
"memangnya kenapa Tari?" tambahnya
"entahlah Cath, aku merasa ada hal yang beda dengan anak itu. tadi saat Hendrick memijat kaki dia, aku juga melihat ada tanda merah di kakinya. saat aku tanya, dia bilang kalau itu tanda lahir. Tanda itu persis seperti tanda lahir anakku yang hilang, namira" kata bu Tari mulai terlihat sedih.
"yang sabar ya Tari, suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan anak kandungmu" ujar Cathlin.
"terima kasih Cathlin, kamu memang selalu ngertiin aku"
",oh iya, jadi rencananya kamu mau pesan yang mana nih?" ujar mami Cathlin melanjutkan pembahasan mereka yang sempat terhenti.
*Didalam kamar Thalia
Saat itu aku tengah beristirahat, entah kenapa rasanya hari ini aku sangat bahagia sekali. Selain mendapatkan kembali kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas di Jakarta, aku juga bahagia melihat perlakuan kak Hendrick terhadapku tadi. Ia terlihat sangat mencemaskan keadaanku, dan kenapa setiap dekat kak Hendrick aku selalu merasa nyaman walaupun terkadang laki-laki itu selalu membuatku kesal,terlebih lagi memanggil kau dengan sebutan 'hey perempuan menyebalkan'.
Beberapa saat aku melamun akan kejadian seharian tadi, tiba-tiba saja aku teringat akan surat yang ditulis ibu sebelum beliau pergi untuk selamanya. aku lihat kembali setiap huruf yang tertulis disurat itu.
"Tn. Pratama & Ny. Mentari"
__ADS_1
Andai saja aku bisa bertemu dengan orang tua kandungku, pasti kebahagiaan ini menjadi lengkap. Mata ku saat ini mulai terasa berat, hingga akhirnya akupun terlelap. Didalam tidurku, aku bermimpi lagi bertemu dengan ibu, kali ini ibu memakai baju serba putih tersenyum dan mengusap kepalaku.
"Shella anakku, temuilah orang tua kandungmu nak"
"ibu... ibu.. jangan tinggalkan Shella ibu..." teriakku.
"kak.. kak Shella.. bangun kak.. kak " ujar Thalia berusaha membangunkan aku.
"ibu..." teriakku, tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Sosok ibu di mimpi, begitu melekat dalam ingatanku.
"kak.. kak Shella tak kenapa-kenapa kak?" tanya Thalia.
"Awwww sakit" teriakku, aku baru sadar tenyata kakiku masih terasa nyeri karena insiden kecil tadi.
"kak Shella kenapa kak? biar Thalia saja yang ambilkan minumnya kak" pinta Thalia.
"tidak usah lia, kakak tidak kenapa kenapa kok.. kamu lanjut tidur saja" ujarku.
__ADS_1
Perlahan - lahan aku langkahkan kakiku keluar kamar lalu menuju ruang makan. Sesampainya disana, aku meraih sebuah gelas lalu menuangkan air kedalamnya. Kemudian aku meminum air tersebut.
Setelah badanku terasa segar kembali, perlahan lahan aku berjalan menuju kamar. Tiba-tiba saja aku teringat akan surat dari ibu yang ku pegang sebelum tidur tadi. aku mencarinya ke seluruh sisi tempat tidur tapi tak kutemukan.
"kak Shella cari apa kak?" tanya Thalia yang mungkin merasa tidurnya terganggu olehku.
"ah.. maaf Thalia kakak jadi mengganggu tidurmu... "
"tidak apa-apa kak, kakak cari apa? cari ini ya?" ujar Thalia sambil mengacungkan sebuah surat padaku.
"iya Lia, kenapa surat ini bisa ada sama kamu?" tanya ku
"ooh itu, tadi lia lihat surat ini jatuh di samping ranjang kak" jawab Thalia dengan polosnya.
"begitu. terima kasih Thalia" kataku.
"mmmm kak, maaf ya kak Thalia sudah lancang. tadi Thalia tidak sengaja telah membaca isi surat itu" tambah gadis itu dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"tidak apa-apa kok lia" kataku. Selama ini aku merahasiakan isi surat tersebut, termasuk dari kedua sahabatku. Tapi sekarang Thalia sudah mengetahuinya. Aku takut kalau sampai ia menceritakannya pada Mami Cathlin.