
Pukul Sebelah lima belas malam, sampailah kami di apartement luxury. Malam ini merupakan moment yang sangat berarti bagiku, aku masih saja tidak percaya dengan semua yang terjadi ini.
Usai mencuci wajah, tangan, kaki serta mengganti pakaian dengan piyama pink kesayanganku. Akupun segera beristirahat. Kupejamkan mataku, lalu aku membayangkan sosok ibu siti.
'ibu.. aku ingin ibu juga merasakan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini ibu, seandainya ibu ada disini' gumamku dalam hati sembari memeluk surat yang pernah dituliskan ibu untukku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, segera ku raih ponsel yang sengaja aku taruh di atas meja kecil disamping tempat tidur.
"Kak Hendrick?" gumamku saat melihat panggilan masuk di ponsel.
"Hallo.. kak Hendrick"
"Night my beauty, kamu sudah tidurkah?"
"ini Shella mau tidur kak, ada apa kak?"
"tidak ada apa-apa, aku cuma mau bilang 'I Love You Honey' selamat malam dan semoga mimpi indah"
"terima kasih kak Hendrick, Love You too" ujarku tersipu malu mendengar ucapan kekasihku itu.
Kemudian panggilanpun terputus, aku kembali melanjutkan istirahatku yang sempat tertunda sejenak.
__ADS_1
***
Pagi ini seperti biasa aku bangun lebih awal, usai mandi dan melaksanakan sholat wajib. Aku berencana hendak membuat sarapan roti isi coklat dan susu hangat.
"Non Shella... biar bibi aja yang bikin sarapannya" kata bi Siska.
"nggak apa-apa bi, biar Shella aja.. bibi kerjakan yang lain saja ya" ujarku saat mulai mengoles selai coklat di atas selembar roti tawar.
"non Shella memang tipe wanita idaman, sudah cantik, baik, rajin, pintar lagi.. pasti non Shella jadi rebutan para cowok-cowok" kata bi Siska.
"ah.. bi siska bisa aja"
"tapi bener kan non, dulu saat bibi seusia non Shella boro-boro bisa sekolah, bibi malah disuruh nikah sama si mbok" tambah bi siska sambil mengelap piring yang sudah dicuci.
"benar non, tapi bibi salut sama non Shella. kebanyakan bibi lihat orang kayak non ini banyak yang sombong dan nggak mau bergaul sama orang kelas bawah seperti bibi ini"
"bibi... apa yang perlu di sombongkan didunia ini bi, kita semua sama dimata Tuhan. cuma amal ibadah saja yang membedakannya"
"iya non Shella, eh ngomong ngomong non.. den Hendrick itu cakep juga ya, mirip bule.. kalau non Shella nikah sama dia.. hmm pasti anak kalian lahirnya cakep-cakep juga" goda bi Siska.
"bi Siska.. ada-ada saja" kataku saat menata sarapan kami di atas meja makan.
__ADS_1
Kemudian datanglah mama yang sudah berpakaian rapi mengenakan stellan kemeja motif bunga dan celana kantor.
"eh anak gadis mama udah bangun rupanya" kata mama menghampiriku dan mencium keningku, lalu beliau menaruh tas kerja di atas meja kecil disudut ruangan tamu.
"ma, tapi nanti siang kita mau acara barberqiuan di halaman belakang, kok mama pergi kerja?" tanyaku.
"iya sayang, mama mendadak ada urusan sebentar dikantor, paling sebelum jam 12 siang mama udah pulang" jelas mama padaku.
"papa mana ma?" tanyaku lagi
"papa kamu lagi siap-siap mau berangkat kekantor nak, oh iya bi Siska.. nanti bibi saja ya yang beli bahan buat persiapan acara nanti ya bi, daftar belanjaannya ada diatas kulkas"
"baik nyonya" ujar bi Siska yang tengah membuat secangkir kopi untuk papa.
Tak berapa lama kemudian papa juga sudah siap, lalu kami menikmati sarapan pagi yang sebelumnya sudah aku siapkan.
"bi siska sekalian aja sarapan disini" ujarku saat melihat asisten rumah tangga kami pamit untuk melaksanakan tugas yang diberi mama.
"tidak usah non, nanti saja bibi sarapannya" ujar bi siska.
"Bi siska, nanti saja kerjakan tugas yang lain, sekarang kita sarapan sama-sama disini" kata Papa.
__ADS_1
"baik tuan"
Kehangatan suasana pagi ini membuat aku jadi bersemangat, aku tak sabar menunggu waktu siang tiba. Pasti acara barberque itu seru, secara ini pengalaman pesta pertama dalam hidupku.