Suara Air Mata

Suara Air Mata
Kesempatan


__ADS_3

Tiba-tiba aku kembali teringat akan kejadian tadi pagi, dimana aku dipermalukan didepan seluruh siswa SMA 1 dan para guru, karena foto yang disebarkan oleh Shinta kemarin. Rasanya hatiku sangat kacau, kepalaku kembali terasa pusing.


"Shel, minumlah ini dulu" ujar Cici memberikanku secangkir teh hangat.


"Shella, maafkan aku.. karena perbuatanku kamu jadi seperti ini" kata Hendrick


"Sudahlah kak, tidak ada yang perlu di maafkan, semuanya sudah terjadi dan mungkin inilah jalan takdir hidupku" Kataku, tanpa disadari air mata kembali membasahi pipi ini.


"Shella, kamu yang sabar ya... tetap semangat" ujar Cici dan Eren memelukku erat.


*Beberapa saat kemudian


Masuklah Mami Cathlin dan pak Syam selaku kepala sekolah bersama beberapa guru lainnya juga Ardian.


"Mami..." ujarku pada mami Cathlin.


"tenanglah sayang, semua suda kelar. Sekarang kamu dengarkan kata gurumu.. Silahkan pak" kata Mami Cathlin.


"terima kasih bu Cathlin, mewakili seluruh siswa dan pihak sekolah, kami meminta maaf pada nak Shella, karena kami sudah percaya begitu saja dengan berita kurang mengenakkan yang tersebar di media sosial kemarin. Maka dari itu kami pihak sekolah memutuskan untuk tetap memberikan kesempatan pada nak Shella Putri Amanda untuk tetap melanjutkan pendidikan di Universitas Jakarta, dan kami berterima kasih pada nak Shella, berkat prestasi kamu, sekolah kita tercatat sebagai sekolah terbaik di kota Padang" Ujar Pak Syam.


Seketika aku merasa sangat gembira tak terkira mendengar perkataan pihak sekolah tersebut.


"benarkah pak?"

__ADS_1


"Benar nak" ujar bu Leni selaku guru BP (Bimbingan Konseling)


"Alhamdulillah.. terima kasih banyak pak, bu" ujarku sambil menyalami guru satu persatu.


"sama-sama nak Shella... baiklah kalau begitu, kami pamit keluar dulu, soalnya jam pelajaran sudah dimulai" ujar Bu Leni.


Para guru pun meninggalkan ruang UKS, sekarang tinggallah Aku, kedua sahabatku, Mami Cathlin, kak Hendrick dan Ardian.


"terima kasih mami..." ujarku sambil memeluk wanita yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri.


"sama-sama nak Shella"


"Shella harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikan dari mami"


"boleh juga mi..." seruku.


Ardian, Hendrick,Cici dan Eren tersenyum melihat aku dan mami Cathlin. Setelah berbincang-bincang dengan para guru, kemudian kami pergi meninggalkan sekolah.


"Shella, nanti Hendrick yang jemput kamu ya" ujar Mami Cathlin.


"baik mi" jawabku.


"mami.... Ardian saja mi" timpal Ardian.

__ADS_1


"Ardian, kamu ini" ujar mami sambil membelalakkan matanya. Ardian menundukkan pandangannya tanda mengerti dengan sikap Maminya itu.


Kemudian ibu dan kedua anak laki-lakinya itu pergi menggunakan sebuah mobil toyota fortuner menuju rumah. Sementara itu aku dan kedua sahabatku pulang ke rumah dengan menumpangi angkutan kota (angkot).


"Shella, kamu tau nggak waktu kamu pingsan tadi kak Hendrick wajahnya keliatan cemas gitu" Ujar Cici.


"iya Shel, kayak mau nangis..." tambah Eren.


"aku udah tau kok" jawabku.


"hah? bagaimana bisa kamu tau sedangkan kamu saja lagi tak sadarkan diri" timpal Cici.


"hehehe... sebenarnya pas kak Hendrick datang tadi aku sudah sadar. tapi karena masih kesal dengan manusia aneh itu ya... aku pura-pura pingsan aja" ujarku sembari tersenyum mengingat kejadian disekolah tadi.


"Shella... kamu bisa aja, oh iya Shell.. tapi kayaknya kak Hendrick itu suka deh sama kamu" kata Cici.


"iya Shel... kalau sempat jadian sama kak Hendrick.. mmmm...pasti beruntung banget, dia kan ganteng, anak orang kaya, stylenya ok, kulit putih, senyumnya itu lho.... sweet banget... " tambah Eren sambil berkhayal ia melihat wajah kak Hendrick.


"yee... kamu Ren, kak Hendrick itu sukanya sama Shella, bukan sama kamu" timpal Cici membuyarkan lamunan Eren.


"hehehe.. ya maaf Shel, habisnya kok bisa ya kamu jadi rebutan anak keluarga Antoni, seorang pengusaha terkenal" kata Eren


"itulah yang namanya takdir" jawab Cici.

__ADS_1


"hey.. sudah sudah, kok kalian malah berdebat gitu, mana mungkin aku jadi rebutan, emangnya makanan ampe berebut gitu. lagian ya, kalau si manusia aneh itu, mana mungkin dia menyukaiku. pasti di jakarta sana dia juga sudah punya pacar. Kalau Ardian, ya kalian tau saja, ada Shinta. aku tidak ingin hal yang sama terulang lagi. Aku saat ini sudah banyak berhutang budi dengan keluarga itu. Mereka selalu menolongku disaat aku kesulitan." kataku.


__ADS_2