Suara Air Mata

Suara Air Mata
Si Penelpon


__ADS_3

Suasana pagi hari di rumah mami Cathlin terasa sejuk dan asri dibandingkan dengan rumah rumah warga disekitarnya. Di Halaman depan rumah itu terdapat sebuah taman yang dipenuhi oleh beraneka ragam bunga nan cantik, disampingnya juga terdapat sebuah kolam ikan. Saat itu mami Cathlin mengajakku duduk di kursi yang sengaja di taruh didekat taman.


"Shella, mami salut sama kamu... wanita mandiri, dan berprestasi. Suatu saat jika kamu menikah, pasti keluarga suami kamu bangga punya menantu seperti kamu" ujar mami Cathlin sambil menyeruput secangkir teh hangat yang sebelumnya sudah disiapkan bi Mirna.


"ah mami bisa aja, Shella biasa-biasa aja kok mi, kalau soal menikah belum ada pikiran Shella kesana lagi mi, yang jelas sekarang Shella ingin fokus untuk melanjutkan pendidikan "


"hehehe... mami bercanda kok nak... ngomong-ngomong jam berapa jadwal keberangkatan kamu hari ini nak?"


"jam 10.15 mi.."


"berarti masih ada waktu sekitaran 3 jam lagi, sebaiknya kamu sarapan dulu setelah itu mami antarkan ke bandara"


"baik mi"


Lalu aku beranjak ke dalam rumah, segera menuju kamar mandi dan membersihkan badan. Kemudian aku sarapan bersama keluarga besar Anthoni. Setelah sarapan aku bersiap-siap mengganti pakaianku dengan seragam khusus dari pihak sekolah, Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda panggilan masuk.


"hallo". terdengar suara laki-laki dari seberang sana.


"ya hallo, ini siapa?" tanyaku.


"Ini Shella kan?"

__ADS_1


"ini aku Andrew, apa kamu masih ingat?"


"Andrew? kamu dapat nomor ini dari mana?"


Rupanya kak Hendrick sudah berdiri di belakangku.


'aduuhh kenapa sih manusia aneh ini selalu muncul secara tiba-tiba' gumamku dalam hati.


"siapa itu?" tanya Hendrick dengan raut wajah marah.


"mmm.. anu .. ini.. entahlah" jawabku linglung karena baru kali ini aku melihat wajah kak Hendrick marah seperti ini.


"berikan sini ponsel itu" seru Hendrick.


"heh... siapapun kamu, jangan sekali kali hubungi nomer ini" ancam Hendrick


" lho memangnya kenapa?"


"jangan banyak tanya, jangan suka ganggu istri orang, mengerti" kemudian Hendrick mematikan telpon tersebut, lalu memasukkan nomor itu kedalam kontak blacklist.


"apa kamu bilang? istri orang, yang benar saja" seruku karena kesal mendengar ucapan kak Hendrick pada si penelpon tadi.

__ADS_1


"terserah aku mau bilang apa, aku memberikan ponsel ini supaya kamu bisa berkomunikasi dengan teman dan gurumu, bukan untuk laki-laki lain, mangerti" tambah Hendrick dengan nada mengancam.


Disaat yang bersamaan masuklah Thalia.


"kak Hendrick, ngapain kakak masuk kesini.. ini kan kamar cewek" gerutu Thalia kesal.


"diam kamu, awas kamu bilang sama mami" ujar Hendrick sambil berlalu keluar kamar.


"kak Shella nggak kenapa-kenapa kan kak?" tanya gadis itu padaku.


"kakak tidak apa-apa kok lia" jawabku.


"ayo kak, mami sudah nungguin tuh di luar. Thalia juga ikut pergi nganterin kakak ke bandara"


" kamu nggak sekolah hari ini lia"


"enggak kak, sekarang kan sudah ada program school full day, jadi setiap hari sabtu dan minggu, kami libur".


"baiklah, ayo kita berangkat" ajakku pada Thalia.


"oke kak... biar Thalia bantu bawa tas yg ini saja kak"

__ADS_1


kemudian kami melangkah menuju depan runah dimana Mami Cathlin tengah menunggu bersama supir pribadinya di mobil. Setelah itu kami berangkat menuju bandara yang jaraknya sekitar 20 menit dari rumah mami Cathlin.


Sesampainya di bandara ternyata kedua sahabatku cici dan eren juga sudah menunggu disana bersama beberapa orang guru dan murid yang menerima beasiswa lainnya.


__ADS_2