
"Shella mau ke kamar sebentar kak, ada yang ketinggalan" jawabku asal.
"ooo ya sudah, cepetan.. wanita aneh" kata laki-laki itu kembali memanggilku dengan panggilan yang sudah lama tak ku dengar. Sebenarnya aku kesal mendengar panggilan itu, tapi ya sudahlah.. situasi seperti ini malah makin membuatku jadi pusing.
Sesampainya di kamar, aku segera merebahkan badanku di atas ranjang untuk istirahat sejenak. 'Aneh, kenapa acara hari ini endingnya jadi kacau gini ya?' gumamku sambil menatap langit-langit kamar. Bermacam pertanyaan mulai menghantui pikiranku.
Kemudian datanglah Bi Siska dengan nafas yang ngos-ngosan memanggil namaku.
"n..nn..nnoon.. non. Shella.." seru Bi Siska dari depan pintu kamarku.
"ada apa bi? masuk saja, pintunya nggak dikunci kok" ujarku.
"Non.. gawat non.. gawat"
"gawat kenapa bi?"
"itu non.. ada yang berkelahi di lobby.."
"berkelahi? siapa bi?"
"itu non.. adiknya den Hendrick sama temannya den Hendrick non.. ayo cepatan turun non"
"Ardian? sama siapa bi? masalahnya apa?" tanyaku yang seketika bangkit saat mendapatkan kabar tersebut.
"sebaiknya non Shella lihat langsung aja ke bawah non.. ".
__ADS_1
"baik bi.." kataku segera bangkit lalu melangkah menuju lantai bawah apartement.
Sesampainya disana, alangkah terkejutnya aku saat melihat lobby apament luxury telah dihiasi bunga-bunga dan dekorasi bernuansa serba pink.
"dimana Ardian, kak Hendrick dan yang lainnya? kok nggak kelihatan?" gumamku sambil melihat kesekeliling ruangan itu, akan tetapi tak seorang pun aku temui disana. Hal ini semakin membuatku heran sekaligus jengkel.
Tiba-tiba datanglah seorang petugas wanita WO menghampiriku. Wanita itu berumur sekitar tiga puluh tahunan, mengenakan stelan jeans dan kemeja putih dan membawa sebuah buket bunga. Lalu memberikan bunga tersebut padaku.
"Nona Shella?" tanya wanita berkulit putih itu.
"benar, saya sendiri.."
"ini mba, ada kiriman bunga untuk anda"
Tanpa menjawab sepatah katapun, wanita itu pergi meninggalkanku.
"bunga yang cantik" gumamku sembari mengamati buket bunga yang tengah ku pegang itu. Ternyata di dalam buket itu terselip sebuah surat yang berisi pesan
"hai cantik.. silahkan maju sepuluh langkah ke arah depanmu"
Akupun mengikuti isi tulisan tersebut, kemudian aku melangkah sepuluh langkah ke arah depan dari tempat aku berdiri saat ini. Akan tetapi tak ku jumpai seseorang atau benda apapun disana.
"ya sudahlah, mungkin ini bunganya salah kirim" pikirku sambil berbalik arah mencari kedua orang tuaku.
Saat hendak melangkah masuk ke lobby, tiba-tiba datanglah seseorang yang membawa minuman.
__ADS_1
"minggir neng... awas.." seru laki-laki yang sepertinya seumuran dengan kak Hendrick membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas di atasnya dengan tergesa-gesa.
"Aww.... " seruku karena tak sengaja aku kehilangan keseimbangan badan dan membuat gelas-gelas itu terjatuh dan pecah.
"ma..ma.. maaf kak, bang eh.. kang.. saya nggak sengaja" ujarku merasa bersalah.
"aduh... hati-hati dong, ini gimana gelasnya? pecah semua" teriak laki-laki itu membuat aku jadi makin kebingungan.
"maaf kak, saya tidak sengaja"
"pokoknya saya nggak mau tau, kamu harus ganti rugi" bentak laki-laki itu.
"iya kak, saya akan ganti.. tunggu sebentar saya ambil uang dulu di dalam" ujarku.
"saya mau gantinya sekarang, enaksaja bilang mau ambil uang, nanti kamu kabur.. nggak nggak bisa"
"gimana sebagai jaminannya, kakak pegang ponsel saya dulu" ujarku sembari memberikan ponselku ada laki-laki itu.
"heleh.. pake jaminan segala, kalau nggak gini aja.. sebagai ganti ruginya, gimana kalau kamu ikut saya ketemu sama bos saya aja" bentak laki-laki itu membuat aku ketakutan.
"ya elah kak.. cuma gelas doang kok, jaminannya pakai hp saya aja.. saya janji bakalan balik buat ganti ini gelas" ujarku.
"pokoknya saya nggak mau tau, kamu ikut saya sekarang"
"ya sudah.. ayo cepetan dimana bosnya kamu" kataku tak mau ribet dengan hal ini.
__ADS_1