SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
KOTA M


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


"Mommy! mommy lihat kunci motorku tidak?" teriak seorang pria yang tengah menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan ibunya.


"Coba kamu tanya sama Reana atau Revan!" teriak Ana pada putra keduanya itu.


Revin mengaruk kepalanya yang tidak gatal, pusing mencari keberadaan kunci motornya yang entah ia taruh di mana.


Revin berjalan dengan cepat mendekat ke sofa yang diduduki oleh Revan, yang begitu fokus pada laptopnya.


"Brother, apa kau melihat kunci motorku?" tanya saat sudah berdiri disamping Revan yang duduk disofa.


"Tidak tau," ucap Revan santai tanpa menoleh pada adiknya itu.


Revin menatap datar pada kakaknya itu, dengan malas ia melangkahkan kakinya kembali menaiki tangga untuk ke kamar adik perempuannya.


Revin membuka pintu kamar Reana tanpa mengetuk dan nendapati adiknya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk.


"KAK REVIN!" teriak Reana dan kembali memasuki kamar mandi, sedang Revin dengan malas menutup pintu kamar Reana dan terkejut melihat Revan yang sudah berdiri tepat didepannya.


"DASAR KAKAK MESUM!' teriak Reana dari dalam kamar, membuat wajah Revan semakin datar.


"Makanya kalau buka pintu kamar Reana, ketuk dulu baru masuk," ucap Revan dan berlalu dengan santai membawa laptopnya ke kamarnya.


Revim hanya berwajah datar mendengar ucapan kakaknya itu, ia menghembuskan nafasnya lalu mengetuk pintu kamar adiknya yang mungkin sudah selesai memakai baju.


Tok! Tok! Tok!


"Reana, kamu sudah selesai pakai bajunya?" teriak Revin membuat Reana mendegus kesal dalam kamarnya.


"Iya, sudah selesai!" teriak Reana dan Revin pun membuka kembali pintu kamat adiknya itu.


"Kak Revin kalau mau masuk kamar Reana, ketuk dulu dong! Jangan main masuk aja, Reana kan perempuan kak," gerutu Reana yang hanya diangguki oleh kakaknya itu.

__ADS_1


"Kakak cuma mau tanya, kamu liat kunci motor kakak ngga?" tanya Revin membuat Reana mengeryit.


"Kenapa tanya ke Reana? Kan itu motor kakak, ngga mungkin dong kuncinya ada sama Reana," ucap Reana membuat Revin seakan ingin memukul kepalanya sendiri.


"Kakak tahu, tapikan mungkin saja kamu liat," ucap Revin dan Reana nampak berfikir.


Cukup lama gadis itu berfikir, akhirnya ia berbicara membuat Revin seakan ingin mengubur dirinya sekarang juga.


"Ngga, Reana ngga liat," ucap Reana dan Revin pun segera berbalik lalu keluar dari kamar adiknya itu.


Revin menutup pintu kamar Reana dan kembali berjalan ke kamarnya dengan mengumpat kesal pada kunci motor yang entah di mana.


"Baru juga lima hari pulang dari negara S setelah lulus. Eh, malah kunci motor hilang entah kemana," ucapnya kesal lalu segera membuka pintu kamarnya dan masuk.


Revan, Revin, Reon dan Carlos sudah kembali lima hari yang lalu dari negara S, tentu saja setelah kelulusan mereka. Kini mereka sudah selesai mengambil S1 dan memutuskan untuk pulang kembali ke negara A, karena Reon yang sudah bersiap untuk menikah. Tinggal menghitung hari saja.


Mengingat hal itu, membuat Revin kembali murung. Pasalnya ia harus menunggu tiga tahun lagi, karena Vivian ingin kuliah diluar negara A, yaitu negara B karena Vivian diterima disalah satu universitas disana.


Carlos sendiri masih belum mengatakan kebenarannya pada Felisia, ia berkata akan pergi hari ini bersama dengan Revin. Tapi kunci motor Revin entah pergi kemana, ia sudah mancari kemana-mana tapi tidak menemukannya.


Revin merebahkan dirinya diatas tempat tidur dengan malas, ia terus saja menghembuskan nafas kasar. Ia memejamkan matanya dan sedetik kemudian kembali membuka kelopak matanya.


Ia mengerjap beberapa kali, lalu mengulurkan tangannya ke bawah bantal didepannya. Revin membulatkan matanya dengan sempurna saat mendapati sesuatu yang ia cari dari tadi.


"Kunci motor sialan!" umpat kesal Revin pada kunci motor yang kini ia pengang.


Ia bangkit dari tidurnya dan segera berlari keluar kamarnya untuk pergi bersama Carlos ke kota M.


Reana terkejut saat keluar dair kamar dan mendapati sang kakak yang berlari dengan terburu-buru menuruni anak tangga.


"Sepetinya dia sudah menemukan kunci motornya, sampai lari seperti orang gila begitu," ucap Reana dengan menatap aneh kakak keduanya itu.


* * *

__ADS_1


Revan merebahkan dirinya diatas tempat tidur setelah tadi menaruh laptopnya diatas meja dikamarnya itu. Ia meraih ponselnya dan melihat foto Rania yang tengah mencium pipinya.


"Tinggal beberapa hari lagi, setelah itu kita jadi suami istri," ucap Revan dengan tersenyum pada fotonya dan Rania yang begitu banyak memenuhi memori ponselnya.


"Aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk, jika tidak selesai akan sangat sulit untuk bulan madu nanti," ucap Revan lalu memijit keningnya yang sepeti ingin pecah.


Dua tahun yang lalu, Arian memberikan dana pada Revan untuk membangun perusahaannya sendiri dan hal itu berhasil. Hingga sekarang perusahaannya memiliki banyak cabang di negara S maupun A.


Dan hal itu sukses membuat kepalanya pusing sendiri, tapi Revan tidak mengeluh akan hal itu, toh demi masa depannya dan istrinya.


Ingin sekali rasanya Revan menghubungi Rania, tapi ia tahu jika wanitanya tengah berada didalam kelas saat ini.


Setelah lulus di sekolah menengah atas, Rania melanjutkan pendidikannya dikampus yang sama dengan Revan, satu tahun sebelum Revan pulang, Rania adalah juniornya dikampus.


Mereka bahkan memamerkan kemesraan saat dikampus, membuat beberapa wanita iri pada Rania yang bisa bersenda gurau bersama dengan empat pria tampan dikampus itu.


"Mungkin akan lebih baik jika tidur sejenak, sebelum melanjutkan pekerjaan," ucap Revan lalu memejamkan matanya perlahan.


* * *


"CARLOS! Bisakah kau lebih cepat! Padahal kamu yang sedari tadi menggangguku dan memintaku untuk segera pergi kesini!" ucap Revin kesal pada seorang pria yang tengah memakai helm dengan hati-hati didepan rumah.


"Diamlah kau! Jangan pernah membentak calon kakak iparmu, jika tidak ... maka tidak akan ada restu dariku," ucap Carlos membuat Revin seakan ingin memukul kepala pria itu.


Satu tahun yang lalu, Carlos mengetahui jika Revin dan Vivian menjalin hubungan membuat ia terkejut setengah mati. Bahkan ia sampai bertanya beribu-ribu kali pada adiknya, tentang benar atau tidaknya hal yang ia dengar itu.


Dan setelah ia mengetahui jika itu benar, maka Carlos dengan terang-terangan mengancam jika Revin tidak menuruti apa yang ia katakan, maka restunya tidak akan ada untuk hubungan Revin dan Vivian.


"Ayo!" ucap Carlos dan segera melajukan motornya ke bandara.


Revin dengan cepat mengikuti motor Carlos, meski sebenarnya ia malas untuk pergi ke kota M. Tapi demi restu dari kakak ipar sialannya itu, ia harus mau.


'Penyesalan memang selalu datang belakangan, seandainya dia tidak tahu hari itu, mungkin tidak akan memaksaku seperti sekarang. Dasar Carlos sialan!' umpat kesal Revin dalam hati, sungguh kesal setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2