
Pesan grup berturut-turut masuk kedalam ponsel Revin, membuat Revin yang ingin bermain game mendegus kesal.
"Revan ada dimana? aku menelfonnya tapi nomornya tidak aktif?" isi pesan dari Carlos digrup.
"Iya Revin, aku juga sudah menelfonnya sedari tadi tapi selalu tidak aktif, dia baik-baik saja 'kan? dia bersamamu 'kan?" isi pesan Reon yang bertanya tanpa henti.
"Revin jawab! aku tau jika kau sedang melihat pesan ini, kami khawatir tau, jawab mantannya Bella," isi pesan Carlos yang membuat Revin kesal.
"Diam Jomblo sia**n, berisiki banget jadi orang, ngangu orang mau main game aja," isi pesan Revin yang kesal pada Carlos dan juga Reon.
"Kalau gitu jawab, mantannya Bella," isi pesan Carlos yang membuat Revin semakin kesal.
"Hey sia**n, kamu bilang gitu lagi, aku buka akun gamemu terus aku hapus semua data didalam, mau!" isi pesan Revin mengancam Carlos.
"Wah sia**n, jangan lah, iya-iya ngga bilang lagi" isi pesan Carlos takut jika akun gamenya benar-benar dihapus oleh iblis kejam itu yaitu Revin.
"Sekarang jawab pertanyaan kami, dimana Revan? ada hal yang ingin kubicarakan dengannya," isi pesan Reon membuat Revin menghembuskan nafasnya perlahan.
"Dia dirumah sakit," isi pesan Revin singkat padat dan jelas.
"Ngapain dia kerumah sakit?" isi pesan Reon dan Carlos bertanya pada Revin.
"Dia tidak mungkin sakitkan, karena perasaan saat dia meninggalkan sekolah masih baik-baik saja tuh," isi pesan Reon tidak percaya jika Revan pergi kerumah sakit.
Tiba-tiba Reon dan Carlos melakukan panggilan grup pada Revin, Revin pun menhela nafas panjang kemudian mengangkat telfon dari kedua sahabatnya itu.
"Halo ...," ucap Revin saat mengangkat telfon grup yang dilakukan oleh Carlos dan Reon.
"Ngapain Revan dirumah sakit, Vin. perasaan dia baik-baik aja tuh tadi pas pergi dari sekolah," ucap Reon diseberang telfon.
"Tidak mungkinkan dia sakit mendadak, padahal daya tahan tubuhnya kuat," ucap Carlos menimpali ucapan Reon.
"Dia kena peluru dilengannya," ucap Revin santay.
"APAAA!" teriak Reon dan Carlos secara bersamaan dan tidak lama kemudian terdengar suara sesuatu yang jatuh.
BRUK
Carlos terjatuh dari tempat tidurnya dengan wajah yang mencium lantai lantaran terkejut dengan yang Revin ucapkan.
"Apaan tuh?" tanya Revin pada kedua sahabatnya diseberang telfon.
__ADS_1
"Aduh kepalaku," rintih Carlos membuat Revin dan Reon mengernyit bingung diseberang telfon.
"Kamu jatuh dari tempat tidur, Car," tebak Reon membuat Revin mengernyit dan ....
"Buhahaha, aduh si jomblo jatuh dari tempat tidur," ucap Revin disela-sela tawanya pada Carlos diseberang telfon.
'Sia**n, teman sia**n,' umpat Carlos dalam hati.
"Dia dirumah sakit mana?" tanya Reon diseberang telfon menanti jawaban begitu pun dengan Carlos menanti jawaban dari Revin.
"Kirimkan alamatnya pada kami," ucap Reon dan kemudian mematikan panggilan grup dan segera bersiap begitu pun dengan Carlos.
Revin menghembuskan nafasnya lalu mengirim alamat rumah sakit lewat grup pada kedua sahabatnya.
Revin kembali memasukkan ponselnya disaku celananya karna tiba-tiba moodnya menjadi buruk.
Fira keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi teh hangat untuk Revin.
Revin tersenyum saat Fira menaruh teh dimeja dihadapannya.
"Terima kasih, Bibi," ucap Revin dengan tersenyum pada Fira.
Revin mengambil cangkir teh itu berniat untuk meminumnya, Revin meniup teh itu lalu bersiap untuk meminumnya, tapi suara Rania membuatnya menoleh.
"Kak Revin, Ayo!" ucap Rania yang sudah berdiri disamping Revin dengan penampilan yang sudah rapi.
Revin terdiam melihat hal itu kemudian menatap teh hangat yang ia pegang lalu kembali menoleh pada Rania yang sudah tidak sabar untuk pergi dan melihat keadaan Revan.
Revin menghembuskan nafasnya lalu menaruh cangkir teh itu kembali ke meja tanpa meminumnya.
Revin berdiri dari duduknya lalu berpamitan pada Fira dan keluar. Rania berpamitan pada Fira lalu segera menyusul Revin yang sudah keluar sedari tadi.
Revin dan Rania segera berjalan kearah parkiran setelah keluar dari lift.
Revin naik ke motornya diikuti oleh Rania yang segera naik ke jok motor dan duduk.
Revin melajukan motornya meninggalkan parkiran apartemen Kimso dengan hati yang sedikit sedih.
'Buru-buru banget sih ingin bertemu dengan Brother sampai tidak membiarkanku meminum teh buatan bibi Fira,' ucap Revin dalam hati sedih karena tidak meminum teh tadi meski hanya setetes.
Dua puluh menit kemudian.
__ADS_1
Revin menghentikan motornya saat sudah tiba diparkiran rumah sakit dimana sudah ada motor Reon dan Carlos disana.
Rania segera turun dari motor dan berlari masuk kedalam rumah sakit tanpa menunggu Revin.
Revin terdiam melihat hal itu, Revin segera membuka helmnya lalu turun dari motor dan berjalan memasuki lobi rumah sakit.
Tiba-tiba ponsel Revin berdering membuat Revin menghentikan langkahnya dan segera merongoh saku celananya.
Revin segera mengangkat telfon yang tidak lain dari Desta.
"Halo," ucap Revin kemudian kembali berjalan dengan pelan menuju ke ruang operasi.
"Halo tuan Revin, kami sudah mengumpulkan semua anggota keluarga Diu dimarkas beserta dengan kepala keluarga Diu, apa yang harus kami lakukan dengan mereka?" ucap Desta diseberang telfon dengan menatap dingin pada 8 orang yang tengah terikat ditengah ruang introgasi markas Dragon night.
Revin menghentikan langkahnya dan mendadak raut wajahnya berubah dingin.
"Tahan mereka, aku akan kesana jam 9 malam nanti," ucap Revin kemudian mematikan panggilan sepihak dengan mengepalkan tangannya.
Saat Revin ingin memasukkan ponselnya kembali kesaku celananya, lagi-lagi ponsel itu berdering menandakan panggilan masuk.
Revin mengerang kesal dan melihat siapa yang menelfonnya yang tidak lain adalah Carlos.
"Apaan complex?" ucap Revin saat sudah mengangkat telfon dari Carlos.
Carlos terdiam mendengar hal yang dikatakan oleh Revin.
"Apaan, Complex apaan sih, Vin?" tanya Carlos bingung pada perkataan Revin.
Revim menghenbuskan nafasnya, lalu berbicara.
"Tidak ada, kenapa menelfon?" tanya Revin yang sedang tidak ingin berdebat dengan Carlos, (Meskipun dia yang tadi ingin memulainya)
"Revan sudah dipindahkan keruangan rawat VVIP, aku takut jika aku tidak menelfonmu, maka kamu akan pergi keruang operasin Cepatlah, Rania sudah ada disini," ucap Carlos menjelaskan membuat Revin menghentikan langkahnya.
"Baiklah, terima kasih, Car." ucap Revin kemudian mematikan panggilan sepihak dan segera berlari memasuki lift untuk naik ke lantau lima ruangan VVIP.
* * *
Sementara itu, Revan terus menghembuskan nafasnya karna sang ibu yang memperlakukannya layaknya anak kecil, padahalkan dia cuma terluka dilengan kanannya tapi kenapa harus diperlakukan seperti ini.
Revan menatap kearah Carlos dan Reon yang berushaa untuk menahan tawanya melihat hal dihadapannya yang menurut mereka sangat lucu.
__ADS_1