Suara Air Mata

Suara Air Mata
Babak baru


__ADS_3

"cieee... yang dapat kiriman bunga, dari siapa Shel?" tanya Eren.


"entahlah, barusan driver Gfood ngasih ini, katanya dari pemuda yang lagi duduk di ujung jalan sana" jawabku sambil menaruh bunga tersebut di atas meja.


"ehm... Shella baru nyampe aja udah ada yang kirim bunga, memang ya kalau banyak penggemar gitu" ledek Karina yang hampir saja menuntaskan ritual makannya.


"kamu Kar, penggemar apanya, kenal juga enggak, nama pengirim pun juga tidak ditulis disini" timpalku sedikit kesal.


" ya sudahlah, mending kita makan yuk Ren... lihat tuh Karina makanannya udah mau habis" tambahku.


***


malam harinya


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, Eren pun telah menuntaskan pekerjaannya. ia pun segera berkemas dan pamit untuk pulang kerumahnya yang berada tidak jauh dari rumahku.


"aku pulang dulu ya Shel" kata Eren


"nggak nginap disini aja Ren? udah malam lho..." timpal Karina.


" nggak usah Karina, lain kali aja, soanya besok pagi aku harus bantu ibuku membereskan barang di toko"


"memangnya rumah kamu dimana Ren? nggak baik lho perawan jalan malam sendirian"


" nggak jauh dari sini kok Kar, lagian aku juga sudah biasa pulang malam sendirian"


"beneran kamu tidak apa-apa pulang sendirian Ren? atau aku anterin aja kamu sampai jalan depan" tambahku.


"boleh juga" jawab eren sembari tersenyum.


Usai mengunci pintu, kami pun menelusuri jalan hingga persimpangan yang tidak jauh dari rumahku. Kebetulan disana juga telah dibangun sebuah warung dengan pos ronda disampingnya.


"Eren" seru seorang pemuda yang berwajah lumayan tampan, berkulit sawo matang, mengenakan kaos biru dan celana jeans selutut tengah duduk bersama beberapa orang pemuda lainnya sambil memegang sebuah gitar ditangannya.


"hm.. eh iya bang Erik" jawab eren melihat ke asal suara tersebut.

__ADS_1


"mau pulang ya ren?"


"iya bang"


"itu yang disamping temen kamu?"


"iya bang, perkenalkan ini Shella dan satu lagi namanya Karina"


kemudian kami pun berkenalan dengan para pemuda tersebut.


"oh jadi ini Shella, anaknya bu siti?" tambah bang Erik yang belakangan aku ketahui merupakan ketua pemuda di daerah sini.


"iya bang" jawabku singkat.


"kabarnya kamu dapat beasiswa kuliah di Jakarta ya Shella?"


"iya bang, kebetulan saat ini aku dan Karina dapat tugas magang di daerah padang ini bang"


"hmmm... begitu"


***


Pukul 23.00


tiba-tiba ponselku berdering, suara alunan musik yang lumayan kencang itu membangunkan aku yang belum lama tidur.


sayup-sayup mataku mencari keberadaan ponsel tersebut.


"ah.. disini rupanya" gumamku sambil meraih ponsel dari dalam tas kecil yang tergantung dibalik pintu.


"hallo... assalamualaikum" ujarku dengan suara pelan.


"waalaikumsalam, kamu sudah tidur Shel?"


"*ini siapa?"

__ADS_1


"ini aku... "


"aku? aku siapa?"


"kamu Shella kan*?" tambah sipenelpon laki-laki yang semakin membuat aku bingung sekaligus kesal


"maaf ya, lain kali aja telvonnya, sudah malam, aku ngantuk dan tidak ingin ladenin orang yang nggak jelas seperti anda" tambahku segera mengakhiri panggilan tersebut.


Sengaja malam ini ponselku matikan, karena badanku sudah terasa sangat capek dan harus istirahat. Lagian besok juga ada jadwal survey dan pekenalan di tempat magang.


***


Bandung


Disebuah apartement mewah, terlihat Hendrick tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Ia harus memeriksa beberapa laporan project yang akan di presentasikan esok.


Sebagai pimpinan perusahaan, ia dituntut harus profesional dalam perkerjaannya. Hal itu membuat ia jarang memiliki waktu untuk berfoya-foya. Bahkan untuk menghubungi Shella, yang saat ini sudah jadi tunangannya pun, ia nyaris tidak mempedulikan lagi hubungan mereka.


Zzzzztttt... zzzztttt...


terdengar suara getaran dari ponsel yang sengaja ia taruh di atas meja kerja.


"Halo Vera, ada apa telvon malam-malam begini?"


"*mmmm anu Ndrick, eh pak.. itu soal ... mm.... itu"


"apaan sih? saya saat ini lagi sibuk, besok saja dikantor kita selesaikan*"


Tut.


Hendrick mengakhiri panggilan tersebut, kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa saat.


"iiissssh.. kenapa sih, sikap tu cowok sekarang jadi dingin banget.. hmmmh mentang-mentang sekarang sudah jadi bos, tapi... kita lihat aja, sampai kapan kamu akan bersikap dingin padaku Hendrick" kata Vera dengan senyuman liciknya.


Ya, Vera yang dulu merupakan teman satu kampus yang sangat menyukai Hendrick, walaupun ia mengetahui status hubungan Hendrick dan Shella saat ini. Tak menyulutkan niatnya untuk merebut hati pria tersebut.

__ADS_1


Saat ini Vera juga bekerja diperusahaan yang dikelola oleh pria incarannya itu, tak tanggung-tanggung,karena pertolongan dari pak Anton, papanya Hendrick. Sekarang ia ditugaskan sebagai sekretaris pribadi Hendrick. Jadi, sejak hari itu dimana ada Hendrick,disitu ada Vera.


__ADS_2