Suara Air Mata

Suara Air Mata
Mencari


__ADS_3

"hey wanita menyebalkan. kemana saja kamu? sejak tadi aku telfon kenapa tak di angkat?"


ujar Hendrick dengan nada yang ditinggikan.


"mmm.. maaf kak, tadi Shella lagi masak di dapur terus hp ketinggalan dalam kamar"


"masak? memangnya kamu bisa masak?"


"bisa dong"


"masa... mana buktinya"


"kalau kak Hendrick mau, silahkan datang saja kesini" ujarku kesal sambil menutup panggilan.


'dasar manusia aneh, nggak pagi, siang,malam, selalu menyebalkan... issshhhh... kalau saja bukan karena aku sudah berhutang budi sama itu cowok, ish sudahlah.. kenapa juga aku mikir cowok itu' gumamku. Lalu aku bangkit dan mengambil surat peninggalan ibu, ku baca lagi isi surat tersebut.


Tn. Pratama dan Ny. Mentari


jl. perintis no.03 jakarta utara


021-123654


"bagaimana pun caranya aku harus bisa bertemu dengan kedua orang tua ku"


Beberapa menit kemudian terdengar suara bu Tari memanggilku dari luar kamar.

__ADS_1


"Shella... Shella... ada teman kamu datang nak" seru bu Tari


" iya bu..."


Lalu aku beranjak dari tempat dudukku dan menaruh surat peninggalan ibu ke dalam lemari. Setelah itu aku melangkah keluar kamar menuju ruang tamu Ternyata bu Tari dan kak Hendrick telah menungguku.


"kak Hendrick? kenapa kakak kesini?" tanyaku.


"Memangnya kenapa, terserah aku dong,bu Tari ini juga sama dengan ibu ku, iya kan bu" jawab Hendrick


"sudah.. jangan berdebat. oh iya Shella, kata bi Siska tadi kamu masak masakan padang, makanya ibu pulang sebentar. ibu sebenarnya sudah lama ingin makan masakan padang".


"iya bu, makanannya sudah Shella siapkan di atas meja makan" ujarku.


"Baiklah kalau begitu kita langsung saja makan bersama, ayo nak Hendrick" ajak bu Tari.


Siang itu kami makan bersama, tak lupa bi Siska juga ikut menikmati masakan padang yang tadi aku buat. Semuanya terlihat lahap memakan masakanku, terlebih lagi kak Hendrick, di antara kami berempat. Dia lah yang paling lahap makannya.


Usai makan siang, tepatnya pukul 11.30 WIB, berarti masih ada waktu sekitar dua setengah jam lagi dari jam mata kuliahku hari ini.


Aku bersiap-siap mandi dan mengganti pakaianku. Kemudian aku pamit pada bu Tari, diikuti oleh Hendrick untuk berangkat kuliah.


"Hey perempuan menyebalkan, kenapa kamu pergi duluan saja?" tanya Hendrick.


"maaf kak, ada hal yang harus aku kerjakan" jawabku sambil mempercepat langkahku menuju halaman depan apartement luxury.

__ADS_1


Lali Hendrick pun segera menuju area parkiran dan menyusulku.


TIN...Tiiiinn..


Suara Klakson mobil yang sangat kencang menghentikan langkahku.


"Hey, sebenarnya kamu ini mau kemana? biar aku antarkan"


"tidak usah kak, Shella bisa sendiri kok" ujarku kembali melanjutkan perjalananku menuju persimpangan jalan. Akan tetapi mobil Hendrick kembali menghadangku.


"Apaan sih manusia aneh..." teriakku kesal.


"kamu ini kenapa? nggak ada angin nggak ada hujan main pergi begitu saja, bisakah kau menghargai seseorang? apa kamu tidak pernah di ajarkan orang tua mu tentang sopan santun" seru Hendrick dari dalam mobilnya.


Seketika hatiku terasa sakit mendengar perkataan laki laki itu. Aku pun segera meninggalkan tempat itu. Dengan menumpangi sebuah taksi, aku pun berusaha mencari alamat kedua orang tuaku.


'Semoga saja kedua orang tuaku masih ada disana' gumamku dengan penuh harapan. Sesampainya di alamat yang pernah ditulis oleh bu Siti, ibu yang merawatku sejak kecil.


TOK TOK TOk...


sudah berulang kali aku mengetuk pintu rumah minimalis yang terkesan kurang terawat itu. Tak ada satupun jawaban yang terdengar. Kemudian lewatlah seorang bapak-bapak berbaju kaos coklat dan celana hitam.


"Assalamualaikum nak" ujar si bapak berkumis itu.


"Waalaikumsalam pak" jawabku.

__ADS_1


"Perkenalkan pak, nama saya Shella. Kalau saya boleh tau. Pemilik rumah ini kemana ya pak?" tanyaku.


__ADS_2