
Sambil menunggu pesanan datang.
"kak Hendrick kenapa memesan makanan itu?"
"memangnya kenapa?"
"nggak kenapa-napa kak, cuma ...."
Belum selesai aku bicara, si pelayan sudah datang dengan membawa makanan yang sudah di pesan Hendrick tadi.
"ayo cepat habiskan makananmu, aku tidak ingin kamu nantinya sakit"
"Baik kak" ujarku. Kali ini aku merasa ada yang berbeda dari Hendrick. Walaupun gaya bicaranya terkesan judes / jutek tapi terkadang dia begitu perhatian denganku.
'ya tuhan.. kenapa aku jadi baper sama si manusia aneh gini ya' gumamku dalam hati.
"kenapa kamu senyum-senyum sendiri gitu? cepat habiskan makanannya. nanti kamu harus temani aku ke suatu tempat" kata Hendrick dengan nada sinis.
"mulai lagi.. kambuh penyakit manusia aneh ni orang" gumamku pelan.
"apa kamu bilang?"
"oh.. eh.. enggak kak, masakan orang disini enak banget" ujarku sambil mempercepat makan. 'aduh.. kenapa aku jadi salting gini ya'.
Usai menikmati makanan di cafe tersebut. Hendrick pun membayarnya ke kasir. Setelah itu dia mengajakku untuk pergi dari tempat itu, mengendarai mobil xenia yang sudah di modifikasi oleh laki laki itu menuju kota Tua.
Sesampainya di alun alun kota tua, kak Hendrick mengajakku duduk di sebuah kursi yang telah disediakan disana. Suasana kota tua sore ini terasa begitu berbeda bagiku. Terlihat beberapa orang muda mudi tengah bermain musik, ada juga beberapa orang anak kecil dengan orang tuanya sedang duduk, para pedagang, dan masih banyak lagi.
Saat sedang menikmati suasana kota tua, tiba-tiba ada sekelompok anak muda yang memanggilku, lalu memintaku untuk bernyanyi disana.
"Kali ini kita panggil seseorang wanita cantik yang sedang duduk di bangku putih disana. namanya Shella putri Amanda" ujar laki laki yang sepertinya seumuran dengan kak Hendrick itu.
"hey manusia menyebalkan,nama kamu dipanggil tuh" seru Hendrick.
__ADS_1
"apa?aku? kemana?" tanyaku bingung.
"sekali lagi kak Shella, dipersilahkan menyumbang suara emasnya disini" tambah laki laki berkaos hitam itu.
"buruan gih sana" kata kak Hendrick mendorongku ke pentas kecil yang letaknya tidak jauh dari posisi aku duduk saat ini. Mau tak mau aku harus naik ke atas pentas kecil itu. Lalu laki- laki berkaos hitam tadi memberikan sebuah mikrofon padaku.
"Silahkan kak, mau nyanyi lagu apa?"
Jujur saja, saat ini aku merasa sedikit gugup. Bagaimana tidak, sudah lama sekali aku tidak pernah lagi bernyanyi dihadapan orang banyak. terlebih saat ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku diminta untuk tampil disini. Setelah berbincang beberapa saat dengan pemain musik, aku pun memutuskan untuk menyanyikan sebuah lagu yang berjudul 'BUNDA yang dipopulerkan oleh Melly Goeslow'
*Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
__ADS_1
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku*
Tanpa disadari air mataku pun terjatuh, yang diiringi oleh suara tepuk tangan dari pengunjung yang menyaksikan aku bernyanyi.
__ADS_1