Suara Air Mata

Suara Air Mata
Cari siapa?


__ADS_3

Pagi itu mentari telah mulai menampakkan dirinya, hiruk pikuk kota jakarta sudah menjadi mainan di pendengaran duo mahasiswa sumatera Karina dan Shella.


"Kar, ngomong ngomong kemarin surat apa yang kamu tunjukkin sama kak Angel?" ujarku pada Karina yang saat itu tengah mensetrika pakaiannya.


"oh itu, surat keterangan kesehatan" jawab Karina.


"kamu sakit apa Kar?"


"nggak ada"


"trus?"


"itu cuma surat keterangan palsu, aku tau pasti kamu nggak bakalan diijinin sama pihak kampus untuk ikut kemah bakti hari ini. Dan lagian aku juga males, nggak ada gunanya juga ikut hal yang begituan" tambah Karina.


"kamu ini.. ada ada saja" ujarku sambil mengunyah snack kentang.


"oh iya Shella, jam berapa kita mulai pencarian alamat orang tua kamu?" tanya sahabatku itu.


"sekarang juga bisa" jawabku dengan penuh semangat. Aku berharap hari ini bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungku. Setidaknya aku bisa melihat bagaimana rupanya kedua orang tuaku itu.


Pukul 10 pagi, usai bersiap-siap dan sarapan. Aku dan Karina segera menuju jalan perintis menggunakan Gi-Car, lokasi lumayan jauh dari kost Karina.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit akhirnya kami sampai di alamat yang pernah ditulis bu Siti. Rumah minimalis, dan mempunyai taman kecil di depannya yang tampak tak terurus itu membuat hatiku menjadi sedih, Karena sebelumnya aku juga pernah kesini dan mencari keberadaan orang tuaku.


"Shel, apa benar ini alamatnya?" tanya Karina yang merasa heran dengan rumah itu.

__ADS_1


"benar, memangnya kenapa Kar? ayo kita coba intip di dalamnya, siapa tahu ada foto pemilik rumah ini" seruku sambil melangkah masuk melewati taman tersebut.


"pelan pelan Shella... aku takut rumah ini sepertinya angker"


"hus.. kamu jangan ngomong yang tidak tidak".


Setelah mengintip lewat jendela rumah tersebut, tiba tiba kami dikejutkan oleh suara seorang bapak bapak di belakang kami.


"ehm... neng mau cari siapa disini?" ujar si bapak bertopi hitam dan baju kaos hijau tersebut.


Sontak saja kami berteriak karena ketakutan.


"AAAAAAAA....HANTUUUUU".


"neng tidak usah takut, bapak ini manusia bukan hantu" Timpal si bapak.


"tidak apa apa neng, perkenalkan saya Kang Ujang, kebetulan saya penjaga rumah ini" tambah bapak tersebut.


"nah.. kebetulan sekali pak.. saya ingin bertanya, bapak tahu siapa pemilik rumah ini?"


"ini rumah tuan Michael neng, beliau keturunan belanda, istrinya orang asli indonesia. dan mempunyai seorang anak laki laki yang bernama pratama michael"


"jadi sekarang mereka dimana pak?" tanya Karina yang mulai penasaran.


"sebaiknya neng berdua ikut saya ke warung istri saya saja di depan. Nanti neng bisa tanyakan pada istri saya.. soalnya saya buru buru mau ke pasar, ada keperluan mendadak soalnya neng" tambah bapak tersebut sambil menuntun kami menuju warung yang letaknya tak jauh dari rumah minimalis tersebut. Sesampainya di warung tersebut, kami disambut hangat oleh seorang wanita tua yang merupakan istri sekaligus pemilik warung tersebut.

__ADS_1


"silahkan di minum neng" Ujar wanita yang belakangan kami ketahui namanya Turimah.


"terima kasih buk" ujar aku dan Karina.


"ngomong ngomong neng cantim berdua dari mana? dan cari siapa?" tanya mbok Tur.


"saya ingin mencari pemilik rumah itu mbok" kataku menunjuk ke arah rumah minimalis tersebut.


"tuan Michael"


"bukan mbok, apa si mbok mengenal orang yang tertulis disini?" ujarku sambil memperlihatkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat orang tuaku yang pernah ditulis oleh bu Siti.


.


.


.


Author : Hay readers semua, semoga sehat selalu ya


plis kasih like dan komennya dong..


Author mau nangis nih....😭😭😭


Readers: apaan sih, nggak jelas banget

__ADS_1


Author: 😞😟


__ADS_2