Suara Air Mata

Suara Air Mata
Dimana?


__ADS_3

Malam ini sayup-sayup aku mendengar dari dalam kamarku, kalau nanti pak Tama kedatangan tamu yang merupakan rekan bisnisnya dulu yang juga berasal dari Padang.


"Siapa pa? pak Zein? yang anaknya juga seumuran sama anak kita pa?" kata bu Tari.


"iya ma" jawab pak Zein.


"katanya beliau juga ajak anak dan istrinya kesini" lanjutnya.


"wah.. bagus dong pa.. makin rame suasana jadinya kan" kata bu tari.


Tak berapa lama kemudian bel pun berbunyi, bi Siska seger membukakan pintu apartement tersebut.


"siapa bi?" tanya pak Tama


"maaf tuan, katanya teman tuan Tama.." ujar bi Siska menghampiri pak Tama..


"oh Zein.. " seru Pak Tama segera melangkah menuju pintu masuk apatement miliknya.


"Pratama Aquino.. sudah lama kita tidak bertemu.. " seru pak Zein sembari memeluk teman lamanya itu.


"Zein.. silahkan masuk zein.. ah.. ini anak mu yang dulu sering kamu bawa ke rumahku yang dipadang ya Zein" seru pak Tama saat melihat seorang gadis seusia dengan Shella.


"iya Tama.. perkenalkan ini istri saya Kartika dan ini anak saya namanya shinta" kata Pak Zein.


Kemudian kedua wanita itu bersalaman dengan pak Tama.

__ADS_1


"Ayo silahkan masuk zein,kartika dan juga Shinta" ujar pak Zein..


kemudian mereka duduk di ruang tamu dan berbincang bincang bersama dengan bu Tari.


*didalam kamar


Aku yang sedari tadi berbaring di atas kasur sambil mendengarkan percakapan mereka, entah kenapa aku merasa iri dengan keluarga itu. 'asik kali ya kalau punya orang tua yang selalu ada disamping anaknya' gumamku dalam hati.


Seketika aku teringat akan surat dari bu Siti, wanita yang telah merawat dan membesarkanku selama ini. Aku pun bangkit dan melangkah menuju lemari.


"mana suratnya? kok nggak ada sih?" gumamku sambil membolak balikkan pakaian dilemari yang berwarna pink itu. Kemudian aku teringat bahwasanya beberapa hari yang lalu aku sempat mengambil surat itu dan menaruhnya di bawah bantal.


"lho.. kok nggak ada sih?" aku pun jadi khawatir. Kemudian aku melangkah keluar kamar dan menemui bi Siska. Karena biasanya bi Siska lah yang sering membereskan kamarku ketika aku sedang ada kegiatan diluar.


"bi Siska" seruku pada wanita yang kerap kali memakai celemek biru itu.


" maaf bi, Shella mau nanya. Bibi ada lihat nggak ada surat pakai amplop warna biru yang Shella taruh di bawah bantal?" tanya ku dengan nada pelan.


"surat? tidak ada non... surat apa itu non? hmmm... pasti surat dari den ganteng itu ya..." goda bi Siska padaku.


"enggak bi,itu surat penting.. kalau sampai surat itu hilang" ujarku dengan perasaan cemas.


Rupanya bu Tari memperhatikan gerak gerikku dari tadi.


"ada apa ini bi? Shella?" ujar bu Tari pada kami.

__ADS_1


"itu nyonya.. neng Shella nanya sama saya. ada lihat surat pakai amplop biru nggak dibawah bantal. gitu nyonya" kata bi Siska menjelaskan.


"surat itu... mari sini ikut mama nak" kata bu Siska sambil merangkulku dan mengajakku menuju ruang tamu. Aku merasa heran dengan kata bu Tari 'mari sini ikut mama nak'.


"Shinta?"kata ku heran dengan keberadaan perempuan yang pernah berusaha menghancurkan impianku dulu.


"Shella... " ujar Shinta heran melihatku.


"rupanya kalian sudah saling kenal ya" kata bu Tari tersenyum padaku.


.


.


.


Mohon maaf para reader semua author baru sempat update karena author lagi ada beberapa kendala. Jadi baru sempat update.


o iya.. terima kasih buat reader yang udah like ,komen dan dukung novel ini ya.. 😊


bagi yang belum like, koment


buruan gih.. karena pas di akhir cerita bakalan ada gift dari Author.


Bagi readers yang sering komen, like dan dukung setiap episode novel ini akan mendapatkan hadiah khusus dari author.

__ADS_1


Jadi jangan lupa untuk terus dukung novel ini ya😁


terima kasih


__ADS_2