Suara Air Mata

Suara Air Mata
Taman


__ADS_3

"iya bu, Shinta ini teman satu sekolah sama Shella sejak SMP bu" jawabku.


"kalau begitu bagus dong. Kalian bisa berteman" ujar bu tari.


"Tante... Shinta pengen keliling komplek apartement ini, Shinta pengen lihat suasana disini" kata Shinta.


"Boleh nak, tapi kalian pergi berdua saja ya.. soalnya tante sama mama kamu juga masih ada urusan" kata bu Tari.


"Shella, temani aku ya... " ujar perempuan bergaun merah tersebut padaku.


"tunggu sebentar Shinta, aku mau ke kamar dulu ambil ponsel" tambahku hendak melangkah menuju kamar, akan tetapi Shinta segera menarik tanganku seolah-olah memaksaku untuk segera keluar dari apartement.


"aaawww sakit.." teriakku karena Shinta menarik tanganku dengan kerasnya.


"Shella kamu kenapa nak?" tanya bu Tari yang mendengar teriakanku.

__ADS_1


"tidak apa-apa tante, Shella cuma kesandung dikit aja" jawab Shinta.


Sesampainya di taman yang terletak di samping apartement luxury, Tiba-tiba saja Shinta mendorong tubuhku. Hingga aku pun terjatuh.


"aduuuhhh... sakit.. Shinta kamu ini apa-apaan sih" teriakku yang mulai kesal dengan perlakuan yang diberikan oleh perempuan itu padaku.


"hahaha... itu belum seberapa dari rasa sakit yang gue rasakan" kata Shinta dengan arogannya.


"maksud kamu Shinta?"


"Shella... Shella... kenapa sih kita mesti ketemu lagi? oh iya mungkin Tuhan sayang kali sama gue. Dulu emang gue gagal buat hancurin hidup lo. Karena elo, nama gue jadi jelek di satu sekolahan. Gue juga gagal dapetin hatinya Ardian, dan dia juga ikut ikutan ngejauhin gue. itu semua karena elo. Dan sekarang, gue nggak akan biarin perempuan miskin dan murahan seperti elo hidup tenang, gue akan bongkar semua kebusukan elo di depan keluarga Pratama, yang selama ini elo tipu dengan tampang polos lo itu Shella" kata Shinta dengan penuh amarah, Lalu ia pergi meninggalkanku.


Sesampainya di dalam apartement, aku melihat Shinta tengah menangis dalam pelukan ibunya.


"kamu kenapa Shinta" tanyaku heran.

__ADS_1


"Shella apa yang sudah kamu lakukan terhadap anak saya?" kata bu Kartika dengan tatapan yang tajam padaku.


"maksud ibu? Shella tidak mengerti" jawabku.


"jangan pura - pura tidak tahu deh kamu, lihat kaki anak saya sampai berdarah begini karena ulah kamu" ujar bu Kartika yang semakin emosi melihat kedatanganku.


Terdengar suara Shinta yang merintih kesakitan saat bu Kratika tengah mengobati luka di kaki anak semata wayangnya itu.


"maaf Kartika, anda jangan asal menuduh anak saya begitu" timpal bu Tari yang segera menghampiriku.


"jeng Tari... saya tidak menuduh dia. dan apa anda bilang? anak anda? maaf jeng, saya sudah tau asal usul anak ini dari dulu.. Jeng jangan percaya, dia ini munafik, tampang dia aja yang polos tapi kelakuannya... menjijikkan" tambah bu Kartika.


Aku tak tahan lagi mendengar penghinaan dari kedua ibu dan anak itu padaku.


"beneran bu, sumpah.. Shella tidak pernah berbuat jahat sama Shinta" ujarku.

__ADS_1


"Bohong, Shella selama ini aku kurang baik apa sama kamu? tega-teganya kamu mendorongku saat ditaman tadi. Dan sekarang kamu lihat akibat perbuatanmu? kaki ku sampai lecet begini" timpal Shinta dengan wajah pura-pura sedih dan menangis.


"Shinta... kenapa kamu malah menuduh aku berbuat seperti itu? bukankah kamu yang mendorong aku hingga terjatuh saat ditaman tadi?" jawabku.


__ADS_2