
Mendengar ada keributan dari luar, membuat Hendrick merasa terganggu. ia segera keluar ruangan dan betapa terkejutnya ia melihat papi Anthony dan Amel berada disana.
"ada apa pagi- pagi sudah ribut?" kata Hendrick kesal.
"ah... sayang, ini si tua bangka ini masa seenaknya saja mengusir aku dari sini" ujar Amel segera bergelayut manja di tangan kekar kekasihnya itu.
"Hendrick, katakan siapa perempuan ini?" bentak papi Anthony yang sejak tadi memahan amarah.
"pa...papi... sejak kapan papi sampai disini?" tanya Hendrick kaget melihat keberadaan orang tuanya di perusahaan itu.
"jawab pertanyaan papi Hendrick, siapa perempuan ini?" desak pria itu mulai meradang
"mmm.. anu pa.. ini.. mmm.. ini"
"perkenalkan om, saya Amel, pacarnya Hendrick.. mmm maaf tadi saya bersikap kurang sopan sama om" timpal Amel hendak menjabat tangan papi Anthony.
"tidak usah banyak basa basi, sejak kapan kalian berhubungan?"
" sudah hampir satu tahun om" jawab Amel
"saya tidak tanya sama kamu!!, Hendrick apa benar yang dikatakan wanita ini?"
__ADS_1
"tidak pi, Amel ini hanya teman Hendrick" jawab Hendrick masih berusaha menutupi hubungan gelapnya dengan Amel.
"apa? honey, kenapa kamu bilang aku ini hanya teman kamu?" kata Amel kaget mendengar pengakuan Hendrick.
"Hendrick tolong jelaskan pada papi apa maksud semua ini?"
"pi..pi.. tolong pi, kita bicara di dalam saja.. Hendrick bakalan jelasin semuanya" kata Hendrick berusaha mengendalikan situasi.
"apa yang akan kamu jelaskan, Hendrick kamu sunggu telah membuat papi malu"
"pi.. maafkan Hendrick pi" pinta Hendrick memohon pada papinya.
PLAKK....
Sementara itu Amel dan Sesil hanya terdiam menyaksikan perseteruan antara ayah dan anak itu.
"Ingat Hendrick, kalau kamu masih berhubungan dengan wanita ini, papi akan cabut semua fasilitas yang telah papi berikan sama kamu" ancam Anthony segera pergi meninggalkan kantor Anthony Group.
Hari demi hari telah berlalu, sejak kedatangan Anthony ke perusahaan yang dikelola Hendrick. Pria paruh baya itu pun jatuh sakit.
Berulang kali Cathlin menghubungi anak sulungnya itu memberi kabar bahwa Papinya sakit, akan tetapi ia tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya Cathlin meminta Adrian yang saat itu juga tengah berada di Bandung bersama teman-temannya untuk menemui Hendrick.
__ADS_1
***
Apartement luxury
Kondisi Shella mulai stabil, bahkan ia juga telah diperbolehkan pulang oleh dokter Rudi. Sejak mengetahui sahabatnya masuk rumah sakit, Karina sealu setia menemani Shella, bahkan kedua orang tua Shella pun meminta Karina untuk tetap menemani putrinya di apartement.
"Shel, kamu itu kenapa sih? bengong aja" kata Karina membuat Shella sadar dari lamunannya.
"nggak kenapa napa kok Kar, oh iya gimana skripsi kamu? udah kelar belum?" tanya Shella.
"belum Shel, males ah... ngadepin dosen pembimbing yang killer, susahnya minta ampun"
"ya kamu... yang semangat dong, masa segitu aja udah nyerah"
"kamu sih enak Shel, punya otak pintar tinggal sret srettt... udah deh langsung lulus, lah aku... entahlah Shel, eh tapi aku pengen nanya sebenarnya kamu mikirin apa sih? soalnya aku perhatiin kamu sering ngelamun.. kamu mikirin apa hayo... "
"udah lah ah Kar, aku ngantuk, mau istirahat dulu" jawab Shella sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"ya udah kalau kamu nggak mau cerita, aku mau keluar sebentar ya, mau nonton drakor terbaru.. hihi.."
"ehmm.." jawab Shella yang masih berusaha menutupi pengkhianatan yang dilakukan Hendrick terhadapnya.
__ADS_1
Ia masih bimbang, apa yang harus ia lakukan. Batinnya menolak keras untuk melanjutkan hubungannya dengan pria itu, sebaliknya ia juga tidak tega menghancurkan harapan kedua orang tuanya yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan acara pernikahan mereka.
Tak terasa air mata pun telah membasahi pipi gadis itu.