Suara Air Mata

Suara Air Mata
Bermesraan


__ADS_3

"mmmm... itu.. mmm.." Shinta pun jadi kebingungan mau jawab apa.


"sudahlah.. tak perlu banyak acting lagi" timpal Ardian hendak pergi meninggalkan tempat itu.


"Ardian.. dengarkan penjelasan aku dulu" seru Shinta segera manahan langkah Ardian.


"Apalagi yang harus dijelaskan? jelas-jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri seorang Shinfa yang mana disaat itu masih berstatus sebagai pacar Ardian, tengah bermesraan melakukan perbuatan tercela di tempat yang minim pencahayaan bersama seorang laki-laki lain" tutur Ardian semakin kesal.


"Ardian... " rintih Shinta dengan jurus air mata buayanya.


"ah... sudahlah Ardian, sebaiknya kita pergi saja dari sini" Ajak Hendrick yang juga ikut kesal melihat kejadian tersebut.


"Ardian... jangan tinggalkan aku" Teriak Shinta memanggil Ardian yang berjalan semakin jauh dari tempat ia tengah berdiri.


Setelah kedua kakak beradik itu tak terlihat lagi, perempuan itu tertawa sejadi-jadinya karena ia merasa sangat puas dengan apa yang ia lakukan tersebut.


"Shinta... itu berarti nggak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi tentang hubungan kita" ujar Andrew sambil merangkul pinggang gadis itu.


"maybe... tapi kak Andrew ada satu hal lagi yang harus kita balas" kata Shinta dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian.


"apa itu sayang?" tanya Andrew.

__ADS_1


"Shella... kita harus segera menyingkirkan perempuan dari universitas Jakarta"


"caranya?"


"bagaimanapun caranya, pokoknya besok kita susun rencana untuk menghancurkan dia"


"baiklah..." jawab Andrew singkat walaupun sejujurnya ia tak ingin melihat Shella tersakiti. Karena ia juga masih menyimpan rasa, sekalipun ia harus kehilangan sahabatnya Hendrick demi mendapatkan hati Shella.


"Kak Andrew... heiii..." ujar Shinta membuyarkan lamunannya.


" Kak Andrew kenapa? "


"tidak apa-apa Shinta, ayo kita pergi dari sini. Nanti Shella dan yang lainnya keburu datang dan melihat kita disini" Ajak Andrew sambil menarik tangan Shinta menuju ke sebuah mobil yang sengaja ia parkirkan di depan sebuah cafe yang tak jauh dari kost elite.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 atau jam setengah sebelas malam. Rasa cemas dan khawatirpun mulai menyelimuti pikiranku karena sudah hampir tiga jam Kak Hendrick dan Ardian belum kembali juga. "apakah sebenarnya yang terjadi?" gumamku dalam hati.


"Kak Shella kenapa wajah kakak jadi tegang kayak gitu?" tanya gadis manis itu padaku. Tanpa kusadari rupanya ia memperhatikanku sejak Hendrick menyusul Ardian.


"mmm... kakak cuma kepikiran sama kak Hendric dan Ardian Lia.. sudah lebih dua jam mereka belum kembali juga" jawabku.


"Kak Shella tenang aja, bentar lagi mereka bakalan balik kesini kok" tambah Thalia.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian Hendrick dan Ardian pun muncul.


"Kak Shella... itu kak Hendrick sama kak Ardian" seru Thalia yang segera berlari menghampiri kedua saudaranya itu.


"Kak Hendrick... kak Ardian .. kok lama banhet sih?" tanya Thalia dengan wajah polosnya.


"Shella, Karina, ayo cepat masuk ke mobil. aku akan mengantarkan kalian ke kost" Kata Ardian.


"iya kak, ayo Shella" Kata Karina.


"Thalia gimana kak? masa Lia tidur di kost cowok" timpal gadis tersebut.


"Thalia... adik kakak yang paling cantik... khusus but kamu malam ini nginapnya di Hotel saja ya sayang, nanti kakak carikan hotel yang bagus buat kamu" ujar Hendrick.


"mmmm.. gimana kalau Lia nginapnya di kost kak Karina aja, boleh kan kak Karina?" pinta Gadis 17 Tahun itu.


"Boleh lia... boleh banget malahan, kan jadi rame" jawab Karina.


"okelah... Kamu jaga calon kakak ipar kamu itu ya" ujar Hendrick sambil melirik ke arahku.


"Rebes bos..." kata Thalia dengan semangat.

__ADS_1


Kemudian Hendrick mengantarkan kami ke Kosannya Karina.


__ADS_2