
Usai menikmati sarapan pagi ini, kak Hendrick mengajak kami pergi ke suatu tempat yang katanya sih Rahasia.
"kak Hendrick, sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Thalia pada kakak sulungnya itu.
"nanti kamu juga bakalan tau, udah nikmatin aja perjalanan ini" timpal Ardian.
"mmmmm.. baiklah.." jawab Thalia.
Selama dalam perjalanan tak henti-hentinya Thalia, Karina, Ardian dan kak David menggodaku dan kak Hendrick. Aku berharap semoga ini awal yang baik antara hubunganku dengan laki-laki yang saat ini telah menjadi kekasihku.
Sekitaran kurang lebih dua jam kemudian,sampailah kami di sebuah cafe yang terletak di pinggiran pantai Ancol.
"Segarra... wah indah banget pemandangannya" ujarku takjub akan keindahan tempat itu.
Duduk di kafe yang jauh dari pemandangan kendaraan dan polusi yang mengganggu, tentu menjadi hal yang diidamkan semua orang di Jakarta.
Kak david, Thalia,Ardian dan Karina segera turun dari mobil dan bergegas memasuki kafe tersebut.
"Kak Hendrick, Thalia pengen lihat-lihat pemandangan disini.. sekalian mau foto-foto" ujar Thalia.
"boleh, tapi jangan jauh-jauh ya.. nanti kakak duduk disana" ujar Hendrick yang belakangan aku ketahui rupanya ia telah membooking tempat tersebut.
"Hmmm... Thalia, kakak ada..." belum selesai pria itu bicara, Thalia sudah menarik tanganku duluan.
"Ayo kak Shella, kak Karina.. kita kesana"
"iya Thalia, tunggu sebentar" ujarku sambil meraih tas.
__ADS_1
Hendrick hanya geleng-geleng kepala melihat kegembiraan yang jelas terpancar di wajah adik bungsuny tersebut. Sementara itu Ardian, David telah duluan duduk dan memesan minuman di cafe tersebut.
"Hendrick, sini..." seru David.
"iya dav, kenapa?" jawab Hendrick menghampiri sahabatnya itu.
"sudah biarkan saja para cewek-cewek itu menikmati suasana pantai yang indah ini, mending elo minum ini dulu deh" kata David memberikan segelas minuman mint chocolate kesukaan sahabatnya itu.
"terima kasih david" ujar Hendrick sambil meneruh topi yang ia pakai.
"sama-sama bro" tambah david.
"kak Hendrick, itu jidatnya kenapa?" tanya Ardian yang terkejut melihat keadaan kakaknya itu.
"oh ini.. biasalah.." jawab Hendrick dingin.
"mmm pasti habis berantem, sama siapa kak?" tanya Ardian lagi.
"hmmm... ayo lah brother, adikmu ini jangan di bohongi. kak Hendrick habis berantem sama siapa sih?" tanya Ardian lagi. Akan tetapi Hendrick mengabaikannya dan segera berdiri pergi menjauh dari David dan Ardian.
"kak David, itu kak Hendrick habis berantem sama siapa sih?" tanya Ardian.
"rahasia, ntar kamu juga bakalan tau" jawab david yang sibuk memotret pemandangan di area cafe tersebut untuk postingan di media sosial miliknya.
Tak berapa lama kemudian Thania, Shella dan Karina datang.
"duaaarrr...." Kata Thania mengagetkan Ardian lalu pergi menjauh dari kakaknya itu.
"ya Ampun Thania... dasar ya kamu jahil banget" kata Ardian bangkit dari duduknya lalu mengejar adik bungsunya itu.
__ADS_1
"mmmm... Karina, kita kesana yuk" ajak David sambil menunjuk ke sebuah area yang viewnya sangat indah sekali.
"tapi.. gimana dengan Shella kak?" jawab Karina.
"ayo.. ikuti saja kak David, aku disini saja.." seruku smbil melihat ke buku menu di cafe ini.
"baiklah Shella.. aku pergi sebentar ya" kata Karina.
"emmm" jawab ku sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.
Kemudian aku memesan segelas minuman mint chocolate yang kurasa cocok diminum ditengah cuaca panas terik begini. Tak berapa lama kemudian pesananku pun datang, segera ku nikmati minuman tersebut.
"mmmm.. seger banget...huuuhh.. tapi kak Hendrick kemana ya? kok nggak kelihatan?" gumamku sambil melihat ke sekelilingku,akan tetapi tak kutemui sosok pemuda yang berwajah campuran indonesia jerman tersebut.
"dasar manusia aneh.. aku diajak kesini eh dianya malah ngilang.. menyebalkan" gerutu ku kesal.
"siapa yang kamu bilang menyebalkan hmm?" ujar Hendrick yang tiba-tiba saja sudah ada disampingku.
"ya Tuhan... issssshhh kak Hendrick ngagetin aja"
"siapa yang kamu bilang menyebalkan hmmm?"
"kamu"
"apa? nggak kedengeran"
"kak Hendrick"
"siapa? coba ulangi lagi?"
__ADS_1
"iiiiiissshhh... kak hendrick si manusia aneh dan menyebalkan" teriakku, disaat yang bersamaan laki-laki itu mendaratkan sebuah kecupan dikeningku. Seketika hal itu membuatku terdiam dengan wajah yang memerah