Suara Air Mata

Suara Air Mata
Permohonan dan Do'a


__ADS_3

"tidak apa-apa kok lia" kataku. Selama ini aku merahasiakan isi surat tersebut, termasuk dari kedua sahabatku. Tapi sekarang Thalia sudah mengetahuinya. Aku takut kalau sampai ia menceritakannya pada Mami Cathlin.


"Kak, sekali lagi maaf kalau lia sudah lancang.." ujar Thalia.


"iya nggak apa apa lia, kamu tidak perlu minta maaf seperti itu.. tapi kakak mohon jangan ceritakan sama mami kamu ya Lia..." tambahku.


"kenapa kak?"


"karena kakak tidak ingin orang lain mengetahui sebelum waktunya.. selama ini kakak selalu merahasiakan semua ini pada orang-orang termasuk sahabat kakak sendiri.. kakak tidak ingin orang yang kakak sayangi pergi meninggalkan kakak lagi, tapi sekarang Lia sudah mengetahuinya. kakak tidak tau bagaimana kedepannya. apakah Lia juga ikut meninggalkan dan menjauhi kakak"


"kakak, Lia itu sayang sama kakak, tidak peduli bagaimana keadaan kakak. Selama ini sebelum kehadiran kakak di keluarga kami,Lia selalu merasa kesepian. Mami dan Papi sibuk dengan pekerjaan mereka sementara kak Ardian dan Kak Hendrick juga sibuk dengan urusan mereka masing - masing" tutur Thalia. Lalu kami pun berpelukan.


"kak Shella, kalau kakak di Jakarta nanti.. Apakah kakak masih ingat dengan Thalia" tanya gadis itu.


"hehehe.. kamu ini ada-ada saja, ya jelas kakak masih ingat sama kamu Lia. Kamu itu sudah seperti adik kakak sendiri.. Sebaiknya kita Sholat subuh dulu ya Lia" ujarku karena Adzan Subuh telah berkumandang saat itu.


"Baik kak" jawab Thalia.


Kemudian kami mengambil wudhu secara bergantian lalu sholat berjamaah. Setelah Sholat, aku tak lupa mendoakan almarhumah ibu agar selalu di tempatkan disisi terbaikNya juga aku meminta agar selamat dalam perjalanan sampai Jakarta nanti dan bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungku.


Usai melaksanakan Sholat subuh, aku melangkah menuju dapur, ku lihat bi Mirna tengah sibuk memasak sarapan untuk keluarga besar Anthoni.

__ADS_1


"Bibi lagi apa bi? boleh Shella ikut membantu bi?" tanyaku pada Bi Mirna.


"tidak usah non, biar bibi saja. sebaiknya non Shella istirahat saja. kaki Non Shella kan masih sakit" jawabku.


"kaki Shella sudah mulai mendingan kok bi, biar Shella yang cuci piringnya ya bi"


"tidak usah non.. nanti Bibi di marahi nyonya Cathlin"


"nggak kok bi, Shella sudah biasa melakukan ini... "


"Non Shella..."


"nggak apa-apa kok bi, bibi lanjut masak saja"


Kemudian aku mencuci piring kotor yang terletak di wastafel. Sementara Bi Mirna masih sibuk memasak, aku lanjut menyapu rumah.


"Shella.... kenapa kamu yang melakukan pekerjaan ini.. biarkan bi Mirna saja yang melakukannya" kata mami Cathlin yang baru saja bangun dan melihatku tengah membersihkan rumah.


"tidak apa-apa mi, Shella juga sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini" ujarku


"tapi kan kakimu masih sakit Shella, sudah.. sekarang kamu taruh sapunya, biarkan bi mirna saja yang melanjutkannya" tambah mami cathlin.

__ADS_1


"tapi mi.. nanggung sedikit lagi" timpalku.


"hey manusia menjengkelkan, kakimu masih sakit kenapa masih ngeyel juga" seru Hendrick yang baru saja keluar dari kamarnya.


Apalah dayaku, aku hanya diam dan menuruti perkataan mami, lalu menaruh sapu yang sedang aku pegang ke dapur.


"Shella, kamu memang anak yang rajin, pintar dan cantik.. sebaiknya sekarang kamu temani mami duduk di depan" ujar mami cathlin merangkulku, lalu kami melangkah menuju halaman depan.


.


.


.


.


.


.


Hai readers jangan lupa tinggalkan komentar kamu ya, agar penulis bisa memperbaiki karya tulis ini.

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2