
"ma" kata papa Tama membangunkan istrinya yang ketiduran di samping anaknya yang masih belum sadarkan diri juga.
"iya pa" jawab wanita itu dengan wajah yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi putrinya itu.
"Cathlin dan suaminya dimana pa?" lanjutnya.
"mereka sudah pamit pulang dari tadi ma, soalnya adrian dan thalia baru aja sampai dijakarta" papar pria paruh baya itu.
"pa... gimana dengan putri kita pa, sampai sekarang belum sadarkan diri juga"
"yang sabar ma, sebentar lagi putri kita siuman" ujar papa Tama berusaha menenangkan hati istrinya.
***
Malam sudah semakin larut, waktu pun telah menunjukkan pukul dua dini hari. Shella masih saja belum sadarkan diri.
Malam itu mama Tari sengaja tidur dikamar putrinya itu.
"Hendrick... hendrick... hendrick" terdengar sayup-sayup suara Shella memanggil nama tunangannya.
"Shella... kamu sudah sadar nak" ujar mama Tari segera memeriksa kondisi anaknya.
"hendrick... kamu jahat... " kembali terdengar suara Shella memanggil kekasihnya, tapi masih dalam keadaan mata tertutup.
"ya ampun Shella, badan kamu panas sekali nak... pa...papa..." kata mama Tari saat meraba kening putrinya itu.
"ada apa ma?"
"papa cepetan kesini pa"
__ADS_1
"kenapa ma? Shella sudah sadar"
"badan Shella panas sekali pa"
"sebaiknya segera kita bawa ke rumah sakit saja ma"
"iya pa... cepetan pa... ya ampun nak... kenapa kamu jadi begini nak" kata mama Tari beruraikan air mata.
Pratama mengambil mobil di garasi, lalu mereka segera membawa Shella ke rumah sakit swasta milik keluarga besar Tama.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya sampailah mereka ditempat tujuan, Papa tama segera menggendong putrinya ke ruang IGD
"dokter.. dokter... tolong anak saya" kata papa Tama pada dokter Rudi yang kebetulan sedang bertugas malam itu.
"ya ampun Shella, suster segera bawa pasien ini ke ruangan VVIP" perintah dokter tampan itu pada salah seorang suster disana.
"baik dok"
"bagaimana putri saya dok?" tanya mama Tari.
"melihat kondisi putri ibu, sebaiknya untuk beberapa hari kedepan kita rawat saja disini" ujar dokter Rudi sambil menyuntikkan beberapa cairan obat yang sudah disuntikkan dalam selang infus.
"baiklah dok, apapun itu berikan pelayanan yang terbaik untuk putri kami dok" kata papa Tama
"itu sudah pasti pak Tama, sebagai pemilik rumah sakit ini, kami akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk keluarga anda.."
"terima kasih dok" timpal mama Tari.
"ibu tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban kami.. kalau begitu saya pamit dulu ya bu Tari, pak Tama"
__ADS_1
"baik dok" lanjut mama Tari sambil membelai rambut anak semata wayangnya itu.
"Shella, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu sampai sakit begini nak" gumam wanita itu sambil menggenggam erat tangan putrinya.
Beberapa jam kemudian, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sayup-sayup sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela ruang rawat kelas atas itu.
Shella sudah mulai siuman, perlahan-lahan ia membuka matanya.
"dimana aku?" tanya ia merasa heran kenapa tiba-tiba ia sudah berada di ruangan ini.
"mama" kata gadis itu sambil melihat ke arah mama Tari yang tidur sambil duduk disampingnya.
"eh anak mama sudah bangun"
"Shella ada dimana ma? kenapa ada ini?" ujar ia sambil mengangkat selang infus yang terpasang ditangannya.
"semalam kamu tidak sadarkan diri, dan badan kamu panas sekali nak, jadi kami bawa kamu kesini"
"ma.. "
"iya nak.. ada apa nak"
"ma.. Shella ingin sekali berbagi cerita sama mama"
"cerita apa nak? sebenarnya apa yang telah terjadi nak?" tambah mama Tari mulai merasa kasihan dengan konsisi putrinya itu.
"ma... sebenarnya... "
TOK TOK TOKKKK...
__ADS_1
belum sempat ia bicara tiba- tiba masuklah seorang perawat membawa beberapa obat dan makanan yang akan dikonsumsi Shella pagi ini.