
"erik... " ujarku sembari mengerinyitkan dahi tanda tak percaya dengan apa yang ku lihat.
"iya Shel, itu si Erik, lawan berat Cici sewaktu kita masih sekolah, dan sekarang mereka.... " kata Eren ingin menjelaskan.
"eits... Eren..." sela Cici
"hmm... sepertinya sekarang aku sudah mulai mengerti.. jangan jangan kalian" tambahku sambil melirik kearah Erik dan Cici.
"sudah siap, ayo sayang ajak temanmu masuk ke mobil" ujar Erik telah siap memasukkan barang bawaan kami ke dalam mobilnya.
"what? apa yang terjadi?" gumamku usai mendengar perkataan Erik pada Cici
" ehmm... iya Shel, sebenarnya kami sudah tunangan, dan rencananya bulan depan kami akan menikah" jawab Cici dengan wajah yang memerah tersipu malu.
"ya ampun.. selamat ya sahabatku akhirnya duluan sold out" kataku memeluk Cici.
***
Beberapa menit kemudian, sampailah kami di rumah bu Siti. Tempat dimana aku dibesarkan.
Ternyata sudah banyak perubahan, semenjak aku mulai melanjutkan pendidikan di Jakarta.
Jalanan yang dulu hanya bisa dilewati satu motor saja, sekarang sudah diperlebar hingga mobil pun bisa parkir didepan rumah warga disekitar sini.
Begitu juga dengan rumah peninggalan bu Siti, beberapa waktu lalu dengan bantuan mami Cathline. Rumah tersebut dijadikan sebagai rumah produksi karya seni bunga dan berbagai karya daur ulang lainnya.
"hmmmmh... udara yang sangat menyegarkan" gumamku saat tengah menikmati hembusan angin di kota padang.
"Ayo Shel, kok malah bengong?" ujar Eren yang ikut membawa barang bawaanku ke dalam rumah yang dulu boleh dibilang sebuah gubuk sederhana, semenjak di kelola oleh ke dua sahabatku serta bantuan dari keluarga mami Cathlin untuk merenovasi rumah tersebut. Rumah yang dulunya hanya berdinding dan lantai papan, sekarang sudah jadi rumah semi permanen dan bernuansa minimalis.
Perlahan aku menelusuri setiap ruangan dirumah itu, syukurlah kondisi kamar bu Siti tetap dibiarkan seperti sebelumnya. Bu Romlah, kakak bu Siti telah menyerahkan rumah ini sepenuhnya padaku, sesuai wasiat dari wanita yang telah merawat dan membesarkanku.
Tidak terasa air matapun jatuh dari sudut mataku, begitu banyak kenangan yang telah aku lalui di tempat ini.
"Shella..." ujar Karina menyadarkanku dari lamunan.
"oh..eh iya Kar" jawabku sambil menghapus air mata.
"kamu kenapa nangis Shel?"
"aku cuma lagi keinget kenangan di masa lalu Kar, disini ditempat ini... bu Siti, Ayu, dan ayah.. "
__ADS_1
"Ayu?"
"iya Kar, ayu adalah adikku, sejak kepergian bu siti dan suaminya, Ayu bertemu dengan orang tua kandungnya. Sejak saat itu kami tidak pernah lagi bertemu. Kalau seandainya Ayu ikut denganku, mungkin dia sekarang juga sudah jadi mahasiswa semester awal."
"Shella... sudahlah jangan bersedih lagi, sekarang kan kamu juga sudah bertemu dengan kedua orang tuamu. kamu sekarang juga sudah memiliki segalanya"
"kamu benar Kar, tapi kenyataan tak seperti yang kamu lihat Karina"
"kenapa Shel? kamu ada masalah?"
"entahlah Kar, walaupun sekarang aku sudah bertemu dengan kedua orang tuaku, tapi aku malah makin merasa kesepian"
"maksud kamu Shel?, apa Bu Tari sma pak Tama tidak memperlakukan kamu dengan baik? atau..."
"aku bersyukur telah dipertemukan dengan orang tua kandungku, tapi ya sudahlah.. mungkin mereka terlalu sibuk, bahkan saat keberangkatanku hari ini, mereka seakan tidak peduli"
"yang sabar Shella, nanti mereka juga bakalan nyariin kamu kok" kata Karina mencoba menepiskan kesedihanku.
***
Usai merapikan barang bawaanku dan Karina di kamar, secara bergantian kami pun membersihkan diri. Sementara Cici sudah pamit pergi bersama calon suaminya, sedangkan Eren masih sibuk dengan Kerajinan bunga plastik di ruang depan.
"Shel, laper nih... kita cari makan yuk" kata Karina sambil memegang perutnya yang sudah memberontak untuk di isi.
" Aku mau nasi bakar plus ayam bakar, minumnya es teh manis aja" ujar Karina.
"aku menu sepeti biasa aja Shel, nasi goreng pake cumi tempura, minumnya sama aja kayak pesanan Karina" seru Eren.
"oke udah aku pesan, tinggal tunggu" kataku sambil melangkah menuju ruang depan dimana Eren tengah berkutat dengan pekerjaannya.
"Sobatku, rajin banget" tambahku.
"haha, iya nih Shel, kejar target bulan ini penjualan kita makin meningkat Shel, udah banyak peminatnya"
"alhamdulillah, sini aku bantuin"
" dengan senang hati bos"
"ah kamu Ren, bilang bos bos segala"
"lha.. iya kan, bener kamu pemilik usaha ini, berarti kan kamu bosnya Shel, bos cantik, muda dan sukses"
__ADS_1
"bisa aja kamu Ren"
Tak berapa lama kemudian pesanan Gfood kami pun datang. Karina yang sudah menahan rasa lapar dari tadi segera mengambil pesanan tersebut.
"terima kasih bang jek" ujar Karina sambil menenteng kantong plastik berisi makanan.
"Sama sama uni, oh iya uni .. apa uni yang bernama Shella?" tanya pengemudi Gfood tersebut.
"bukan bang, saya temannya.. sebentar saya panggilkan orangnya"
"Baik uni..."
"Shella.... itu abang Gfoodnya nyariin kamu" seru Karina masuk ke dalam rumah.
"udah nyampe aja pesanannya Kar, udah kamu bayar belum Kar? main bawa aja" jawabku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah lucu sahabatku itu.
"belum... kamu bayar gih sana, udah ditungguin sama drivernya" jawab Karina sambil membuka box makanan.
didepan rumah
"berapa total semuanya bang?" tanyaku pada driver gfood tersebut.
"total semuanya 125 ribu uni..."
"ini uangnya bang" kataku memberikan selembar uang seratus ribu, dan selembar uang lima puluh ribu.
" ini kembaliannya uni"
"terima kasih bang"
"oh iya, apa benar uni yang bernama uni Shella?" tanya si driver tersebut.
"benar, saya Shella, ada apa bang?"
"cantik... oh iya uni.. ini ada titipan dari uda yang duduk di ujung jalan sana" tambah si driver sambil memberikan sebuah bucket bunga padaku.
"dari siapa bang?"
"saya tidak tahu namanya, tadi pemuda itu cuma bilang kasih bunga ini sama nona Shella"
"terima kasih bang"
__ADS_1
"sama-sama uni" kata si driver lalu ia pergi.