Suara Air Mata

Suara Air Mata
Ternyata...


__ADS_3

*Di ruang tamu rumah mami Cathlin


"eh nak Shella sudah datang" sambut Mami Cathlin.


"iya Mami" jawabku. Rasanya masih tak percaya saat ini aku bukan lagi seorang pelajar, melainkan jadi guru. Memang bagi sebagian orang ini terkesan agak berlebihan, tapi bagiku ini adalah suatu tantangan yang membahagiakan.


"Silahkan duduk nak Shella" ujar wanita cantik, kulit putih dan mengenakan baju terusan berwarna biru tosca dihadapanku itu.


"baik Mami.." jawabku.


"Sebentar mami panggilkan Ardian dulu" kata wanita itu beranjak pergi ke lantai atas.


'What? Ardian... apa jangan- jangan anak mami cathlin yang mau les itu Ardian yang ku kenal? kalau beneran Ardiannn...' gumamku dalam hati. Aku merasa was-was, bagaimana tidak, kemarin saat setelah membuat kesepakatan dengan Mami Cathlin, aku lupa menanyakan siapa anaknya yang akan ku ajari, kalau seandainya Ardian yang ku kenal, nanti jika Shinta mengetahuinya......


" jangan... jangan sampai... " kataku spontan keluar dari mulutku karena saking takutnya.


" Jangan sampai kenapa? " tanya seorang laki-laki yang membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"oh..eh... kak Hendrick,nggak kenapa-kenapa kok kak, kak Hendrick mau kemana?" tanyaku pada laki-laki itu.


"bukan urusanmu" jawab Hendrick ketus


"dasar cewek nggak jelas" tambahnya sambil berlalu menuju halaman depan. Memang sejak kemarin aku merasa kesal dengan laki-laki itu, sifatnya yang jutek dan arogan membuatku jadi ilfill sejak pertama kali bertemu.


Tak berapa lama kemudian Mami Cathlin pun datang dengan anak perempuannya yang bernama Thalia, ia sangat cantik seperti maminya. Thalia saat ini menduduki kelas 3 SMP di SMP swasta.


"nah, Thalia .. sekarang kamu belajar dengan kak Shella, mami masuk kedalam dulu. kamu jangan usil lagi ya.. ingat pesan mami" kata Mami Cathlin pada putrinya itu.


"Yes momy..." jawab gadis itu.


"Kak Shela... Thalia bosan... kita bahas yang lain aja yuk" ujar Thalia.


"baik lah, karena ini pertama kali kakak ngajar disini, jadi kali ini pelajaran kita jeda sejenak ya" kataku.


Lalu datanglah Bi Nur membawa nampah berisi cemilan dan minuman untuk kami.

__ADS_1


"silahkan diminum bu guru cantik, non Thalia ..." ucap wanita itu pada kami.


"terima kasih bi" jawabku pelan. Kemudian Bi Nur pergi meninggalkan kami.


"kak Shella... Thalia boleh nanya nggak kak?"


"tanya apa Thalia?"


"mmm... kakak udah punya pacar atau belum sih kak?" tanya gadis itu mengagetkan ku yang lagi menikmati teh hangat buatan Bi Nur, serasa buatan alhamarhumah ibu.


" Maksud kamu? " tanya ku sambil mengerinyitkan dahi.


"Thalia.... jangan tanya hal yang macem-macem nak, ingat di tahun ini kamu akan mengikuti ujian nasional dan kamu harus lulus ke SMA tempat kakakmu" seru Mami Cathlin pada putrinya. Rupanya beliau memperhatikan kami sejak tadi dari ruangan yang terletak persis berhadapan dengan ruang tamu yang saat ini dipakai untuk tempat belajar mengajar.


"Okey Moms, sorry" jawab Thalia singkat.


"Makanya jadi anak jangan bandel.. makanya kamu itu perlu belajar extra" ledek seorang laki-laki yang baru saja turun dari lantai atas.

__ADS_1


"ih... kak Ardian..." gerutu Thalia pada laki- laki yang bernama Ardian, yang tak lain adalah teman satu sekolahku.


__ADS_2