SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
IKUT SIAL


__ADS_3

Revin, Reon dan Carlos mengerutkan kening mereka saat melihat ekspresi Revan yang berubah saat melihat layar ponselnya.


"Ada apa?" tanya mereka bertiga bersamaan.


Revan tidak menjawab dan memilih diam dengan tangan yang terkepal. Revin, Reon dan Carlos bertukar pandang satu sama lain, mereka semakin bertanya-tanya dalam hati.


Revin memberanikan diri mengambil ponsel kakaknya itu dan melihat pesan teks yang tertera disana. Alis Revin mengerut, dan hal itu sukses membuat Reon dan Carlos semakin penasaran.


"Ada apa sih?!" ucap Reon uang kini berdiri dihadapan Revin, lalu mengambil ponsel Revan dan melihat isi pesan itu.


"Sialan! Apa yang harus kita lakukan?" ucap Carlos yang begitu terkejut melihat pesan itu, dan hal itu jelas dikirim oleh seseorang yang membunyikan genderang perang untuk mereka.


"Jadi ... apa yang harus kita lakukan Revan?" tanya Reon lalu mereka pun menatap Revan yang masih terdiam.


"Dia yang memulainya, maka kita yang akan mengakhirinya," ucap Revan tegas dengan tatapan mata serius menatap ketiga pria dihadapannya.


"Sekali maju, pantang mundur! Lagipula, kalian pasti masih memiliki dendam dengan pria itukan?" tanya Revin membuat raut wajah Reon dan Carlos menjadi dingin seketika


"Apakau fikir dendam itu sudah berakhir? Itu tidak akan pernah terjadi, kecuali jika pria sialan itu mati!" ucap Carlos penuh penekanan.


Revin terdiam mendengar hal itu, ia menghembuskan nafasnya lalu menatap sang kakak yang nampak berfikir keras.


"Ada apa? Apa yang kau khawatirkan?" tanya Revin berturut-turut.


"Rania," lirih Revan membuat ketiga orang itu terdiam.


Tiba-tiba Revin, Reon dan Carlos menepuk pelan bahu Revan, menyadarkan pria itu dari kerisauan yang memenuhi fikirannya.


"Kau tenang saja, kami akan menjaga Rania juga," ucap Carlos dengan tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Revan menatap Revin, Reon dan Carlos yang tersenyum padanya, ia menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman ketiga pria dihadapannya.


* * *


Pukul 7 malam.


Kini mereka tengah makan malam bersama dengan Daenji dimeja makan dalam keadaan hening.


Daenji menatap satu persatu cucunya itu, ia sedikit bingung dengan keempat remaja yang tidak seperti biasanya.


"Apa kalian ada masalah?" tanya Daenji memecah keheningan.


Revan, Revin, Reon dan Carlos mendogak dan menatap Daenji yang juga menatap mereka. Mereka mengelengkan kepala bersamaan, tidak ingin menceritakan apa yang terjadi pada mereka, tujuan mereka akan tetap sama, menyelesaikannya hingga tuntas.

__ADS_1


Daenji menghembuskan nafasnya, keempat cucunya itu selalu suka bermain rahasian dengannya.


"Terserah kalian saja. Jika ada sesuatu yang bisa kakek bantu, maka katakanlah, jangan malu," ucap Daenji membuat mereka terdiam.


"Baik," jawab mereka serentak.


* * *


Pukul 6 pagi.


Empat pintu kamar terbuka, dan masing-masing penghuninya keluar dan segera berjalan menuruni anak tangga untuk segera kelantai dasar.


"Kami pergi dulu Grandpa!" ucap mereka serentak dan segera menyambar roti diatas meja dan berlari keluar dari rumah.


"Tidak perlu mengantar kami! Kami akan jalan kaki!" teriak mereka dengan terburu-buru keluar dari rumah.


Daenji dan Franco terdiam melihat hal itu, tidak biasanya mereka menjadi rajin seperti ini.


"Apa saya perlu mengintai mereka, tuan?" tanya Franco menatap Daenji.


"Tidak perlu! Cukup bantu mereka menjaga putri Kimso, aku percaya kalau mereka bisa menyelesaikan semuanya sendiri!" ucap Daenji dengan wajah seriusnya.


Franco mengangguk mengerti. Sebenarnya tanpa mereka sadari, kemarin Daenji tidak sengaja melihat keempat cucunya disebuah cafe bersama dengan satu gadis yang begitu ia kenal.


Daenji sangat terkejut ketika melihat Revan mencium Rania didepan umum, bahkan dengan terang-terangan mengatakan jika Rania adalah calon istrinya.


* * *


Ditengah perjalanan hanya ada keheningan, karena mulut mereka yang menguyah roti yang mereka ambil dimeja makan tadi.


Banyak orang yang berlalu lalang menatap kearah mereka, terutama Revin. Mereka merasa aneh, melihat satu pria tampan berjalan beriringan dengan tiga pria culun yang tidak selevel dengan ketampanan pria itu.


"Revin, bisakah kau memakai kacamata dan pakaian rapi ketika pergi ke kampus," ucap lirih Reon dengan menguyah roti dimulutnya.


"Kenapa?" tanya Revin penasaran.


"Kau membuat para gadis yang lewat memandang aneh kearah kami!" jawab Carlos menimpali pertanyaan Revin.


Revin menatap sekeliling dan memang banyak gadis yang melirik aneh kearah Revan, Reon dan Carlos.


"Apa liat-liat!" ucap Revin ketus membuat para gadis itu tersentak lalu segera memalingkan pandangan mereka kearah lain.


"Tuh, udah ngga kan. Gitu aja repot," ucap Revin acuh membuat Reon dan Carlos menatapnya dengan tatapan datar.

__ADS_1


Revan hanya diam, enggan untuk turut campur dalam perbincangan non faedah tiga pria itu.


"Bukankah hari ini kita akan diajar dosen gila olahraga air," ucap Revin mengingat siapa yang akan mengajar mereka hari ini.


"Perasaanku tidak enak," ucap Reon yang mendadak merasa pahit dengan salivanya.


"Aku juga. Semoga saja bukan hal buruk," ucap Carlos yang diangguki oleh Reon.


* * *


Revan, Revin, Reon dan Carlos menatap datar pada pemandangan dihadapan mereka.


"Sudah ku duga, dosen gila olahraga air itu akan mengajak kita ketempat penuh dengan air seperti sekarang," lirih Revin menatap tidak percaya jika mereka akan berada di kolam renang kampus itu, luas sekali.


"Aku benci kolam luas," lirih Reon berniat beranjak dari sana.


"Bagi siapapun yang tidak menyimak hal yang saya jelaskan, maka otomatis nilai kalian akan buruk nanti," ucap dosen itu sedikit menaikkan nada suaranya.


Reon mematung ditempatnya lalu segera berdiri disamping Revan yang hanya diam tanpa bersuara, lebih baik menjadi pendiam daripada berisik.


"Aku akan menunjuk beberapa dari kalian, untuk bertanding siapa yang bisa tiba disana dengan cepat, mereka akan mendapat nilai plus dari saya," ucap dosen itu membuat beberapa siswa dan siswi berbisik.


"Siapapun yang saya sebut namanya, maju kedepan dan segera bersiap untuk berenang gaya bebas dikolam renang itu," lanjut dosen membuat Revin mendesah pelan.


Dosen itu mulai menyebutkan nama-nama siswa yang akan menunjukkan kebolehan mereka dalam olahraga air yang satu itu.


Untung nama-nama mereka tidak disebutkan, membuat Revan, Revin, Reon dan Carlos menghembuskan nafas lega.


Empat orang yang disebutkan tadi kini bersiap untuk berlatih tanding, setelah mengganti pakaian mereka dengan pakaian renang yang sudah disediakan oleh kampus.


Semua orang mulai berjejer disamping kolam renang, bahkan Revan, Revin, Reon dan Carlos pun sudah ada ditepi kolam renang mencoba melihat cara mahasiswa itu berenang gaya bebas.


"Mulai!" teriak dosen itu dan empat orang itu mulai berenang gaya bebas, untuk bisa mendapat nilai bagus dari dosen gila olahraga air itu.


"Biasa saja, tidak ada yang menyenangkan," ucap Revin dengan menatap malas saat ketika melihat keempat orang itu yang belum juga sampai finis.


Seorang pria tersenyum penuh arti, ia siap untuk mendorong pria cupu yang ada didepannya, tapi tiba-tiba orang yang ingin ia dorong menghindar, hingga membuat ia mendorong teman pria cupu itu.


Revan berbalik saat merasakan ada seseorang yang berniat menyerangnya, ia menghindar dan orang itu malah mendorong Carlos.


Carlos menarik baju Reon, sedang Reon terkejut saat Carlos menarik bajunya hingga ia refleks manarik baju Revin yang berada disampingnya.


"Brother!" teriak Revin meminta pertolongan kakaknya itu.

__ADS_1


Revan mengapai tangan Revin, tapi hal itu justru membuat ia ikut tercebur kedalam kolam renang.


"ASTAGA!" pekik semua orang ditempat itu.


__ADS_2