Suara Air Mata

Suara Air Mata
Berbunga-bunga


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang sangat berkesan dalam hidupku. Ardian mengantarkanku ke rumah sepulangnya kami dari sekolah, tapi sebelumnya Ardian mengajakku ke pusat perbelanjaan, ia membelikanku beberapa bahan untuk kerajinan yang akan ku jual. Awalnya aku sempat menolak pemberian dari laki-laki itu, tali ia terus memaksanya


"Ayolah Shel.. aku tau kamu butuh semua ini.. atau kamu anggap saja ini sebagai ganti rugi atas perbuatan Shinta dan teman-temannya siang tadi"


"tapi ian... masalah disekolah tadi itu udah aku ikhlasin kok.. kamu tidak perlu ganti rugi,kan kamu tidak salah"


"baiklah, kalau kamu tidak mau menerimanya,ini akan aku buang saja.. sangat disayangkan udah capek-capek beli tapi tidak diterima.. ya sudahlah" ujar Ardian bertingkah seperti orang yang hendak membuang barang ke dalam tong sampah depan rumahku.


"eiitts... Ian.. jngan dibuang" aku pun segera mengambil bahan kerajinan tersebut dari tangan Ardian.

__ADS_1


"nah gitu dong, sekarang kamu harus ajarin aku cara bikin kerajinan yang kamu buat" pinta Ardian padaku sambil mengambil sebuah kursi di ruang depan.


"tunggu sebentar, aku mau buatkan minum dulu. pasti kamu sudah sangat haus sekali" ujarku pada laki-laki itu.


"oke" jawab Ardian singkat. Beberapa saat kemudian setelah menyuguhkan minum untuk Ardian, kami pun membuat kerajinan bersama-sama. tampak raut bahagia di wajah laki-laki blasteran indonesia jerman itu. Usai mengerjakan kerajinan tangan, tak terasa hari sudah semakin sore. Ardian pun pamit ingin pulang ke rumah bu de nya yang letak rumahnya tak jauh dari rumahku.


*malam hari


Saat itu aku tengah membereskan tempat tidur.. 'huuuhhh' aku pun menghembuskan nafas agak keras. kemudian aku pun merebahkan badanku diatas kasur yang mulai mengeras itu 'seandainya saja ibu, bapak masih ada'. perlahan-lahan ku coba untuk memejamkan mata. Malam itu aku tinggal sendirian dirumah, sementara Ayu tengah menginap di rumah Bu Monic. Sengaja tak ku beri tau gadis kecil yang beranjak remaja itu tentang siapa orang tua kandung ia yang sebenarnya, karena aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang ku sayangi. biarlah untuk sementara keadaan seperti ini dulu. Suatu saat nanti jika sudah waktunya, Ayu akan mengetahuinya.

__ADS_1


Perlahan-lahan aku pejamkan mata ini. Dalam tidur, aku bermimpi ibu datang menghampiriku


'Anakku... maafkan ibu sudah membuat kalian jadi begini, ibu harap kelak kamu bertemu dengan kedua orang tua kandungmu. Dibelakang surat yang sudah ibu tuliskan untukmu, disana ibu juga menuliskan alamat orang tuamu yang sebenarnya nak' kemudian kabut asap tebal menyelimuti bayangan ibu,lalu ia menghilang.


"Ibu.... ibu.... jangan tinggalin Shella ibu... ibu...." Seketika aku bangun dari tidurku, dadaku terasa sesak. Cepat-cepat aku bangkit dan berjalan menuju kamar ibu. Kembali aku buka lembaran surat dalam kotak kayu yang terletak diatas sebuah meja kecil disudut ruangan itu. 'Nah..ini dia' ujarku sambil membolak balikkan surat tersebut, disana tertulis sebuah alamat


Jl. Perintis kemerdekaan no.32 Padang (1997) - Jl. Thamrin no.32A Jakarta Utara


"maksudnya apa? ini alamat siapa?" Aku pun merasa bingung dengan alamat yang tertera disurat tersebut. 'besok saja akan aku cari tau dimana alamat ini' kemudian aku merapikan tumpukan surat lainnya kedalam kotak kayu. Sementara surat yang ditulis ibu sengaja aku taruh dalam lemari dikamarku.

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa tekan tombol LIKE dan dukung novel ini agar penulis makin bersemangat dalam berkarya ...


terima kasih 😊


__ADS_2