
"Shella... apa kamu sedang mencari ini?" kata bu Tari memberikan sebuah surat padaku.
"ibu dapat surat ini dimana?"
"maaf nak, kemarin ibu tidak sengaja melihat surat ini dibawah bantal sewaktu ibu hendak membereskan kamar ini"
"apa? maksud Shella, apa ini membaca isi surat ini?"
"maaf nak, ibu sudah lancang.. tapi perlu kamu ketahui bahwa nama dan alamat yang ditulis oleh ibu yang sudah merawat kamu sejak kecil itu adalah kami" kata bu Tari yang mulai meneteskan air mata bahagia lalu memelukku erat.
"maksud ibu?" tanyaku semakin heran.
"maksudnya kamu sebenarnya adalah Namira, anak kami yang sempat hilang beberapa waktu yang lalu nak" timpal pak Tama.
"tidak mungkin.... kalian pasti cuma bercanda kan.. bu.. pak.. " kataku yang merasa begitu syok mendengar penuturan pasangan suami istri tersebut.
"iya nak, kamu adalah namira.. anak kami, yang kami cari-cari selama ini" tambah pak Tama.
"tidak mungkin... tidak mungkin..." teriakku yang mulai histeris.
"sayang... sejak pertama kali mama bertemu denganmu, dan saat mama melihat ada tanda lahir merah di kakimu.. Mama yakin kalau kamu itu adalah Namira.. bukan Shella" ujar bu Tari.
Mendengar penuturan mereka, rasanya antara percaya dan tidak. Mana mungkin tiba tiba saja mereka mengaku kalau mereka adalah orang tua kandungku? lalu kenapa bu Tari baru mengatakannya sekarang? ah kalau pun benar mereka orang tua ku? kenapa tega teganya mereka dengan mudahnya mempercayai orang lain mengasuhku sewaktu bayi?. Bermacam pertanyaan muncul dipikiranku.
__ADS_1
"Shella. anakku" kata bu Tari membuyarkan lamunanku.
"maaf bu, pak.. Shella ingin waktu untuk sendiri dulu"
"nak..."
"maaf bu,pak.. tolong tinggalkan Shella sendiri" seruku dengan nada agak keras.
"sayang.... "kata bu Tari berusaha untuk menenangkanku.
"ma.. sebaiknya kita keluar saja dulu, mungkin Shella masih syok mendengar hal ini" timpal pak Tama mengajak istrinya keluar kamar.
*kost elite
"Ndrick, ngomong - ngomong si Andrew kemana? kok gue ngerasa ada yang aneh sama dja belakangan ini?" tanya david yang saat itu tengah memegang sebuah gitar.
"entahlah" jawab Hendrick singkat.
"elu ngerasa ada yang beda nggak sama tu anak?" tanya David lagi.
"entahlah" jawab Hendrick yang sedang asyik membaca sebuah buku.
"o iya, ngomong-ngomong elu tau nggak siapa cewek yang ditaksir sama Andrew?"
__ADS_1
"entah"
"ya elah elu Ndrick, jawabnya ntah ntah entah mulu. Gue nanya, elu malah sibuk baca buku. Skripsi elu kan udah kelar tinggal nunggu hari wisuda aja, beda sama gue yang masih ada jadwal kuliah satu semester lagi" kata laki laki berkulit sawo matang dengan style ala oppa korea itu pada Hendrick yang berwajah campuran jerman dan indonesia.
"elu sih ngasih pertanyaan yang berbobot dikit kek"
"sebenarnya ada apa sih sama kalian berdua, ooo atau jangan - jangan karena masalah cewek ya, jangan -jangan kalian pada suka sama mahasiswa baru itu, siapa namanya .... mmmm"
"Shella jurusan hukum"
"nah itu... si Shella, jadi karena elu udah keburu jadian sama tu cewek, jadi si Andrew ngambek nih ceritanya... "
"entahlah... "
"elu bener-bener ya Ndrick, diem-diem elu libas juga.. ingat temen lu itu si Andrew"
"eh David, asal elu tau ya, gue kenal Shella tu udah lama, sejak dia masih SMA.gue juga udah lama suka sama dia, dan sekarang kenapa gue yang elu bilang seolah olah gue udah jahat sama temen gue sendiri?" kata Hendrick menjelaskan.
"trus gimana sama Andrew?"
"elu coba aja hubungi dia, udah lah gue mau keluar dulu... laper" kata Hendrick sambil beranjak keluar kost lalu pergi menuju parkiran mobilnya.
"lah... main pergi gitu aja, gue ikut woy" seru David yang segera menaruh gitarnya lalu menyusul Hendrick.
__ADS_1