Suara Air Mata

Suara Air Mata
Bersatu


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, perdebatan kami belum juga selesai. Bu Monic yang dari tadi hanya diam terpaku melihat kami, mulai mengambil lalu membaca surat yang sejak tadiku genggam. Seketika butiran air membanjiri wajah beliau.


"Ayu.... maafkan ibu nak... ibu tidak bermaksud membuangmu dan memberikannya pada orang lain nak" kata wanita 35 tahun itu mulai membuka suara. beliau menghampiri Ayu yang saat itu tengah menangis dipangkuanku.


"Ayu... ibu minta maaf... ibu tidak pernah berniat mencampakkanmu nak... justru ibu selama ini mencari dimana keberadaan anak ibu yang dulu hilang" tambah Bu Monic.


Tangisan Ayu mulai reda


"Apa bu? mencari? sebenarnya apa yang terjadi kak?" ujar Ayu menoleh kearahku.


"Ayu... sebenarnya beberapa tahun yang lalu, ibu pernah melahirkan dan mengalami pendarahan hebat hingga tak sadarkan diri dan harus di larikan ke rumah sakit pusat, sementara ibu belum sempat melihat wajah anak ibu, yang ibu ketahui anak itu berjenis kelamin perempuan dan memiliki tanda lahir di bahunya sama dengan tanda lahir yang ibu miliki. akan tetapi setelah ibu sadar dokter mangatakan kalau anak ibu sudah tiada dan jenazah anak itu pun sudah dimakamkan oleh keluarga suami ibu. Tapi ibu tidak yakin kalau anak ibu sudah meninggal. sejak bertemu dengan Ayu, entah kenapa ibu merasa begitu dekat dengan dirimu nak... terlebih lagi ibu sempat melihat tanda lahir dibahumu, persis dengan tanda lahir yang ibu miliki. itu sebabnya sampai saat ini ibu mencari tau kebenaran tentang kamu nak, dan ternyata memang benar kamu anak yang selama ini ibu cari.." Kata Bu Monic meneteskan air mata,lalu beliau memeluk erat Ayu.


Melihat kedua ibu dan anak tersebut tengah hanyut dalam cerita kehidupan mereka, rasanya hatiku mulai hancur. Satu persatu.. bukan satu persatu lagi bahkan semua orang yang kusayangi mulai meninggalkan aku.


'Ya Tuhan.. aku tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini' gumamku dalam hati, tak terasa air mata pun turut membanjiri wajah ini. Aku pun berjalan ke luar rumah menelusuri area persawahan, lalu berlari menuju kuburan ibu dan bapak. Disana aku tumpahkan semua beban dihati dan aku menangis sejadi-jadinya, hingga aku tak sadarkan diri.


*pagi hari

__ADS_1


Mentari pagi mulai menampakkan dirinya, kicauan burungpun ikut menambah kesejukan dipagi itu. Rupanya semalam aku tertidur disamping kuburan ibu. Aku pun mulai bangkit dan segera bergegas menuju rumah.


"itu kak Shella" teriak Ayu dari kejauhan berlari menuju arahku dan diiringi oleh bu Monic "hati-hati yu, nanti jatuh" serunya.


"kak, kakak dari mana saja? semalaman kami mencari kakak tapi tidak ketemu juga" tanya Ayu.


"kakak tidak kemana-mana kok yu, hanya menenangkan hati sejenak" jawabku


"Nak Shella... sebaiknya kamu mandi dulu" Ujar Bu Monic menuntunku kerumah.


"Iya Bu.." jawabku singkat.


'ya Tuhan... begitu berat rasanya cobaan hidupku ini' pikiran itu selalu menghantuiku.


Setelah selesai mandi aku pun mengganti pakaianku dengan piyama pink pemberian ibu sebelum beliau meninggal dunia, dulu sengaja tak kupakai baju tersebut karena waktu itu ukurannya kebesaran ditubuhku ini.


'hmmmm.. cantik sekali' gumamku sambil melihat ke cermin disamping tempat tidurku.

__ADS_1


TOK TOK TOK


"nak Shella, mari kita makan.." pinta Bu Monic membuyarkan lamunanku. Aku pun segera menuju meja makan, rupanya dua ibu dan anat tersebut telah menyediakan makanan disaat aku tengah membersihkan badan.


..


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2