Suara Air Mata

Suara Air Mata
Menangis


__ADS_3

Suasana saat itu terasa mulai memanas, terlebih lagi Cici yang terlihat sangat kesal melihat Shinta terus menerus memegangi tangan Ardian, meskipun laki-laki itu berusaha hendak menjauhi Shinta.


"heh Shinta, kamu ngomong apa, jangan asal membuat berita yang tidak jelas kebenarannya ya" kata Ardian.


Eren saat itu hanya diam dan memelukku erat melihat keributan yang terjadi.


"Asal kalian tau ya, teman kalian ini bukanlah perempuan baik-baik, beberapa hari yang lalu gue liat dia berduaan dengan seorang laki-laki didalam rumah ini, mersraaaaaaaa banget.. hahaha" ujar Shinta menatapku dengan pandangan sinis.


" heh Mak Lampir, Jangan asal ngomong aja ya.. mana mungkin Shella berani mengajak laki-laki datang ke rumah ini..." timpal Eren yang mulai buka suara.


"nih... coba kalian lihat.. ini teman kalian yang sok polos ini kan" ujar Shinta sambil mengacungkan sebuah foto dimana saat itu aku tengah duduk disebuah kursi, sementara laki-laki itu tengah memegang kakiku.

__ADS_1


"astagfirullah, dari mana kamu dapat foto ini Shinta?" tanyaku.


"elu tidak perlu tau gue dapat foto ini dari mana, yang jelas... kalau sampai foto ini sampai ke tangan pihak sekolah.... tamat sudah riwayat elu.. ngerti.. rakyat miskin" tambah Shinta sambi melemparkan foto itu persis mengenai wajahku.


"Shela.. itu foto beneran kamu? kamu.... aaaarrrrrggghhh" Seketika Ardian pergi meninggalkan kami semua, ia berlari ke persimpangan jalan tempat ia memarkirkan mobil yang tak jauh dari rumahku.


"Ardian... tunggu.." teriak Cici. Apalah daya, Ardian telah memacu mobilnya sekencang mungkin lantaran kesal melihat fotoku dengan seorang laki-laki tanpa melihatnya dengan seksama terlebih dahulu.


"hahaha... Asal kalian tau ya para rakyat miskin, lebih dari itu bisa aku lakukan. satu hal, jangan pernah deketin my honey Ardian lagi.. karena sampai kapan pun kamu Shella putri amanda, wanita murahan.. tidak akan pernah selevel dengan keluarga kami.. mengerti... bye" timpal Shinta sambil menunjuk ke arahku, lalu ia pergi.


Seketika air mataku jatuh, badan ku terasa lemas. aku pun beranjak menuju kamar, dan menghempaskan tubuhku di atas ranjang. Saat itu yang terlintas dipikiranku kalau sampai foto itu diketahui pihak sekolah, rencana keberangkatan ku untuk melanjutkan study ke jakarta pasti dihapuskan. Itu berarti aku tidak bisa lagi mencari keberadaan orang tua kandungku.

__ADS_1


Kemudian datanglah Cici dan Eren, mereka membantu menenagkan hatiku. Saat itu yang aku butuhkan hanyalah dukungan dari seseorang.


"yang sabar ya Shella, jangan terlalu dihiraukan omongan mak lampir itu. kami percaya kamu pasti tidak melakukan hal yang dituduhkan dia sama kamu tadi" ujar Cici memelukku erat, kemudian diikuti Eren.


"Ci, Ren.. saat ini aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kalian di dunia ini. Kalau sampai benar Shinta memberitahu pihak sekolah tentang foto itu... maka aku tidak bisa lagi bertemu dengan kedua orang tuaku" Kataku sambil terus menangis.


Cici dan Eren merasa heran dengan ucapanku.


"Orang tua? mmm.. maaf Shella bukankah orang tuamu sudah tiada lagi" tanya Eren dengan nada pelan.


Kemudian aku menceritakan kejadian yang aku alami selama ini, setelah ibu meninggal, isi surat peninggalan ibu termasuk siapa sebenarnya laki-laki yang ada di foto tersebut.

__ADS_1


__ADS_2