Suara Air Mata

Suara Air Mata
Pamit


__ADS_3

"Ada hal penting yang akan kakak sampaikan sama mami Cathlin dan kamu Lia" ujarku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan kami.


"hal penting apa kak?" tanya Thalia.


"nanti saja kakak jelaskan Lia, setelah jam pelajaran selesai" timpalku.


Sementara itu Ardian terlihat mondar-mandir di sekitar ruang keluarga yang saat ini kami pergunakan untuk belajar. Tiba-tiba saja ponselku berdering 'pasti ini pesan dari kak Hendrick'. Lalu aku cek pesan masuk diponsel tersebut, rupanya hanya sebuah sms dari operator.


"wah.. kak Shella sekarang sudah beli handphone bru ya.... boleh minta nomernya dong kak" desak Thalia.


"bukan Lia, ini cuma ponsel pemberian dari seseorang saja" ujarku.


"pemberian dari siapa kak? pasti orang itu baik banget sama kakak... beruntungnya jadi kak Shella" kata Thalia dengan polosnya, aku hanya tersenyum mendengar celotehan gadis kelas 3 SMP itu. Saat kami bertukar nomer ponsel datanglah mami Cathlin.


"wah wah waaahhh anak perempuan mami, dua-duanya sedang ngerumpiin apa hayo? apa kalian sudah selesai belajarnya? Thalia? Shella bagaimana hasil belajar anak mami yang bandel satu ini?" tanya wanita itu padaku.


"Alhamdulillah,sudah banyak kemajuannya Mami. Sebenarnya Thalia ini anak yang pintar, selama mengajari ia, Shella tidak terlalu sulit memberikan materi.. " jawabku.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, oh iya minggu depan mami akan mengadakan acara, Shella jangan lupa datang ya.." tambah wanita 43 tahun itu.


"Tapi Mami... maaf sebelumnya.. Shella tidak bisa hadir untuk acara tersebut mi"


"lho.. kenapa Shella"


"mmm... begini mami.. berhubung Shella pernah mendapatkan beasiswa kuliah di universitas di jakarta, jadi kemarin Shella diberitahu oleh pihak sekolah kalau minggu depan adalah jadwal keberangkatan kesana mi" tuturku menjelaskan.


"What? kakak mau pindah? terus yang ngajari Thalia siapa mi?" timpal Thalia yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara aku dan mami Cathlin.


"Shella... jangan tinggalkan aku... aku tau aku bersalah, jadi aku mohon jangan pergi" ujar Ardian dengam wajah sedih.


"yeeeee... kak Ardian lebay.... " ejek Thalia pada saudaranya yang satu itu. Sementara mami Cathlin terlihat sedang mengusap air matanya yang sempat menetes. karena bagi beliau ia sudah menganggap aku sebagai anaknya sendiri.


"Sudah.. sudah.. Shella kan hanya pergi untuk menuntut ilmu, supaya jadi orang sukses, seharusnya kalian bangga kenal dengan orang seperti Shella"


"ah.. mami bisa saja" kataku.

__ADS_1


"Shella, maafkan aku soal yang kemarin, gara-gara aku.. kamu jadi kena masalah di toko buku"


"tidak apa-apa kok ian, sudah aku maafkan" jawabku sembari tersenyum.


"Sebelum keberangkatan Shella minggu depan, bagaimana kalau besok kita adakan acara syukuran dirumahnya Shella?" usul mami Cathlin.


"SETUJU" ujar Thalia dan Ardian serentak.


Beberapa menit kemudian, masuklah bi Ijah asisten rumah tangga mami Cathlin, beliau memberitahu kalau di depan sudah ada tamu om Anton dari jakarta. lalu mami Cathlin segera menuju ruang tamu, sementara aku berhubung karena jadwal les privat hari itu telah usai, aku sekalian meminta izin untuk pulang ke rumah.


"maaf mami, Shella pamit pulang dulu ya mi"


"kenapa buru-buru sekali Shella?" tanya mami Cathlin


"saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dirumah mami, mau merangkai bunga plastik untuk pelanggan di toko" jelasku.


Diruang depan aku melihat ada seorang laki-laki seumuran om Anton dan seorang perempuan berkulit kuning langsat,mengenakan stelan kemeja pink dan celana coklat. Mereka menatapku, Aku hanya memberikan sebuah senyuman kepada mereka. kemudian aku pun segera berlalu meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2