
"bukan.. itu, sebaiknya kamu tegok kebelakang deh" tambah karina sambil menunjuk ke arah seseorang yang ada dibelakangku.
"siapa sih?" tanyaku sambil membalikkan badan.
Alangkah terkejutnya aku saat melihat orang tersebut, ternyata.....
"Kak Hendrick?" seruku saat melihat laki-laki yang tengah berdiri membawa sebuah bucket bunga ditangannya.
"Surprise..." ujarnya sambil memberikan bucket bunga tersebut padaku.
"Kak Hendrick? ini beneran kamu kan?" kataku mengamati dengan seksama pemuda yang saat ini telah berada dihadapanku.
"iya ini aku Hendrick, kekasih hati dari seorang calon pengacara dari universitas Jakarta"
"aaaaaaahhh... kak Hendrick sejak kapan ada disini? dan... kakak tau darimana kalau aku..."
"hahaha... Shella.. shella, apa sih yang tidak aku ketahui tentang kamu, kamunya aja yang nggak nyadar... ya nggak Kar?" kata pemuda itu sambil melihat pada Karina.
"Apa? hmmm... Karina.. pasti ini semua kamu yang rencanain ya?" kataku pada gadis berbaju kuning itu.
"hehehe... maafin aku ya Shel" jawab Karina.
"tunggu dulu... jadi mobil yang kita tumpangi dari apartement kesini itu mobilnya kak Hendrick? itu berarti Gcar yang tadi udah dipesan?" ujarku segera aku meraih ponsel dari dalam tasku, kemudian ku lihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari driver Gcar tersebut.
Lalu aku kembali mencoba untuk menghubungi driver tersebut,aku khawatir jika si driver itu menunggu terlalu lama di depan apartement.
"Hallo pak"
__ADS_1
"ya Hallo.." jawab si driver
"pak ini yang tadi udah pesan Gcar dari apartement Luxury atas nama Shella"
"oh iya ibu Shella"
"iya pak, maaf pak, saya cancel pesanan Gcarnya ya pak, soalnya tadi..."
"iya nggak apa-apa buk, tadi ongkosnya juga sudah dibayarkan sama mas bule yang pakai mobil xenia putih buk" kata si driver tersebut menjelaskan.
"apa?" akupun kaget mendengar perkataan si driver tersebut.
"tadi ongkosnya sudah dibayar duluan sama si mas bulenya buk, oh iya bu saya mau lanjut antar penumpang dulu ya bu, maturnuhun bu Shella" kata driver tersebut mengakhiri panggilan.
Rasa sedih, kesal dan bahagia bersatu mewarnai keberangkatanku pagi ini. Sedih, karena kedua orang tuaku tak bisa mengantarkan aku, bahkan mereka mungkin tak mengetahui kalau hari ini aku akan kembali ke daerah dimana aku dibesarkan. Kesal, karena aku merasa telah dikerjain sama Karina. Bahagia, karena akhirnya setelah sekian lama aku bisa bertemu dengan laki-laki yang sudah jadi tunanganku itu. Hmmm.... rasanya aku ingin berlama-lama menikmati waktu bersama kekasihku ini, akan tetapi waktu kembali menjadi batasan untuk kami.
"Bibi, Shella pamit dulu ya bi, terima kasih bibi udah anterin Shella" kataku sambil memeluk wanita tersebut.
"non Shella jaga diri baik-baik disana ya non,jangan lupa untuk makan yang teratur ya non..."
"iya bi, o ya nanti bibi pulangnya barengan aja sama kak Hendrick" tambahku.
"iya non...." jawab wanita itu sambil meneteskan air mata.
"sudah bibi jangan sedih gitu dong, kan Shella perginya cuma sebentar"
"iya non, non Shella jangan lupa kabari bibi ya"
__ADS_1
"iya bi... pasti... "
"jangan lupa sarapannya dimakan non" tambah bi Siska
"siap bi, terima kasih bibi udah ngerti sama aku... "
"iya non... "
"Shella berangkat dulu ya bi" ujarku sambil menarik koper.
"ehhhmm... " Hendrick pun mendemem.
"oh iya, hampir saja lupa.. Shella berangkat dulu ya kak Hendrick" ujarku kembali menaruh koper lalu menyalami tunanganku itu.
"kan.. kamu gitu"
"iya maaf kak, soalnya waktu udah mepet" jawabku.
"iya aku ngerti kok, tapi pamitnya yang romatis dikit dong" rayu pemuda berwajah oriental itu sambil tersenyum padaku.
"mmmm... sayang, aku berangkat dulu ya.. jangan nakal-nakal" kataku sambil mencubit pelan hidung mancung kekasihku itu.
"eeehhhmmm... permisi udah siap waktu pamitnya? soalnya waktu kita check in udah mau habis" timpal Karina yang sedari tadi memperhatikan kami.
"oh iya... maaf Karina" kata kak Hendrick.
Kemudian kami pun berlalu segera masuk untuk melakukan Check in keberangkatan.
__ADS_1