Suara Air Mata

Suara Air Mata
Cafe


__ADS_3

"oh.. benar saja dari 15 pesan 8 diantaranya cuma pesan dari operator" gumamku, sambil terus melihat isi pesan selanjutnya dari Kak Hendrick.


*"hei perempuan yang disana bagaimana kabarmu?


-Hendrick"


"Hei wanita menjengkelkan, kenapa tak kau balas pesanku?


-Hendrick"


"dasar wanita sok sibuk, awas kamu ya kalau sampai ketemu


-Hendrick"


"ya sudah kalau kamu tidak mau jawab, maaf telah menggangu waktumu. Good Night


-Hendrick"


"bagaimana tidurmu semalam anak desa?


-Hendrick"


"kalau tidak kamu balas kamu akan menyesal


-Hendrick"

__ADS_1


"apa susahnya sih angkat telponku sebentar


-Hendrick"


"sekali lagi kalau kamu abaikan pesanku, habislah kamu


-Hendrick"*


Aku jadi senyum-senyum sendiri membaca pesan dari laki-laki itu, rasanya seperti sudah lama tidak bertemu.


"jangan mikir yang macem-macem Shella... ingat dia itu manusia yang paling menyebalkan sesudah adiknya, Ardian." gumamku.


Tiba-tiba saja Eren sudah berdiri dihadapanku.


"kamu mau kemana Shella?" tanya Eren.


"bukannya kamu katanya kemarin sudah mengundurkan diri ya sama mami cathlin?" ujar Eren.


"oh iya.. aku sampai lupa, kemarin adalah hari terakhirku mengajar disana" ujarku kembali menaruh buku tersebut ke atas meja.


"kamu sih... sudah tau ini hari libur, masih saja mikirin pekerjaan" gerutu Eren.


Setelah itu aku kembali mengganti pakaianku dengan pakaian harian. Sementara itu Eren tengah membangunkan Cici, kemudian mereka mandi secara bergantian.


Pukul 11.15 WIB

__ADS_1


Sengaja siang itu kami pergi ke pusat perbelanjaan, menumpangi sebuah angkot kami pun menuju pusat perbelanjaan kota.


Terlihat disana ada beberapa orang penjual dan pembeli, suasana disana sangat ramai sekali. Aku merasa sangat bahagia, terakhir kesani waktu aku masih menduduki bangku SMP, bersama ibu membeli perlengkapan sekolah aku dan ayu. Setelah kepergian ibu aku tak pernah lagi berkunjung kesini.


Sengaja aku membeli beberapa lembar pakaian yang nanti akan ku kenakan saat kuliah esok. Tidak lupa beberapa cemilan sebagai tanda oleh-oleh dari kotaku, tempat dimana aku dibesarkan. Sementara Eren dan Cici, mereka tengah sibuk memilih beberapa accessories yang mereka sukai.


Setelah puas berbelanja, perut kami mulai terasa lapar. Kemudian Cici mengajak kami makan disebuah cafe Minang yang terkenal dengan cita rasa yang khas di kotaku. Cafe tersebut selalu ramai, bahkan saking ramainya pelayan di cafe tersebut sampai kewalahan melayani pelanggannya. Kami pun mengambil posisi duduk di meja depan kasir cafe tersebut.


"Uda, pesan nasi rendangnya tiga terus es tehnya dua dan lemon tea dingin satu" ujar Eren pada pelayan.


"Baik uni" jawab si pelayan.


Tak berapa lama kemudian pesanan kami pun sampai, dengan lincahnya pelayan tersebut menata hidangan yang kami pesan diatas meja berukuran 1x1,5 meter tersebut.


"Selamat menikmati hidangan kami uni-uni nan rancak kasadonyo" tutur si pelayan dengan ramahnya.


Tanpa ragu - ragu lagi kami pun segera menyantap dihadangan tersebut.


"hati-hati makannya Ci, nanti kamu keselek" kataku pada Cici, yang terlihat paling lahap makannya diantara kami bertiga.


"Selagi enak.. sikat terus Shel.. nikmat mana lagi yang engkau ingkari.." ujar Cici sambil terus mengunyah makanannya.


Saat sedang asyik menikmati makan siang itu, aku melihat ada Ardian bersama teman-temannya di meja ujung dekat pintu, ia juga melihatku, lalu ia seperti hendak beranjak dari tempat duduknya. Akan tetapi dihalangi oleh seorang perempuan disampingnya yang tak lain ialah Shinta.


Setelah selesai makan, pelayan cafe tersebut memberikan sebuah bill makanan pada kami.

__ADS_1


"tenang, makan kali ini biar aku yang bayarin" ujar cici sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Kemudian kami pun segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2