Suara Air Mata

Suara Air Mata
Ruangan BEM


__ADS_3

Kak Vera dan rekan -rekannya mulai mengintrogasiku dengan berbagai pertanyaan, dan bahkan ada salah satu senior yang membentakku. Sementara itu Shinta hanya di tanyai tentang bagaimana ia bisa mengetahui bagaimana aku dan foto yang telah beredar luas itu.


"Saya mendapatkan foto-foto menjijikkan itu dari memory card ini kak Vera" Ujar Shinta sambil tersenyum dan memperlihatkan sebuah memory card pada kami.


"Kalau kakak tidak percaya, silahkan kakak lihat isi memory card ini ada banyak sekali foto-foto memalukan dari si perempuan miskin dan ups.. murahan ini" tambahnya sambil memberikan memory card tersebut pada kak Vera.


Hal itu membuatku sangat kaget, memory card apa? bagaimana Shinta bisa mendapatkan foto aku dengan kak Hendrick?


Usai memeriksa memory card tersebut, kak Vera pun tersenyum.


"Teman-teman, sebaiknya kasus ini segera kita limpahkan ke pihak kampus saja" Kata kak Vera.


"Lebih baik seperti itu Ver, menurut aku hal ini sudah sangat memalukan Kampus kita" tambah salah satu senior lainnya.

__ADS_1


Kemudian mereka mengajak kami untuk bertemu dengan ketua jurusan Hukum serta Rektor kampus universitas Jakarta. Rasa sedih, penasaran dan bimbang bercampur aduk di pikiranku, aku merasa bahwa apa yang dikatakan kak Vera kemarin hanyalah sebuah jebakan. 'Ya Allah, kuatkanlah aku dalam menghadapi semua ini, Jauhkanlah aku dari fitnah ini ya Allah' rintihku di dalam hati.


Setibanya di ruangan ketua jurusan Hukum, Kak Vera menyuruh kami menunggu didepan. Sementara itu ia melangkah masuk ke dalam untuk berbicara dengan pihak kampus.


Tak berapa lama kemudian kak Vera pun keluar dan ia meminta kami segera masuk. Saat hendak melangkah ke ruangan tersebut, tiba-tiba datanglah kak Hendrick dan Andrew.


"Tunggu" seru Hendrick berlari ke arah kami.


"Kebetulan sekali kamu datang kesini Hendrick" ujar kak Vera.


"Nanti saja di dalam kita bicarakan" kata kak Vera segera masuk ke rungan tersebut. Sementara itu aku hanya tertunduk malu, aku tidak tau lagi harus berbuat apa, kenapa Shinta tega sekali berbuat seperti ini padaku.


"Baiklah.. ayo Ndrew" ajak kak Hendrick pada temannya itu.

__ADS_1


Aku dan Shinta pun terkejut mendengar perkataan kak Hendrick yang mengajak kak Andrew, bukankah belakangan ini mereka kurang akur?.


Didalam ruangan tersebut aku dihujani beberapa pertanyaan dari pihak kampus, berbeda dengan Shinta. ia hanya ditanya tentang foto yang sengaja ia sebarkan itu.


Empat jam lamanya aku diberi pertanyaan dan disuruh untuk mengakui perbuatan yang tak pernah aku lakukan itu. Dunia seakan-akan berubah menjadi gelap bagiku, ditambah lagi dengan kedatangan orang tuanya Shinta yang juga ikut serta membenarkan pernyataan dari anak mereka. Sementara itu kak Hendrick berusaha untuk membelaku, akan tetapi hal itu selalu di cegat oleh kak Vera.


Rasanya aku kali ini tak berdaya, aku merasa putus asa. Fitnahan dari Shinta membuat masa depanku jadi suram.


"Mohon maaf bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian... sebaiknya kita tidak perlu mendesak Shella seperti ini. Bagaimana pun juga dia adalah salah satu mahasiswa undangan berprestasi dikampus kita. Salah satu jalan tengahnya kita harus mengambil keputusan akhir bagaimana kelanjutan kasus ini" Ujar Prof.Khaliq selaku Rektor Universitas Jakarta.


"Betul pak, sebaiknya hak beasiswa anak ini dihapus saja, karena sudah meresahkan dan mencemarkan nama kampus ini" tambah pak Zein, papanya Shinta.


"****** kau" Bisik Shinta padaku.

__ADS_1


"Tunggu dulu pak, ada satu hal lagi yang harus sama-sama kita ketahui, saya akan membeberkan beberapa fakta tentang foto-foto yang sudah terlanjur beredar luas ini" Timpal kak Vera yang membuat seisi ruangan itu kaget.


__ADS_2