
*Dirumah keluarga Antoni & Cathlin
Saat itu keluarga itu tengah makan malam bersama, dimana Mami Cathlin dan suaminya, Thalia dan Hendrick sedang menikmati chincken katsu buatan Bi mirah yang jadi favorite keluarga itu.
"Mi, Kak Ardian mana? kok jam segini belum pulang mi?" tanya Thalia.
"entahlah, tadinya sih dia bilang kalau ada urusan" jawab mami Cathlin.
"palingan dia nongkrong sam teman se genknya di basecamp mi" timpal Hendrick.
"teman se genk? gerombolan anak anak nakal yang suka balapan liar dijalanan itu hendrick?" tanya papi Antoni.
"sepertinya begitu pi, biasanya anak itu akhir akhir ini selalu ngumpul bareng sama mereka" tambah Hendrick.
"anak kurang ajar, sudah berapa kali papi ingatkan. jangan main sama anak berandalan itu lagi, nanti kalau kecelakaan siapa yang akan bertanggung jawab" seru papi Antoni mulai emosi.
"sudah pa, kita positif thinking aja, jangan mikir yang enggak enggak. Ardian itu sudah mulai dewasa" ujar mami Cathlin.
"kamu ini selalu saja membela anak itu" seru papi Antoni sambil menghentikan makannya dan beranjak dari meja makan.
__ADS_1
"papi.. papi mau kemana? habiskan makanannya dulu pi" ujar mami Cathlin menyusul suaminya itu.
"saya sudah tidak nafsu makan lagi" kata pria paruh baya itu.
"kak Hendrick sih.. bilang yang enggak-enggak.. liat tuh papi jadi pergi" bisik Thalia pada Hendrick.
"mana kakak tau, kan kamu yang mulai duluan" jawab Hendrick sambil terus mengunyah makanannya.
Usai makan malam yang berakhir dengan sebuah keributan kecil itu, Thalia dan Hendrick masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Hendrick menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang super empuk itu. Lalu ia mengambil sebuah foto di atas meja dan menatap foto tersebut sambil senyum-senyum sendiri.
"Shella... kalau dilihat-lihat kamu cantik juga ya, tapi kamu itu menyebalkan" gumam pemuda itu memejamkan mata dan memeluk foto Shella yang sengaja diambilnya diam-diam sewaktu gadis itu menginap dirumah keluarga Antoni.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara gaduh dari luar kamarnya.
Tok tok tok...
"kak Hendrick... kak Hendrick ayo bangun" teriak Thalia dari depan pintu kamar.
__ADS_1
"ada apa lia? kakak ngantuk nih" ujar Hendrick dengan mata yang masih terasa berat.
"ayo keluar cepetan kak... kak Hendrick.. kak Ardian.. buruan"
"Ardian kenapa? kenapa lagi anak itu?"
"ayo buruan kak... " tambah Thalia.
"iya iya sebentar.." seru Hendrick yang memaksakan membuka matanya untuk bangun dan melangkah keluar kamar. Kemudian kedua kakak beradik itu segera menuju ruang tamu.
Disana terlihat papi, mami, Shinta dan Ardian dengan luka yang sudah diperban di tangan dan kaki kanannya,
"kamu kenapa nak? kenapa bisa sampai begini?" tanya mami Cathlin yang menagis histeris melihat keadaan putranya itu.
"inilah akibat kamu selalu menantang perkataan papi" seru papi Antoni.
Hendrick yang sejak tadi menyaksikan percakapan di antara kedua orang tuanya dan Ardian yang menahan kesakitan karena luka yang lumayan parah di tangan dan kakinya itu. kemudian ia menatap tajam kearah Shinta.
"Shinta, kamu kesini sebentar" kata Hendrick pada perempuan yang tengah duduk di dekat Adiknya itu. Lalu Shinta bangkit dan menghampiri Hendrick yang menunggu di depan rumah.
__ADS_1
"ada apa kak Hendrick?" tanya Shinta.
"kamu kan yang terus terusan mengajak Ardian untuk berkumpul dengan geng berandal itu?" ujar Hendrick dengan nada kesal.