan memakan makannya tanpa melihat kearah Revin, dan hal itu sukses membuat Revin semakin kesal.


"Brother, hentikan kebiasaanmu itu, kenapa kau begitu kejam pada adikmu ini," rengek Revin yang sudah bosan dibangunkan dengan cara spesial Revan.


Revan benar-benar sudah tidak tahan, kini ia menarik kembali kata-katanya, dan memilih untuk masuk kekelas dengan cara mengendap-endap seperti pencuri, dibanding harus dibangunkan dengan cara spesial kakaknya itu.


"Kalau begitu bangunlah lebih pagi, agar aku tidak perlu lagi membangunkanmu, dan lagi ... kenapa kau bisa tidur dilantai, bukan diatas tempat tidurmu itu? apakau sudah tidur seperti beruang!" ucap Revan panjang lebar.


Arian, Ana dan Reana terkejut melihat hal itu, lalu menatap Revin dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tidur dilantai saja, apa masalahnya," ucap Revin santay.


"Terserah kau sajalah," ucap Revan dan kemudian memakan sarapannya lalu menenguk air disampingnya.


"Ayo Reana," ajak Revan beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah.


Reana yang melihat hal itu, segera meminum air lalu beranjak dari duduknya mencium pipi Arian dan Ana, setelah itu mencium pipi Revin, lalu berlari kecil mengejar Revan.


"Aku pergi sekolah dulu, Dad, Mom," ucap Revin beranjak dari duduknya tanpa menghambiskan sarapannya dan segera meminun air dan keluar dari rumah.


Ana dan Arian terdiam melihat sikap Revin yang tidak seperti biasanya.


"Apa Revin benar-benar baik-baik saja?" tanya Ana pada Arian.


"Dia baik-baik saja, percayalah," ucap Arian dengan tersenyum pada istrinya itu.


Ana hanya menganggukkan kepalanya dengan membalas senyum Arian.


'Ada apa dengannya? apa aku melewatkan sesuatu?' tanya Arian dalam hati, pada dirinya sendiri.


* * *


Dengan malas Revin melangkah 'kan kakinya kekelas, Revin menghentikan langkahnya beberapa meter dari pintu kelasnya, saat seorang siswi menghadang jalannya.


"Kakak kelas Revin ... Saya ... saya menyukaimu," teriak siswi itu lantang, membuat semua siswa dan siswi menatap kearah mereka.


Carlos menghentikan motornya disamping motor Revin, Felisia dengan cepat turun dari motor dan berlari kecil menghampiri kerumanan itu diikuti oleh Carlos.


Carlos membelalakkan matanya saat mendekati keruman itu dan melihat raut wajah sahabatnya yang terkejut, namun sedetik kemudian tersenyum.


'Hah? apa aku salah lihat tadi? raut wajah Revin terkejut? ah tidak mungkin, dia mana mungkin terkejut dengan pernyataan cinta yang sudah biasa didengar,' ucap Carlos dalam hati, menepis hal yang ia lihat tadi.


"Dengan senang hati aku menerimanya, Viona cantik," ucap Revin membuat wajah gadis itu yang bernama Viona, merona merah.


"Ja ... jadi kita ... sekarang pacaran?" tanyanya dengan raut wajah berbinar, karena tidak menyangka jika pria yang ia sukai dan kagumi menerima pernyataan cintanya.


"Tentu saja, kenapa aku harus bohong," ucap Revin dengan tersenyum paksa, tapi tetap saja manis.


Revin menyelipkan rambut Viona kebelakang telinganya, membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan.

__ADS_1


"Baiklah sayang, sampai jumpa nanti," ucap Revin kemudian menyentuh pipi Viona lembut lalu berjalan kekelasnya.


Para siswi yang melihat hal itu, lagi-lagi patah hati, pangeran Revin yang tampan kini tidak jomblo lagi.


Revin mendudukkan dirinya dikursi miliknya, dan menaruh kepalanya diatas meja, dan terus menerus menghembuskan nafasnya kasar.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya pelan, membuatnya menoleh dan mendapati Carlos yang kini duduk dikursinya dengan menatap Revin.


"Bukankah kau bilang tidak akan punya pacar lagi tahun ini," ucap Carlos dengan tatapan intimidasinya.


"Oh, aku merubah niatku," ucap Revin singkat padat dan jelas.


Carlos mengernyit bingung, lalu kembali bertanya.


"Kenapa? apa kau melakukannya karena sesuatu?" tanya Carlos dengan menaikkan sebelah alisnya.


'Ini semua karena adikmu bodoh,' umpat kesal Revin dalam hati.


"Karena aku mau," singkat padat jelas, membuat Carlos seakan ingin menyumpal mulut sahabatnya itu.


"Terserah kau sajalah," ucap Carlos pasrah.


Carlos mengeluarkan ponselnya dan tersenyum kecil membuat rasa kesal Revin datang kembali.


"Bucin! gila!" ucap Revin kesal kemudian menoleh kearah lain, dengan tangan yang menjadi bantalnya diatas meja.


Carlos hanya melirik sekilas pada Revin kemudian kembali fokus pada ponselnya.


* * *


Disisi lain, Revan tengah duduk dikursinya didalam kelas, dengan fokus pada layar ponselnya.


Revan tersenyum saat melihat video yang dikirimkan oleh bawahannya padanya, video dimana Rania tengah tersenyum lebar dengan membaca buku ditangannya.


"Apa buku yang ia baca itu sangat lucu, sampai ia tersenyum dan tertawa seperti itu, sepertinya aku harus membeli buku yang seperti itu, agar aku tau seperti apa isinya," ucap Revan dengan senyum yang terukir diwajahnya.


Untung saja kondisi kelas saat itu sepi, hanya ada dirinya didalam kelas, sedang Reon tengah kencan diam-diam dengan Liona, entah dimana, Revan tidak tau.


Tiba-tiba senyum diwajah Revan pudar, saat mengingat sang adik.

__ADS_1


"Aku fikir, aku yang paling bodoh tentang perasaanku sendiri, tapi ternyata kau lebih bodoh dariku, Revin. Aku yakin, Revin pasti memiliki alasan kenapa ia tidak ingin mengingkari janjinya, akan aku cari tahu alasan itu, meski harus mengali privasimu," ucap Revam kemudian menpause video Rania, saat Reon berjalan mendekat kearahnya.


__ADS_2