
Sesampainya di rumah mami Cathlin. Setelah menurunkan barang bawaanku dan memarkirkan mobil di garasi.
"terima kasih kak Hendrick" ujarku pada laki-laki itu.
"hmm.. " jawabnya singkat, lalu ia pergi meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah.
"Dasar manusia aneh" gerutuku kesal. Kemudian aku menarik ganggang koperku lalu masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Assalamualaikum" ujarku.
"Waalaikumsalam, eh nak Shella... silahkan masuk nak" jawab mami Cathlin, yang saat itu tengah duduk bersama seorang tamu uang kemarin ku lihat.
"baik mami" jawabku.
"oh iya nak Shella, kenalin ini bu Tari. teman mami yang kemarin katanya mau ikut ke acara syukuran kamu. rupanya tidak jadi karena kesibukannya" ujar Mami Cathlin.
DEG ...
'kenapa aku merasa aneh begini ya' gumamku dalam hati, kemudian aku menyalami wanita di hadapanku itu.
"perkenalkan nama saya Shella, tante" ujarku.
"Shella, nama yang sangat cantik seperti orangnya" kata bu Tari sambil mengusap pipiku. Usapan tangan wanita ini terasa begitu nyaman bagiku. pikiranku tiba tiba teringat akan sosok alhmarhumah ibu.
"Shella, kamu kenapa nak?"tanya bu Tari membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"oh.. eh.. tidak kenapa kenapa bu.. oh iya mi, Thalia dimana mi?" ujarku, karena sejak kedatanganku tadi aku tidak melihat gadis itu.
"Thalia lagi di dalam kamarnya, sebentar mami panggilkan" Kata Mami Cathlin beranjak pergi ke kamar Thalia. Sementara aku dan bu tari menunggu di ruang tamu.
"oh iya nak Shella, orang tua kamu dimana?" tanya bu Tari.
"orang tuaku sudah meninggal dunia sejak aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP bu"
"Astagfirullah maafkan ibu nak, jadi kamu dirumah tinggal sama siapa?"
"sendiri saja bu.."
"saudara kamu yang lain?"
"Kak Shella.... " ujar Thalia.
"Thalia" jawabku.
"Ayo kak, ke kamarku saja.. Thalia sudah tidak sabaran bisa main dan bercerita bareng sama kakak" kata Thalia sambil menarik tanganku.
"Thalia, pelan pelan, nanti tangan kak Shellanya sakit" ujar mami Cathlin.
Kemudian aku mengambil koperku dan menaruhnya di kamar Thalia, Kamar itu terlihat sangat mewah bagiku, kamar yang luas dan dihiasi dengan walpaper bermotif pink putih dan beberapa pajangan juga lemari hias. Sungguh kamar Thalia jauh beda dengan kamarku.
Malam itu Thalia tak henti hentinya mengajakku bercerita, raut kebahagiaan jelas terpancar di wajah gadis berambut coklat dan hidung mancung itu. Bagaimana tidak, sebagai seorang putri keluarga Anthoni, ia dilarang keras membawa temannya ke rumah, kecuali ada hal penting seperti belajar kelompok. ia juga merasa kesepian. Sementara kedua kakak laki lakinya juga sibuk dengan urusan masing masing.
__ADS_1
TOK TOK TOk...
"Thalia, mari makan malam dulu nak, papi dan kakak kamu juga sudah menunggu di meja makan, sekalian ajak juga Kak Shella" ujar Mami Cathlin dari balik pintu.
"baik mam" jawab Thalia.
"Ayo kak, nanti kita lanjutin ceritanya" ajak Thalia, lalu kami keluar kamar menuju meja makan.
Disana terlihat keluarga Anthoni serta Bu tari dan suaminya tengah bersiap ingin makan malam. Saat tengah menikmati makan malam, terjadilah sebuah insiden kecil. ketika hendak mengambil air minum di dispenser tiba-tiba kakiku terpeleset dan cidera.
"Awwwww sakit..." teriakku sambil memegangi kakiku.
Sontak saja seketika Hendrick dan Bu Tari terlihat panik.
"Kamu kenapa Shella" ujar Hendrick.
"Kakiku sakit kak" jawabku.
"kamu ini, jalan tidak hati hati sih" Tambah Hendrick kemudian tanpa memberi aba aba terlebih dahulu, dia membopongku ke atas kursi sofa di ruang keluarga. Lalu Hendrick pun membantu memijit kakiku yang sakit.
"pakai ini saja nak Hendrick" ujar bu Tari memberikan sebuah salep pada hendrick.
"Awww sakit" rintihku ketika Hendrick memijit kakiku.
"lain kali kalau jalan itu hati hati" seru Hendrick. acara makan malam kali ini terhenti sejenak.
__ADS_1