
Ketiga perempuan beda usia itu tengah asik berbincang-bincang membahas masa lalu, sementara Ardian tidak kelihatan batang hidungnya setelah Shella pamit pulang tadi.
*dirumahku
Saat itu aku tengah sibuk merapikan isi rumah, lemari pajang usang peninggalan ibu yang sudah lama diletakkan di ruang tengah, aku perbaiki lagi dengan mengganti warna catnya dengan warna putih. Setelah cat nya kering lemari tersebut aku taruh di ruang depan, tak lupa aku menata beberapa rangkaian bunga plastik di dalamnya. Lalu aku menggelar sebuah tikar rasfur pink yang sengaja ku beli di sebuah toko home dekor sepulang dari rumah mami Cathlin. Saat tengah sibuk berkemas rumah, Cici dan Eren pun datang.
"Hai Shella... widiiihhh rapi bener rumah kamu Shel" ujar Cici
"iya nih... kayak mau ngadain acara aja.. hehehe" timpal Eren
"iya Ren, tiga hari lagi mami Cathlin akan ngadain acara syukuran disini. jadi aku harus membuat rumah ini kelihatan serapi mungkin" kataku.
"Syukuran? syukuran buat apa Shel?" tanya Eren
"ya pastinya syukuran buat keselamatan Shella lah Ren, kan minggu depan dia mau berangkat ke Jakarta. mau ngelanjutin studynya di universitas Jakarta... gimana sih" timpal Cici.
"wah.. beruntung banget ya kamu Shel, tapi kalau kamu ke jakarta, terus siapa dong yang bakal jadi temen curhat aku, karena kalau udah sibuk disana pasti kamu bakalan lupain kami" kata Eren dengan wajah memelas.
"enggak kok Ren, aku pasti nggak bakalan lupain kalian.. kan sekarang udah ada media komunikasi... lewat telpon gitu atau lewat media sosial" ujar ku sambil mengeluarkan ponsel pemberian kak Hendrick beberapa waktu lalu dari dalam tas ku.
__ADS_1
"asiikkk Shella udah punya ponsel, betewe kamu dapat dari mana Shel?" tanya Cici.
"ini pemberian dari laki-laki yang waktu itu pernah jemput aku kesini, ternyata dia anaknya mami Cathlin, entah kenapa dia kadang baik denganku.. terkadang menjengkelkan" tambahku.
"beruntung banget ya kamu Shella, oh iya, ajak kami juga dong ketemu lagi sama kak Hendrick yang ganteng abisss itu" kata Eren.
"tapi... sayangnya sudah beberapa hari belakangan ini aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi, nomer ponselnya pun tidak bisa dihubungi" jelasku.
"kenapa Shel?" tanya eren
"Entahlah Ren. aku juga tidak tahu" jawabku singkat.
TOK TOK TOK...
"Silahkan masuk..." ujar Cici hendak membuka pintu.
"eh.. Ardian.. silahkan masuk"
'sial... ternyata mereke juga ada disini' gumam Ardian
__ADS_1
"Silahkan duduk ian, kamu mau minum apa? biar aku buatkan" tambah Cici jadi salah tingkah dengan kedatangan Ardian.
"tidak usah repot-repot, aku kesini cuma mau...." belum selesai Ardian bicara, masuklah seorang perempuan yang mengenakan stelan celana jeans setengah paha dan mini dress.
"sayang.. kamu ngapain kesini.. ini kan rumahnya orang miskin, kamu tidak takut nanti banyak kuman.. iuuuhhhh bau sekali tempat ini.. ini rumah atau kandang a..." ujar si perempuan yang bernama Shinta yang belakangan ini aku ketahui dia adalah kekasihnya Ardian, ia memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.
"apa apan sih kamu, kenapa kamu juga kesini?" ujar Ardian yang sepertinya merasa risih dengan kedatangan Shinta.
"Haduhhhh... nenek lampir... kenapa sih kamu itu selalu mengganggu Shella" kata Cici yang mulai emosi melihat tingkah laku dua orang dihadapannya itu.
"suka-suka gue dong, mau ganggu siapa.. masalah buat elo?" kata Shinta
"sudah sudah.. kenapa kalian jadi ribut sih, kamu Shinta, ngapain kamu ikutin aku sampai kesini?" tanya Ardian kesal.
"maksud kedatang gue kesini, cuma mau ngasih tau kalau Shella putri amanda yang terkenal dengan kepintaran dan kepolosannya ini, ternyata selain pintar dalam pelajaran dia juga pintar dalam memanipulasi wajah.. hahaha" ujar Shinta sambil tertawa.
"maksud lo Shin? heh.. mak lampir elo jangan berita yang enggak-enggak deh, gue tau siapa Shella" kata Cici memegang tanganku erat.
Suasana saat itu terasa mulai memanas, terlebih lagi Cici yang terlihat sangat kesal melihat Shinta terus menerus memegangi tangan Ardian, meskipun laki-laki itu berusaha hendak menjauhi Shinta.
__ADS_1