Suara Air Mata

Suara Air Mata
kehadiranmu yang ku tunggu


__ADS_3

Pagi hari suasana di kota Padang terlihat cerah, Sinar mentari perlahan-lahan mulai menghangatkan ibu kota provinsi Sumatera Barat itu. Udara segar serta suara burung bernyanyi bersahutan, menambah keasrian alamnya. Hamparan hijau area persawahan dan kebun membuat sejuk setiap mata yang memandangnya.


Hari ini terasa berbeda dari hari sebelumnya, saat ini aku kembali tinggal seorang diri di rumah tua peninggalan bu Siti. Sejak kegiatan magang usai dua hari yang lalu Karina segera bertolak ke kampung halamannya di daerah Riau sana, sedangkan Eren juga tengah pergi berlibur bersama keluarganya ke pulau seberang. Sementara itu mama dan papaku kembali pada rutinitas mereka di Kota Jakarta.


Sekarang disini hanya ada aku bersama suara tv yang sengaja aku nyalakan untuk mengusir kesunyian saat ini. Sambil menyeruput secangkir kopi dan selembar roti yang sudah diolesi dengan selai coklat, ku alihkan pandanganku kehamparan area persawahan yang padinya mulai tampak menguning.


Seketika aku teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana pertama kali kak Hendrick datang kerumah ini, mengantarkan makanan sekaligus memperkenalkan dirinya dan seiring dengan berjalannya waktu hingga hubungan kami saat ini telah berganti dari sekedar kenal jadi bertunangan.


Ya, statusku saat ini memang sebagai tunangan Hendrick, akan tetapi semakin hari rasa yang dulu pernah hadir dihati, kini terasa hambar. Terakhir kami bertemu saat awal keberangkatanku untuk magang ke kota padang. Seterusnya boleh dikatakan tidak ada lagi komunikasi terjalin diantara kami.


'Kak hendrick, teganya kamu berbuat seperti ini padaku, kamu kira hatiku ini apa? kamu datang hanya disaat kamu butuh saja, segitu sibukkah kamu dengan pekerjaanmu? sampai sedikitpun waktumu tak ada lagi untukku, kamu saat ini sedang apa kak? dimana? sama siapa? apa kamu masih ingat status hubungan kita?' jerit batinku yang diserbu dengan beribu pertanyaan.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


TOK... TOK ... TOK...


"siapa?" tanyaku segera bangkit dari tempat duduk menuju ruang depan.


TOK... TOK... TOK...


lagi lagi terdengar suara ketukan pintu.


"iya tunggu sebentar" ujarku mempercepat gerakan membuka pintu.


'siapa sih? ditanya diam aja, nggak sabaran banget' gumamku tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.

__ADS_1


Setelah pintu terbuka, ternyata...


"Kak Hendrick" seruku, tak percaya akan kedatangan seseorang yang sejak tadi meracuni pikiranku.


"hello honey, apa kabar?" ujar pemuda tampan yang berpakaian rapi itu.


"kak Hendrick? serius ini beneran kamu? atau hanya sekedar halusinasi saja?" tambahku sembari mencubit pergelangan tangan. dan..


"Aww... sakit" ternyata ini bukan mimpi...


"kamu kenapa Shel?"


"oh..eh.. eng..enggak kenapa-kenapa kok kak, tu.. tumben kesini" ujarku terbata-bata.


"kenapa sayang?"


"mmm.. malu diliatin sama orang"


"ya sudah kalau gitu, apa boleh aku masuk?"


"boleh, silahkan masuk..kak Hendrick tunggu disini aja ya, Shella bikinin minum sebentar" kataku segera berlalu menuju dapur.


tak lama kemudian secangkir kopi serta beberapa cemilan telah tersedia di atas meja ruang tamu. Rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, mungkin karena sudah lama tidak menjalin komunikasi, jadi suasana seperti ini terasa canggung bagiku.


'oh my god, kenapa aku jadi grogi gini' jerit batinku.

__ADS_1


"Silahkan diminum kopinya kak"


"terima kasih sayang" jawab Hendrick segera menyeruput kopi tersebut, lalu menaruhnya kembali ke atas meja.


"ngomong - ngomong dimana teman kamu yang baik hati itu?" tanya Hendrick.


"siapa? Cici, Eren atau Karina"


"itu teman kuliah kamu yang satu jurusan"


"oh, Karina... dia sudah balik ke Riau kak, mumpung masih ada waktu libur habis magang" ucapku.


"oh begitu"


"kenapa kakak bilang teman kamu yang baik hati? maksudnya?"


"jadi begini..." kemudian kak Hendrick menceritakan bagaimana kejadian saat aku hendak berangkat magang, jadi Karina lah yang sudah merencanakan keberangkatan kami, tiket pesawat hingga pertemuan anatara aku dan kak Hendrick, serta sebuah bucket bunga dari tunanganku itu.


"Shella... aku rindu sama kamu, maaf kalau selama ini aku jarang menghubungimu, karena kesibukanku mengurus semua pekerjaan dikantor, ya.. kamu tau kan papi sudah memberikan kepercayaan padaku untuk mengurus salah satu perusahaannya. dan aku harus berusaha supaya nama perusahaan terus melambung, semua ini aku lakukan semoga kelak aku bisa membahagiakan kamu, membahagiakan keluarga kecilku serta anak- anak kita kelak" ucap Hendrick panjang lebar sambil menggengam erat tanganku.


aku menatap kedalam mata pemuda dihadapanku itu, rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan. disatu sisi ada rasa bersalah dalam diriku karena telah berpikiran buruk tentang calon suamiku itu.


Tuk TuK...


terdengar suara pesan masuk dari ponsel yang sengaja aku taruh di meja tv.

__ADS_1


__ADS_2