Suara Air Mata

Suara Air Mata
Kenangan di masa lalu


__ADS_3

Di apartementnya ibu Tari, apartement yang bagiku terlihat mewah dengan berbagai furniture bermerk tekenal, seperti sofa, kitchent set dan furniture lain yang sudah ditata dengan apiknya. di sana terdapat 3 buah kamar, dimana kamar utama ditempati oleh bu Tari, dan kamar belakang ditempati oleh seorang Asisten Rumah tangga mereka.


Sementara kamar yang di tengah terdapat berbagai macam pernak pernik bayi yang bernuansa pink. dan terdapat juga sebuah ayunan bayi dan bermacam - macam boneka disana.


"Shella.. kamu tidur di kamar ini saja ya" ujar bu tari.


"tapi bu, bukankah ini kamar anak ibu? Shella tidur dikamar belakang saja bu" ujar ku.


"anak ibu sudah tidak ada lagi Shella.. Tujuh belas tahun yang lalu... ibu terkena sakit DBD dan harus d rawat di rumah sakit. Sementara itu anak ibu.. namanya Namira, ibu titipkan sama mertua ibu, lalu beliau menyewa seorang baby sitter dari pihak penyedia jasa. Tapi disaat ibu sudah sembuh dan kembali ke rumah, ibu dapat kabar kalau anak ibu hilang dibawa kabur oleh baby sitter tersebut, kami sudah laporkan kasus ini pada polisi akan tetapi hasilnya nihil.. sampai sekarang ibu tidak pernah mengetahui dimana keberadaan namira lagi Hanya ini lah yang bisa ibu simpan sebagai kenang-kenangan " ujar bu Tari meneteskan air matanya.


"maaf bu, Shella telah membuat ibu bersedih.." tuturku.


"tidak apa apa nak Shella" kata bu Tari sambil mengusap matanya yang basah.


Kemudian datanglah Pak Tama dengan beberapa orang laki-laki yang membawa beberapa furniture seperti tempat tidur, pringbed, lemari pakaian serta meja rias.


"mas tama..." ujar bu Tari terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba sudah membeli furniture tersebut tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"iya sayang, ini mas belikan khusus untuk Shella..." ujar pak Tama sambil mengatur para pekerja menata kamar yang akan aku tempati itu.


"pak Tama, bu Tari maaf Shella jadi merepotkan kalian" ujarku karena merasa tidak enak dengan perlakuan khusus dari keluarga itu.


"Tidak apa-apa Shella, sebenarnya sudah lama kami menginginkan adanya seorang anak dirumah ini. Sejak hilangnya Namira anak kami tujuh belas tahun yang lalu, rumah ini terasa sepi" ujar Pak Tama yang juga teringat akan anaknya yang hilang itu.


Setelah para pekerja selesai menata kamar yang akan aku tempati itu.


"Shella, istirahatlah dulu nak.. pasti badan kamu terasa capek setelah perjalanan jauh kesini" kata bu tari.


"iya nak, kamar mandinya ada disana.. setelah itu kamu jangan lupa istirahat ya nak" tambah wanita itu sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan yang ternyata itu adalah kamar mandi.


"baik bu.. oh iya bu.. terima kasih banyak bu.. maaf Shella jadi merepotkan ibu sama bapak" kataku.


"tidak apa apa nak, anggap saja apartement ini seperti rumah kamu sendiri"


"baik bu, sekali lagi terima kasih banyak bu"

__ADS_1


"iya nak.. ya sudah sebaiknya sekarang kamu mandi dulu"


"baik bu"


kemudian Bu Tari pergi keluar kamar yang baru saja aku tempati itu. aku merasa sangat bersyukur karena selalu bersama orang-orang yang baik disekitarku. Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku meraih ponsel tersebut daei saku celanaku. lalu ku lihat ternyata ada beberapa pesan WhatsApp masuk.


*'Shella.. apa kamu sudah sampai dijakarta? - Cici'


'Shella ku sayang... bagaimana kota Jakarta saat ini? - Eren'


'Hey perempuan menyebalkan, kenapa kamu tak memberitahu aku kalau kamu hari ini ke jakarta, dasar perempuan tidak tau terima kasih -Hendrick'


'Kak Shella, Thalia kangen -Thalia'


'Shella, bagaimana kabarmu disana? -Ardian'*


Setelah membaca pesan tersebut, sengaja aku tidak langsung membalasnya. karena badanku sudah terasa begitu lengket karena keringat selama perjalanan tadi. Aku pun segera meraih handuk yang sengaja ku bawa dari Padang, kemudian aku pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2