
"bi, tolong buatkan kopi untuk suami saya ya.. nanti taruh aja di atas meja kerjanya, soalnya saya masih sibuk urus pekerjaan dikantor" Kata mama kemudian pergi menuju meja kerjanya.
"baik nyonya.. "
"non Shella tunggu sebentar ya non, bibi mau bikin kopi dulu" kata bi Siska padaku.
"iya bi, oh iya bi.. gimana kalau sekarang aja aku kasih tau mama tentang keberangkatanku besok?" ujarku sambil mengekor di belakang asisten rumah tangga kami itu.
Kemudian bi Siska mengitip ke arah ruang kerja mama.
"sepertinya nyonya masih sibuk non, kalau nggak gini aja ntar pas bibi antar minuman Tuan, bibi bilangin deh non, gimana?"
"mmmm... ide bagus itu bi"
"baiklah non, bibi mau ke depan dulu ya non" ujar bi Siska sambil membawa nampan berisi secangkir kopi untuk papa.
Sementara itu aku kembali ke kamar sambil menunggu kabar dari bi Siska, entah kenapa aku jadi takut memberi tahu kabar ini pada kedua orang tuaku, terlebih lagi saat melihat mereka tengah sibuk mengurus pekerjaan.
Ku buka lemari pink berukuran besar yang sengaja di taruh di sudut kamar, lalu aku meraih sebuah koper dari dalamnya.
Satu persatu aku mulai menyusun pakaian dan barang - barang lainnya ke dalam koper tersebut.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian ponselku pun berbunyi.
"Hallo" ujarku saat menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Shel, ini aku Karina"
"iya ada apa Kar? udah dapat tiket pesawatnya? "
" Udah Shel, jadwal keberangkatan pesawatnya pukul sepuluh pagi, jadi sekitar jam delapan kita udah ngumpul di Bandara"
"oke Kar, oya ngomong-ngomong siapa yang bayarin tiket pesawatnya? aku kan belum ngasih uang buat beli tiketnya" ujarku.
"oh itu, tadi ada pihak kampus yang datang ke kosan aku. ngasih ini tiket, katanya ini tiket khusus buat kita dari pihak kampus" jawab Karina dengan polosnya.
"udah.. kamu tenang aja, yang penting besok kita go to Padang, aku juga pengen lihat suasana disana Shel" seru Karina dengan penuh semangat.
"hmmm...." aku pun termenung sesaat.
"Shel... Shella... ya elah kenapa diem aja"
"oh.. eh.. iya Kar"
__ADS_1
"kamu kenapa Shel? kok diem aja? hayo.. mikirin apa? mmm pasti mikirin kak Hendrick ya" goda sahabatku itu.
" ah Karina kamu ada-ada aja deh, ngapai juga mikirin dia.. ya sudah kamu udah nyiapin barang -barang yang bakal di bawa besok belum?"
"kalau itu mah, aku udah siapin dari tadi Shel. Ya Sudah kalau gitu sampai jumpa besok my best friend yang paling cantik" ujar Karina sembari mengakhiri panggilan tersebut.
TOK TOK TOK
"silahkan masuk" ujarku yang tengah sibuk menyusun beberapa stel pkaian ke dalam koper.
"Non Shella... "
"bi Siska, gimana hasilnya bi?" tanyaku sambil melihat ke arah wanita tersebut.
"maaf non, tadi bibi mau ngomong, cuma Tuan sepertinya sedang tidak ingin diganggu, begitu pun dengan nyonya" jawab bi Siska dengan tatapan sedih.
"ya sudah lah bi, lain kali saja Shella kasih tau mama sama papa" ujarku kembali lanjut menyusun pakaian ke dalam koper.
"biar sini bibi bantu non, non Shella jangan sedih ya..." kata wanita itu seakan-akan tau apa yang tengah aku pikirkan.
Aku hanya tertunduk diam menahan rasa sedih yang sepertinya tak mampu lagi ku bendung. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari terakhir aku berada di kota jakarta karena esok aku akan kembali ke tempat dimana dulu aku dibesarkan. Dimana aku dirawat oleh seorang wanita yang hidupnya sangat sederhana namun berhati mulia. Meskipun kehidupanku saat ini terasa jauh berbeda dari yang dulu. Sekarang aku mengerti, harta bukanlah segalanya, mempunyai keluarga kandung yang utuh, ternyata tak memberiku kebahagiaan. Bukannya aku tidak bersyukur, akan tetapi hati kecilku ini selalu bertanya-tanya apakah keluarga ini benar-benar keluarga kandungku? kenapa seolah-olah aku merasakan ada hal lain?
__ADS_1
berbagai pertanyaan itu seakan-akan terus menari dipikiranku.