Suara Air Mata

Suara Air Mata
Badai kembali datang


__ADS_3

Tak terasa sekarang aku telah menamatkan pendidikan di sekolah menengah pertama dengan hasil yang sangat memuaskan, ditambah lagi dengan beasiswa yang aku dapatkan,aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA favorit di kota kelahiranku, yaitu SMA N 1 kota Padang. Namun ada hal yang membuat aku agak merasa kecewa, kedua sahabatku Eren dan Cici, mereka memilih sekolah di SMK N 5. Tapi tak mengapa, meskipun sekolah kami terpisah, setidaknya persahabatan kami tetap abadi.


*Pagi hari pukul 10.00 WIB


Aku bersama adikku Ayu pergi ke makam ibu, tak terasa sudah hampir 3 tahun kepergian beliau.


"Bu, kami datang untuk memberi kabar baik buat ibu, Shella sekarang bisa masuk kesekolah favorit SMA 1, dan Ayu lagi-lagi mendapat juara umum disekolahnya bu." ceritaku di makan ibu, berharap beliau mendengarkannya.


"iya bu, Ayu sangat senang sekali. Kami janji bu, kami akan jadi orang sukses agar ibu bisa bangga" tambah Ayu, kemudian kami tak lupa mengirimkan do'a untuk ibu.


Setelah dari makam ibu, kami pun berjalan menuju rumah.


"Andai saja ya kak, Bapak masih ada disinu bersama kita, pasti bapak senang melihatnya" kata Ayu dalam perjalanan pulang. Kami menelusuri area persawahan yang jaraknya tak jauh dari rumah. Tiba-tiba langkah kami terhenti ketika melihat seseorang tergeletak di pinggir sawah.


"Astagfirullahadzim... kak shella.. apa itu kak?" tanya Ayu.


"Tunggu sebentar dek, sepertinya itu ada seseorang.......... mmmm... sebaiknya kita panggil pak RT dulu dek" ujar ku sambil menarik tangan Ayu berbalik arah menuju kediaman pak RT.


Sesampainya dirumah Pak RT


"Assalamualaikum pak, pak RT... "


"Waalaikumsalam ada apa nak?"

__ADS_1


"mmm... itu pak... ada seseorang tergeletak di dekat sawah menuju rumah kami pak"


"seseorang? siapa nak?" Tanya pak RT


"sebaiknya kita lihat kesana aja pak" pintaku karena khawatir bercampur dengan rasa takut.


"Tunggu sebentar, kita panggil warga yang lain dulu" kata pak RT


Kemudian beliau memanggil beberapa warga, lalu kami bersama warga tersebut bergegas menuju lokasi yang tadi kami sebutkan.


Sesampainya dilokasi tersebut alangkah terkejutnya kami, ternyata orang yang tergeletak tersebut seorang laki-laki paruh baya yang tak lain yaitu bapak. Beliau sudah tak bernyawa lagi, kepalanya berlumuran dengan darah. Dengan sigap para warga membawa jenazah bapak kerumah kami.


"Bapak........ " Teriak Ayu histeris, aku pun segera memeluk gadis kecil itu. Sungguh hati ini seperti disayat-sayat dengan pisau tajam.


'Ya Allah... baru sebentar kami merasa bahagia kenapa engkau berikan lagi kami ujian yang begitu berat ini ya Allah'. Dunia terasa begitu gelap bagiku,hingga aku pun tak sadarkan diri.


Saat aku bangun, aku melihat sudah banyak warga yang berdatangan ke rumah.


"Shella Ayu... sini kalian duduk dekat ibu nak" kata Bu Salomah, kakak dari ibuku yang ternyata sudah datang sebelum aku sadarkan diri.


"Bu...." aku pun memeluk wanita tersebut, air mata kembali bercucuran, Begitu juga halnya dengan Ayu, ia kembali menangis histeris sejadi-jadinya


"Bapak... kenapa bapak juga ikut ninggalin Ayu pak.. kenapa?".

__ADS_1


Setelah bapak usai di makamkan, tinggallah aku,Ayu,bu Salomah, Bu monic dan Pak RT. sementara warga yang lain sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Ayu masih saja menangis histeris di pangkuan bu Monic.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai readers jangan lupa untuk tekan tombol like dan terus dukung novel ini agar penulis makin semangat dalam berkarya


terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2